Friday 04th December 2020,

Pendiri Vespa Literasi Probolinggo: Kadang Karena Kurang Tidur, Kita Tertidur Saat Ngelapak

Pendiri Vespa Literasi Probolinggo: Kadang Karena Kurang Tidur, Kita Tertidur Saat Ngelapak
Share it

ASWAJADEWATA.COM – Sejak tanggal 27 Juli kemarin, ramai pemberitaan penyitaan buku oleh aparat kepolisian Probolinggo terhadap dua anggota Vespa Literasi karena buku-bukunya berbau komunis. Diantaranya: Dua Wajah Dipa Nusantara, Menempuh Jalan Rakyat, Dn Aidit Sebuah Biografi Ringkas, Sukarno, Marxisme dan Leninisme.

Kejadian tersebut mengundang respon dari tokoh-tokoh nasional dan kaum Intelektual. Najwa Shihab memberi pernyataan di akun Intstragramnya pada Jumat, 30 Juli 2019 menyayangkan sikap aparat kepolisian. Padahal menurutnya, tindakan pelarangan buku “Tidak sejalan dengan demokrasi yang menghargai perbedaan, kebebasan berpendapat dan menjauhkan kita dari amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” tulisnya.

Sejalan dengan Najwa, komentar juga datang dari Intelektual Muda, Muhammad Al-Fayyadl, Alumnus Filsafat Kontemporer dan Kritik Kebudayaan di Universite de Paris VIII, Prancis. Bahwa pelarangan membaca buku “tidak ada dasar pelarangannya,” kata Ra Fayyadl dikutip dari Time Indonesia, Selasa, (30/7).

Dilain sisi, terlepas perdebatan pelarangan buku berbau komunis seperti kejadian diatas, Aswajadewata.com melihat dari sisi yang lain, yakni tentang Vespa Literasi itu sendiri. Dari latarbelakang kehadirannya, perjuangannya, dan sebagainya. Oleh sebab Itu Aswajadewata.com mewancarai Zainul Hasan R, salah satu pendiri/inisiator komunitas Vespa Literasi.

           Zainul Hasan R, pendiri komunitas Vespa Literasi Probolinggo

Berikut petikan wawancaranya:

Sejak kapan Vespa Literasi berdiri?
“17-12-2017, mas.”

Apa tujuan Komunitas Vespa Literasi ini lahir?

“Berawal dari keinginan kita untuk mengisi lingkungan membaca di kampus mau pun masyarakat.”

Apakah pandangan teman-teman masyarakat dan mahasiswa probolinggo khususnya kurang minat baca?

“Kurang minat baca, iya. Setidaknya, mungkin dengan banyaknya buku dipajang bisa menarik mereka untuk membaca dan nongkrong. Dan kami lihat ada kekurangan minat baca, khususnya pemuda. Cenderung euforia, apalagi di alun-alun. Jika di kampus, mahasiswa jarang sekali duduk diskusi/baca buku di luar jam kuliah.”

Yang menarik, Vespa ini biasanya cendrung dikenal anak jalanan. Tapi Vespa Literasi berbeda dari kebiasaan. Bagaimana anda menjelaskan ini?

“Banyak yang menganggap kami dari komunitas vespa, tapi sebenarnya tidak. Kebetulan saja, Buku-buku diangkut pakai Vespa. Vespa Literasi bukan bagian dari klub Vespa. Sekali pun banyak kenalan kita dari komunitas Motor Vespa sendiri. Dengan Adanya Vespa Literasi yang memakai nama merek motor, telah menarik Klub-klub motor lainnya untuk mampir dan membaca di lapak kami. Jadi kegiatan teman-teman klub motor Vespa, CB, dan lainnya kadang juga ikut membantu kami.”

Apakah pengurus atau anggota Vespa Literasi Mahasiswa semua?

“Mahasiswa, Lulusan SMK (sekarang bertani), Sarjana ITN Malang (Sekarang bertani), Pemuda yang hanya sampai Semester III di Teknik (sekrang Nelayan), ada yang tidak sekolah.

Bisa diceritakan awal-awal pendirian komunitas ini?

“Awal-awal ngelapak di kampus kita diusir satpam. Lama-kelamaan mulai dibolehkan. Ketika ngelapak di alun-alun kita kadang hendak diusir Satpol PP, dimatikan lampu taman alun-alun hingga temen temen tidak bisa baca (untuk mengusir diam-diam). Kita pernah kena imbas gas air mata, gara-gara di alun-alun ada geng Motor main knalpot. Pernah juga motor mati karena kehabisan bensin karena tidak punya uang buat beli. Ketika ngelapak, seringkali kena hujan ketika musimnya. Kadang, karena kurang tidur, kita tertidur saat ngelapak. Dan buku-buku kadang juga jarang yang dikembalikan.”

Setelah kejadian kemarin, bagaimana rencana teman-teman kedepan?

“Kita akan lebih giat lagi mengampanyekan semangat literasi di kabupaten Probolinggo. Setidaknya, entah beberapa tahun ke depan, Probolinggo menjadi Jogjanya Jawa Timur. Kalau di Jawa Tengah ada Jogja, maka Jawa Timur punya Probolinggo,” pungkasnya.

(Wandi)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »