Wednesday 04th August 2021,

Begini Potensi Bencana di Indonesia, Bagaimana Menyikapinya?

Begini Potensi Bencana di Indonesia, Bagaimana Menyikapinya?
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Berbagai bencana menerpa bumi Nusantara awal tahun ini. dari tanah longsor, gempa bumi, banjir, hingga tragedi jatuhnya pesawat komersial Sriwijaya Air. Korban jiwa pun cukup banyak berjatuhan, termasuk kerugian materi yang harus ditanggung.

Wilayah Indonesia yang tergolong rawan bencana alam secara geografis merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Di bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera – Jawa – Nusa Tenggara – Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa.

Kondisi demikian sangat berpotensi sekaligus menyebabkan rawan terjadinya bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor. Selain itu, data juga menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat (Arnold, 1986).

Namun tidak hanya alasan itu saja yang menyebabkan banyaknya bencana alam dapat terjadi di suatu daerah. Selain bahaya alam (natural hazards), bahaya ulah manusia (man-made hazards) juga menurut United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR) dapat dikelompokkan menjadi bahaya geologi (geological hazards), bahaya hidrometeorologi (hydrometeorological hazards), bahaya biologi (biological hazards), bahaya teknologi (technological hazards) dan penurunan kualitas lingkungan (environmental degradation).

Selain hal tersebut, bahaya-bahaya itu juga melahirkan Kerentanan (vulnerability) yang tinggi dari masyarakat, infrastruktur serta elemen-elemen di dalam kota/kawasan yang berisiko bencana, serta Kapasitas yang rendah dari berbagai komponen di dalam masyarakat.

Berbagai data menunjukkan bahwa dengan wilayah yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik, Indonesia sering mengalami tsunami. Tsunami yang terjadi di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh gempa-gempa tektonik di sepanjang daerah subduksi dan daerah seismik aktif lainnya (Puspito, 1994). Selama kurun waktu 1600-2000 terdapat 105 kejadian tsunami yang 90 persen di antaranya disebabkan oleh gempa tektonik, 9 persen oleh letusan gunung berapi dan 1 persen oleh tanah longsor (Latief dkk, 2000). Wilayah pantai di Indonesia merupakan wilayah yang rawan terjadi bencana tsunami terutama pantai barat Sumatera, pantai selatan Pulau Jawa, pantai utara dan selatan pulau-pulau Nusa Tenggara, pulau-pulau di Maluku, pantai utara Irian Jaya dan hampir seluruh pantai di Sulawesi. Laut Maluku adalah daerah yang paling rawan tsunami. Dalam kurun waktu tahun 1600-2000, di daerah ini telah terjadi 32 tsunami yang 28 di antaranya diakibatkan oleh gempa bumi dan 4 oleh meletusnya gunung berapi di bawah laut.

Resiko diatas kini bertambah lagi dengan berkurangnya sumber daya hutan yang berakibat berkurang pula daya dukung alam dalam meredam bencana yang dapat terjadi. Tak dapat dipungkiri bahwa pembangunan yang bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam serta pengusahaan sumber daya mineral juga mengakibatkan kerusakan ekosistem yang secara fisik sering menyebabkan peningkatan risiko bencana.

Maka, perlu kiranya untuk segera dilakukan usaha penguatan ketahanan lingkungan yang dimulai dari pemerintah selaku pemegang kebijakan sehingga masyarakat lebih sadar akan pentingnya menjaga ekosistem. Mungkin dapat dengan melakukan sosialisasi juga program-program inspiratif agar masyarakat dapat tergerak untuk lebih bersahabat dengan alam. Tidak saja dalam jangka pendek, namun juga untuk generasi nanti. Hal ini adalah resiko tanggung jawab pemerintah yang tak dapat terelakkan dalam melaksanakan program-program pembangunan sekaligus mengeliminasi semaksimal mungkin bahaya masal yang mengancam masyarakat akibat pembangunan itu sendiri.

Pemahaman akan bahaya dampak lingkungan di tengah derasnya pembangunan dan perkembangan teknologi menjadi sangat mendesak untuk segera disampaikan secara luas pada masyarakat. Atau bisa saja dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dasar agar generasi mendatang kembali memiliki karakter ramah lingkungan sejak usia dini, seperti yang pernah dimiliki bangsa ini di masa lalu.

Penulis:Dadie W. Prasetyoadi

Sumber data: bnpb.go.id

 

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »