Monday 20th September 2021,

Dilema Pendidikan Dalam Social Distancing

Dilema Pendidikan Dalam Social Distancing
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Oleh: Zainul Arifin

Bagi sebagian orang berpendapat bahwa apalah gunanya belajar di sekolah atau Universitas jika tak menjamin kesuksesan. Hanya menghabiskan uang ratusan hingga puluhan juta rupiah. Bahkan ada orang sukses tanpa melalui lembaga pendidikan. Sebagian besar orang beranggapan bahwa kesuksesan seseorang di ukur dengan seberapa besar dia bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Semua hal di ukur dengan hasil dengan tanpa menghargai proses.

Selain itu, sebagai lulusan dari satuan pendidikan jika pengangguran akan lebih dihina dari pada mereka yang sama-sama pengangguran namun bukan lulusan atau alumni dari satuan pendidikan manapun. Seakan jika alumni dari lembaga pendidikan tertentu apalagi sudah menyandang status sarjana harus memiliki pekerjaan yang layak, mapan, berdasi, kerja di kantor, dan lain sebagianya. Jika sarjana bekerja atau melanjutkan usaha orang tuanya pun akan di jadikan buah bibir pula oleh kebanyakan orang. Mereka bilang “ngapain sekolah, dia saja yang sudah sarjanapun akhirnya Cuma bisa kerja gantikan ayahnya. Padahal ayahnya dulu tidak tamat SD”.  Itulah satu dari sekian problematika tentang pendidikan kita di masyarakat.

Adanya social distancing akibat covid 19 mengharuskan kita untuk mengurangi kegiatan di luar rumah, termasuk belajar mengajarpun harus dilakukan di rumah. Sekolah, Universitas, bahkan pesantren pun harus rela memulangkan santrinya lebih awal dan menunda semua ujian yang seharusnya sudah dilaksanakan termasuk Ujian Nasional yang mungkin sudah dipersiapkan oleh para siswa semester akhir dengan mengikuti bimbingan belajar, les, dan belajar kelompok jauh-jauh hari. Parahnya juga ada yang merasa menyesal telah mengikuti BIMBEL berbulan-bulan dan mengeluarkan uang dalam jumlah besar guna untuk LULUS UN hingga bisa masuk sekolah atau Universitas favorit.

Kegiatan belajar mengajar (KMB) akibat Pandemi Covid 19 menyulitkan, merepotkan dan lebih menyusahkan bagi semua pihak. Siswa merasa bosan belajar dengan system daring, e learning, dan segala bentuk pembelajaran online yang lain. Sampai mereka berkata “tidak enak pak belajar pakai system online, lebih banyak tugas. Belum masih banyaknya tugas yang disuruh orang tua ketika di rumah”. Guru atau dosenpun ikut bersuara, mulai dari kehabisan kuota, siswa yang tidak hadir tak bisa ditindak dan di nasehati, sampai suara keluhan siswa dan sejuta alasan-alasan lain ketika kegiatan KMB dilakukan dengan system daring. Orang tua siswapun ikut mengeluh, tentang susahnya menjaga anak, menemaninya belajar, sampai mereka bilang “lebih baik anak saya sekolah atau belajar di pesantren di bandingkan harus saya ajari sendiri di rumah”. Di samping itu, terdapat banyak keluhan pula dari berbagai pihak termasuk petugas kantin dan pedagang sekitar sekolah yang merasa bahwa pendapatan mereka berkurang bahkan tak berpenghasilan lantaran sekolah tak lagi di tempati siswa.

Islam telah mengajarkan kita tentang wajibnya mencari ilmu, keutamaan menatap wajah sang guru ketika belajar, dan keutamaan menuntut ilmu jauh dari tempat tinggal.

(Penulis adalah salah seorang jajaran Pengurus Cabang GP Ansor Buleleng, Bali)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »