Tuesday 03rd August 2021,

Dukungan Umat Muslim Terhadap Perjuangan I Gusti Ngurah Rai di Bali

Dukungan Umat Muslim Terhadap Perjuangan I Gusti Ngurah Rai di Bali
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Dukungan Pasukan Dan Warga Muslim Terhadap Kolonel I Gusti Ngurah Rai Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan RI di Bali

Berbicara tentang perjuangan meraih dan mempertahankan kemerdekaan RI khususnya di wilayah pulau Bali, tentu tidak bisa dilepaskan dari sosok Pahlawan Nasional kita yang bernama Kolonel I Gusti Ngurah Rai atau Brigjen ( Anumerta ) I Gusti Ngurah Rai. Beliau diabadikan namanya dengan dianugerahi kehormatan yaitu dijadikan nama beliau sebagai nama Bandara Internasional di Bali dan juga salah satu sosok yang sempat dianugerahi kehormatan dengan dijadikan gambar dirinya pada uang rupiah pecahan lima puluh ribu-an edisi tahun 2001.

Kolonel I Gusti Ngurah Rai ini pernah diangkat menjadi komandan Resimen TKR (sekarang TNI) divisi Sunda Kecil yang meliputi wilayah Bali, Nusa Tenggara dan Timor dan diserahi tanggung jawab untuk mengamankan seluruh wilayah itu khususnya pulau Bali.

Perjuangan beliau di bidang militer tidak tanggung-tanggung, memang sengaja menamai pasukan khusus yang rupakan pasukan  inti-nya dengan  nama CIUNG WANARA. Pasukan ini dikenal sebagai pasukan “Berani Mati”. Oleh karena pasukan ini tidak pernah mengenal kata menyerah sebesar apapun kekuatan musuh dan secanggih apapun persenjataan pihak lawan.

Kata CIUNG artinya burung beo yang melambangkan kecerdikan atau kepintaran. Sedangkan kata WANARA berarti sosok yang menggambarkan Hanoman yang selalu berjuang membela setiap kebenaran apapun resikonya.

Meskipun pada akhirnya pasukan berani mati ini seluruh anggota dan komandannya terpaksa benar-benar gugur bersama dalam suatu peristiwa peperangan mati-matian atau habis habisan yang juga  dikenal dengan Perang “Puputan Margarana”.  Kata “Puputan” merupakan bahasa Bali yang berarti penghabisan sedangkan kata “Rana” berarti peperangan, dan Marga merupakan nama dari sebuah Desa yang terletak di Tabanan tempat peperangan terjadi.

Perang ini terjadi pada tanggal 20 November 1946 antara Pasukan Indonesia yang dipimpin Kolonel I Gusti Ngurah Rai melawan penjajah Belanda. Peperangan ini menewaskan sebanyak 96 anggota pasukan Ciung Wanara termasuk Komandannya I Gusti Ngurah Rai disebabkan karena kekuatan yang tidak seimbang baik personilnya maupun persenjataannya. Pihak Belanda terdiri dari sekitar 400 personil dengan persenjataan senapan mesin dengan serangan dari darat dan udara sedang kekuatan pasukan Ciung Wanara hanya terdiri dari 96 personil dengan persenjataan sederhana yang akhirnya mereka gurgur bersama sebagai pahlawan yang mana tentu nama mereka terukir dengan tinta emas dalam sejarah lerjuangan Bangsa Indonesia.

Selama masa perjuangan revolusi fisik yang cukup tergolong singkat, beliau banyak berhubungan dengan para pejuang dari Pulau Jawa terutama ketika beliau melanjutkan pendidikan militernya di Corps Opleiding Voor Reserve Officieren (CORO), di Magelang dan Pendidikan Artileri di Malang.

Demikian pula anggota pasukannya tentu banyak yang berasal dari TKR Induk di Jawa. Sehingga tidak mengherankan jika banyak anggota pasukan/tentara TKR di seluruh divisi khususnya yang ada di Bali justeru berasal dari Jawa yang beragama Islam. Hal ini bisa dibuktikan mana kala kita menengok sejumlah nama para pahlawan yang dimakamkan di TMP (Taman Makam Pahlawan) yang ada di Bali. Baik yang ada di Taman Makam Pahlawan Margarana Tabanan maupun pada TMP di kota-kota lainnya di Bali ternyata banyak nama-nama dari orang-orang Jawa Islam.

Tercatat bahwa ketika perang Puputan Margarana usai dan pihak musuh yang menang, maka pihak musuh kemudian menyisir kembali lokasi itu  untuk mengevakuasi jenazah pasukan musuh yang tewas. Ternyata di tempat itu mereka menemukan seorang anggota pasukan Ciung Wanara yang justru ketika itu masih hidup yang bernama WAGIMIN salah seorang anggota pasukan Ciung Wanara yang berasal dari Jawa Muslim. Namun sayang waktu itu Wagimin sebagai seorang pejuang kesatria sejati beliau tidak mau buka mulut untuk memberikan informasi kepada pihak musuh tentang keberadaan pasukannya yang lain. Pada akhirnya beliau pun ikut dihabisi oleh tentara musuh dengan cara ditembak mati di tempat itu juga dan menyusul temannya yang sejumlah 1.371 orang anggota TKR (Sekarang TNI) yang lebih dahulu tewas sebagai pahlawan dalam peristiwa perjuangan bersejarah itu.

Banyak catatan sejarah kegigihan pasukan pimpinan I Gusti Ngurah Rai dalam berjuang mempertahankan Kemerdekaan RI yang dibantu oleh pasukan muslim dari Jawa dan rakyat dari orang orang muslim di Bali. Misalnya di Jembrana sendiri I Gusti Ngurah Rai memang lebih dikenal oleh masyarakat muslim dan sangat dekat dengan rakyat. Di sana bersama rekannya yang bernama Mayor I Gusti Ngurah Sugianyar yang juga gugur bersamanya sebagai Pahlawan Nasional yang berasal dari Puri Pacekan Jembrana.

Bersambung di artikel “Masjid Pahlawan Jembrana, Saksi Bisu Perjuangan Rakyat Bali”

Oleh: Drs. H. Bagenda Ali, M.M/Penulis Buku AWAL MULA MUSLIM DI BALI

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »