Sunday 26th June 2022,

Bagaimana Gus Dur mendistribusikan gagasannya (NU) ke jamaahnya?

Bagaimana Gus Dur mendistribusikan gagasannya (NU) ke jamaahnya?
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Kenapa NU harlah terus? Setehun harlah dua kali. Jangan bingung,  ini konsekwensi mengikuti dua “dunia”; dunia qomariyah dan dunia syamsiyah, dunia hijriah dan dunia masehi. Alasan kedua, ini salah satu konsekwensi NU sbg organisasi massa, dan besar. NU bukan majlis taklim atau yayasan yg bergerak ngurusi pendidikan satu atau dua lembaga tok, tapi massa. Ritual-ritual, seremoni-seremoni, acara-acara harus diselenggarakan sesering mungkin, biar makin banyak jamaah merasakannya. Istilah Kiai Said Aqil dulu, kalau kita ingin lapangan bolanya wangi, ya parfum yg disemprotkan bukan cuma satu botol kecil, tapi harus puluhan drum parfum.

Era Gus Dur kok tidak banyak upacara massal? Era beliau dulu, jangankan acara massal, mau pengajian sunatan saja harus lapor koramil. Bahkan ada cerita populer, ketika Kiai Haji Abdurrahman Wahid sbg ketum PBNU dicekal ngisi pengajian, beliau rela ganti nama. Ganti nama? Ya, nama beliau diganti Gus Dur.

Zaman Orba, NU mengenaskan. Dan yg paling kasihan para pemimpinnya. Sekarang enak, ada yutup dan lain2. Dulu sekuat tenaga agar gagasan2 NU menyebar secara luas. Gus Dur juga yg kena imbasnya, ambil tanggung jawab penuh, maklum karena pimpinan tertinggi. Gus Dur rajin nulis di koran dan majalah. Tp dia tidak puas, krn gak bs menjangkau warga NU. Akhirnya bikin tabloid (warta NU berdiri 1985), tp warga NU gak kuat langganan. Gus Dur sempat mati angin di awal2 jadi ketua PBNU. Akhirnya, mau tidak mau, Gus Dur makai cara kuno, yakni berceramah dari haul ke haul, dari haflah pesantren ke haflah pesantren, dari pengajian kawinan, dari pelantikan pcnu ke pelantikan pcnu, ari harlah ke harlah, dst. Dan di situlah saya sbg anak kampung pertama kali menyaksikan Gus Dur, di acar PCNU Cirebon, di kecamatan Sindang laut. Ada dampak negatif dari cara kuno ini. Apa?

Gus Dur makan malam terus. Pengajian banyak malam. Setelah pengajian pasti makan. Dan hampir dipastikan, ndas wedhus adalah santapan favorit. Dan pulang bawa berkat 😀

Begitulah salah satu perjuangan Gus Dur, sepanjang menjadi Ketua Umum PBNU. Gus Dur capek gak?

Ya capeklah. Ngawur aja gak capek. Gus Dur kelelahan, hanya nyenyak tidur saat di perjalanan, karena sampai rumah atau sampai kantor PBNU, tamu sudah antri, jadwal seminar sudah di mana2.

Hari ini kita menikmati perjuangan Gus Dur. Alfatihah..

Oleh: Gus Hamzah Sahal (Founder alif.id)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »