Thursday 11th August 2022,

Literasi Digital Pelajar Nahdlatul Ulama

Literasi Digital Pelajar Nahdlatul Ulama
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Oleh: Rifqi Fauzi, S.Kom.

Untuk Investasi terciptanya Generasi Kader Digital Native yang berkualitas Sepuluh Tahun mendatang

Pengguna internet di Indonesia pada awal 2022 ini dilaporkan mencapai 210 juta jiwa. Dari jumlah ini, mayoritas pengguna mengakses internet lewat ponsel untuk membuka media social (Facebook, WhatsApp, Telegram, Line, Twitter, Instagram, YouTube).

Berdasarkan laporan APJII, total jumlah penduduk Indonesia saat ini diestimasikan mencapai 272,68 juta jiwa pada tahun 2021. Ini artinya, angka penetrasi internet di Indonesia pada periode 2021 hingga kuartal I-2022 ini mencapai 77,02% (APJII, 2022).

Survei yang dilakukan APJII juga melihat penetrasi internet di Indonesia berdasarkan umur pengguna yang disurvei. Dari kelompok pengguna usia 13-18 tahun, sebanyak 99,16% sudah mengenal dan terhubung dengan internet. Yang menarik, laporan APJII mengungkapkan, angka penetrasi internet anak-anak usia 5-12 tahun mencapai sebesar 62,43%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok usia 55 tahun ke atas yang sebanyak 51,73% (APJII, 2022).

Berdasarkan data survey APJII diatas dapat disimpukan bahwa kelompok pengguna internet terbesar adalah usia 13-18 tahun. Dimana usia tersebut adalah usia pelajar yang idealnya penggunaan internet bagi mereka adalah untuk mempermudah akses dalam mendapatkan Informasi.

Melihat fenomena penetrasi internet di Indonesia yang sangat masif maka tidak dapat lagi ditampikan bahwa ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap internet sangatlah tinggi. Termasuk dikalangan pelajar, dimana pandemi covid-19 membuat pelajar-pelajar di Indonesia harus menggunakan internet dalam pembelajaran sehari-hari.

Namun sayang percepatan arus telekomunikasi akan selalu membawa dampak negative dimana media informasi acapkali memberikan informasi-informasi yang tidak kredibel atau bahkan terkesan memberikan pembodohan bagi para pelajar. Tanpa terkecuali pelajar dikalangan Nahdlatul Ulama.

Maka dari itu untuk menjadi penangkal dari sisi negative penggunaan internet ialah meningkatkan kapasitas Pelajar NU dalam berliterasi digital.

Untuk Investasi terciptanya Generasi Kader Digital Native yang berkualitas Sepuluh Tahun mendatang Menurut Devri Suherdi dalam buku Peran Literasi Digital di Masa Pandemik (2021), literasi digital merupakan pengetahuan serta kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital, alat komunikasi, jaringan internet, dan sebagainya.

Sementara itu, Douglas A.J. Belshaw dalam tesisnya What is ‘Digital Literacy’? (2012) mengatakan bahwa ada delapan elemen esensial untuk mengembangkan literasi digital.

1. Kultural, yaitu pemahaman ragam konteks pengguna dunia digital.
2. Kognitif, yaitu daya pikir dalam menilai konten.
3. Konstruktif, yaitu reka cipta sesuatu yang ahli dan actual.
4. Komunikatif, yaitu memahami kinerja jejaring dan komunikasi di dunia digital.
5. Kepercayaan diri yang bertanggung jawab.
6. Kreatif, melakukan hal baru dengan cara baru.
7. Kritis dalam menyikapi konten literasi digital sebagai kecakapan hidup.
8. Bertanggung jawab secara sosial.

Elemen tersebut di atas merupakan elemen dasar dalam pengembangan literasi digital bagi Pelajar Nahdlatul Ulama.

Dengan dilakukannya digital literasi maka Pelajar NU dapat lebih memahami dan dapat mempunyai kemampuan dalam hal kognitif, komunikatif. Mempunyai kemampaun dalam kreativitas, mempunyai kepercayaan diri dan mempunyai sikap kritis dalam mengkonsumsi media sehingga terciptanya Pelajar NU yang dapat menghindari berita bohong dan fake, sehingga informasi yang diterima melalui media sosial dapat dipertanggungjawabkan sanadnya.

Sudah menjadi keharusan dimana keberlangsungan sebuah organisasi ditentukan oleh kapasitas dari sumber daya manusianya. Maka semakin berkualitas sumberdaya manusia dalam organisasi maka keberlangsungan organisasi tersebut semakin terjamin.

Literasi digital sangat dan bahkan harus dimiliki oleh setiap individu didalam organisasi IPNU dan IPPNU dimana arus perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat sudah sangat pasti akan berimbas kepada organisasi.

Dengan adanya peningkatan kapasitas sumber daya manusia di IPNU dan IPPNU dalam berliterasi digital, dapat menjadi sebuah investasi jangka panjang dimana sepuluh tahun kedepan Pelajar NU tidak akan tertinggal dan tergerus oleh perkembangan teknologi informasi. Kenapa harus sebagai investasi jangka panjang ? Hal tersebut dikarenakan langkah untuk merubah prilaku masyarakat sangatlah sulit.

Maka diperlukan hal-hal kecil yang dibiasakan dan berkelanjutan. Dengan harapan terciptanya sebuah langkah strategis dimana sepuluh tahun mendatang terciptanya Kader Digital Native Pelajar NU yang berkualitas.

Salah satu hal kongkrit yang dapat dilakukan adalah dengan melestarikan kitab-kitab klasik Nahdlatul Ulama kedalam bentuk Digital. Disamping itu dengan semakin giatnya kader-kader Pelajar NU tampil dimedia dalam rangkat memberikan konten edukatif yang sanad keilmuannya jelas menjadi sebuah investasi awal yang dikemudian hari akan memberikan manfaat yang sangat luar biasa bagi Organisasi IPNU dan IPPNU.

Jika hari ini ada yang bertanya kapan waktu terbaik untuk memulai berliterasi digital, jawabannya adalah sepuluh tahun yang lalu. Namun, sepuluh tahun yang akan dating jika ada yang bertanya kapan waktu terbaik untuk memulai berliterasi digital, maka jawabannya adalah hari ini.

(Penulis adalah Wakil Ketua 2 PC IPNU Jembrana)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »