Wednesday 21st April 2021,

Diskusi PMII Buleleng Bahas Dampak Pandemi Terhadap Nasib Pariwisata Bali

Diskusi PMII Buleleng Bahas Dampak Pandemi Terhadap Nasib Pariwisata Bali
Share it

ASWAJADEWATA.COM | BULELENG

Pengurus Cabang PMII Buleleng menggelar diskusi santai mengenai kondisi wisata di Bali khususnya di daerah Buleleng yang dilaksanakan di The Classic Coffee Jl. Hasanudin No. 11 Singaraja, Sabtu malam (26/12).

Dalam diskusi tersebut dihadiri oleh beberapa mahasiswa dan OKP di lingkungan Kabupaten Buleleng.

Adanya hari libur peringatan Natal dan menjelang Tahun Baru banyak wisatawan yang memilih liburannya ke Bali, baik wisatawan lokal hingga mancanegara. Namun adanya Pandemi Covid 19, aktifitas wisatawan mengalami penurunan yang sangat drastis. Banyak pegiat pariwisata mengalami penuruan pendapatan dari usaha pariwisatanya karena sepinya para pengunjung.

Hal ini disampaikan Made Gunaksa selaku pemateri dan selaku pegiat pariwisata. Dia menyampaikan bahwa dampak Covid 19 ini baru terasa sesudah tiga bulan berjalan.

“Pegiat pariwisata atau pemilik usaha pariwisata mengalami kehilangan pendapatan karena sepinya para pengunjung. Selain penurunan pendapatan dari wisata tersebut para pegiat wisatawan harus mengeluarkan biaya untuk perawatan dan gaji karyawan,” ujarnya.

Maka menurutnya, salah satu upaya yang dilakukan para pegiat pariwisata tersebut adalah melakukan optimalisasi keadaan pariwisata dengan di-rumahkan-nya para pekerja.

“Ini bertujuan untukMeminimalisir biaya operasional seperti perawatan gedung, biaya listrik bagi pemilik Villa maupun perhotelan,” terangnya lagi.

Senada dengan apa yang disampaikan oleh I Putu Gede Parma selaku ketua KNPI kabupaten Buleleng.

Gede Parma yang juga ahli kepariwisataan menyampaikan bahwa ada dua sisi sudut pandang dalam melihat pariwisata.

“Pertama, mengenai kesehatan. Pada masa Pandemi Covid 19 ini kesehatan menjadi prioritas pemerintah dalam mengurangi penyebaran Virus Corona. Kedua ekonomi, pendapatan di daerah Bali banyak dihasilkan oleh sektor pariwisata. Sedangkan para wisatawan yang ingin berlibur di Bali harus diwajibkan tes  Swab PCR dan Antigen sesuai dengan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 2021 tahun 2020 tentang pelaksanaan kegiatan masyarakat selama libur Hari Natal dan tahun Baru,” paparnya.

Hal ini mengakibatkan banyak para wisatawan memilih untuk membatalkan liburannya ke Bali karena biaya tes Swab PCR dan Antigen sangat mahal. Sehingga pembatalan tersebut banyak para pegiat pariwisata mengalami penurunan pendapatan yang akan berdampak pada karyawan. Mulai dari para pekerja dirumahkan, pengurangan jam kerja bahkan PHK.

Made Gunaksa juga menambahkan bahwa dari pihak pemerintah terus mendorong para pegiat pariwisata baik dari segi strategi pemasaraan hingga pendanaan.

Melalui diskusi ini, Ahmad Fanani selaku ketua PC PMII Buleleng berharap semoga bisa menjadi media dialog untuk mencari solusi dan titik temu antara pegiat pariwisata dengan pihak pemerintah untuk mempertahankan pariwisata, khususnya di Buleleng.

Penulis: PC PMII Buleleng
Editor: Dadie W. Prasetyoadi

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »