Saturday 28th November 2020,

PCNU Kota Denpasar Hadirkan Tokoh Lintas Agama dalam Forum Dialog

PCNU Kota Denpasar Hadirkan Tokoh Lintas Agama dalam Forum Dialog
Share it

ASWAJADEWATA.COM – PCNU Kota Denpasar menyelenggarakan Dialog Lintas Agama dengan mengusung tema “Bersatu Mengelola Perbedaan Untuk  NKRI”, Minggu (29/9) di gedung PWNU Provinsi Bali, Jl Pura Demak II No. 31 Denpasar.

Acara dihadiri oleh Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet selaku Ketua FKUB Indonesia, Romo Paskalis Nyoman Widastra, SVD, M.Si sebagai Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Keuskupan Denpasar, dan Muhammad Taufiq Maulana, S. Sy. MH yang adalah Ketua LTN NU Bali.

Mengawali dialog malam itu, Ida Penglisngsir Agung Putra Sukahet menegaskan, “Bangsa Indonesia bertumpu pada kekuatan Religius-Nasionalisme. Oleh karena itu selain menjadi umat beragama yang baik, masyarakat Indonesia juga harus menjadi warga negara yang baik”.

Selain itu Ida pengelingsir memaparkan tiga faktor yang dapat memecah kerukunan Indonesia.

Satu, persaingan global yang menghegemoni negara-negara berkembang seperti Indonesia. Kedua, kelompok radikal yang menolak Pancasila. Ketiga, kelompok yang anti-pemerintah, dan keempat adanya gerakan separatisme. Sehingga disini peran NU sebagai harapan bangsa dan garda terdepan untuk menjadi penyelamat bangsa“, jelas tokoh dari Puri Bencingah Klungkung itu

Setelah itu, Romo Paskalis Nyoman Widastra, SVD, M.Si sebagai pembicara kedua mengatakan bahwa perbedaan yang ada di Indonesia memang rawan konflik.

“Indonesia tidak terlepas dari konflik, mengingat Indonesia tercipta dalam perbedaan yang memiliki keanekaragaman. Sehingga agama sebagai pemersatu bukan pemecah bangsa. Selain itu dimensi agama juga sebagai penjaga moral dalam menghadapi perubahan sosial”, tegasnya.

Selaras dengan kedua pembicara sebelumnya, Muhammad Taufiq Maulana, S.Sy, M.H. menyampaikan bahwa “Kunci mengelola kerukunan adalah memahami, menerima dan menjaga perbedaan.

“Caranya dengan melindungi, menghargai dan menghormati“, ujar ulama muda alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo  itu.

Lalu Taufiq Maulana yang biasa disapa Gus Tama menceritakan kisah riwayat Nabi Muhammad terkait akhlaknya dalam menyikapi perbedaan ketika di Madinah.

“Jika Rasulullah memiliki Piagam Madinah untuk menjaga dan menyatukan masyarakat Makkah dan Madinah. Maka Indonesia memiliki PBNU (Pancasila, Bhineka Tungga Ika, NKRI dan UUD 1945) untuk menjaga kerukunan dan multikultural”. “Toleransi itu seperti seseorang mencintai namun tidak memiliki, yaitu menghargai tapi tidak dapat ikut mengimani”, tutur Dosen STAI Denpasar itu.

Setelah pemaparan ketiga narasumber, acara dilanjutkan dengan sesi dialog yang berlangsung menarik. Beberapa pertanyaan dari sejumlah tokoh aktivis ormas tentang dalil keagamaan hingga situasi bangsa terkini menjadikan suasana layaknya diskusi antar teman. Hangat dan cair.

Menjawab satu pertanyaan hadirin tentang kesiapannya untuk membela pemerintah serta Presiden Jokowi, Ida Pengelingsir menegaskan bahwa dirinya selalu siap membela pemerintah. Ini dilakukan sebagai tugas setiap warga negara yang baik.

“Siapapun Presidennya, selama masih lurus dan menjalankan kepentingan rakyat banyak. Maka saya akan selalu siap membelanya walau nyawa sebagai taruhan”. tegasnya yang langsung disambut tepuk tangan seluruh peserta yang hadir.

Pada akhir sesi dialog, dilanjutkan dengan pembacaan Ikrar Kebangsaan  Lintas Agama bersama seluruh hadirin yang dipimpin oleh Ketua  FKUB Indonesia.

Sejumlah tokoh dari lintas organisasi seperti FPNKRI, PGN, dan Swastika Bali terlihat hadir ditengah-tengah para kader Banom dan Lembaga di lingkup Nahdlatul Ulama Bali yang antusias mengikuti jalannya acara hingga selesai.

Acara ini pun  ditutup dengan do’a oleh KH. Noor Hadi Al Hafidz selaku Rais Syuriah yang menyempatkan hadir malam itu.

Reporter: Imriatun Muhlisoh
Foto: Amin Akbarinsyah
Editor: Dadie W. Prasetyoadi

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »