Thursday 13th June 2024,

PERTIWI Indonesia Bali Bedah Film “PUTU”, Putu Lengkong Juliartha Sebut Perbedaan Sebagai Warna

PERTIWI Indonesia Bali Bedah Film “PUTU”, Putu Lengkong Juliartha Sebut Perbedaan Sebagai Warna
Share it

ASWAJADEWATA.COM | 

Setelah soft launching 10 video pendek kampanye perdamaian pada tanggal 24 Maret 2022 oleh Wahid Foundation sebagai pemutaran perdana di plattform media YouTube, film berjudul PUTU produksi Aswaja Dewata yang termasuk salah satu dari 10 video tersebut diminta untuk dibedah sebagai bahan diskusi oleh organisasi Wanita PERTIWI Indonesia Bali.

Bedah film “PUTU” tersebut dilangsungkan pada Selasa (29/3) bertempat di Anima Resto & Lounge Legian, Kuta Badung.

M. Taufiq Maulana selaku Founder Aswaja Dewata sekaligus penulis naskah film “PUTU” dihadirkan sebagai narasumber bersama Putu Lengkong Juliartha sebagai pegiat budaya Bali.

Diawali dengan sambutan Ketua PERTIWI Indonesia Bali Ir. Hannah F. Siregar, acara kemudian dilanjutkan dengan menonton bersama film “PUTU”.

Anggota PERTIWI Indonesia Bali berfoto bersama setelah acara

Diskusi tentang nilai-nilai toleransi khususnya yang ada di Bali berlangsung menarik setelah semua yang hadir menyaksikan film berdurasi 6.55 menit tersebut. Acara diskusi siang itu dimoderatori oleh Erviera Lovienta Syahnaz, gadis lajang yang juga Putri Indonesia 2022 perwakilan provinsi Sumatera Barat.

Dalam diskusi, M. Taufiq Maulana menjelaskan bahwa film “PUTU” selain terinspirasi dari kehidupan keseharian masyarakat Bali yang plural, juga terinspirasi dari kisah kehidupan keluarga Nabi Muhammad Saw. sendiri.

“Dimana dalam keluarga Nabi Muhammad, terdapat anggota keluarganya yang non muslim yaitu pamannya sendiri yang bernama Abu Thalib,” terangnya.

Menurut Taufiq yang juga penulis buku Fikih Muslim Bali itu, dalam kisah disebutkan walau berbeda keyakinan dengan Nabi Muhammad keponakannya, kasih sayang Abu Thalib tidak berkurang sedikitpun, bahkan selalu mendukung setiap aktivitas dakwah yang dilakukan Nabi pada saat itu di kota Mekkah.

Selanjutnya Putu Lengkong Juliartha  yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Disperindag provinsi Bali mengungkapkan rasa salut dan apresiasi atas usaha semua pihak hingga film “PUTU” ini terealisasi.

“Visualisasinya sangat indah, dan sangat menggambarkan realita kehidupan masyarakat Bali terkait tenggang rasa dalam menyikapi setiap perbedaan yang ada,” ujarnya.

“Kalau tadi lihat dari sisi film, sangat menarik sekali, kita melihat scene yang diambil itu cakep banget. Kalau kita lihat, mata kita tadi tanpa sengaja diedukasi secara luas, kebetulan saya dalam keluarga tinggal lama di Denpasar dengan kondisi heterogen,” tambah dia.

Putu Lengkong mengatakan bahwa sebenarnya dirinya kurang setuju dengan kata perbedaan. Dia lebih suka menyebutnya sebagai warna.

“Sebab, setiap warna-warna itu akan menjadi semakin indah jika kita dapat memadukannya dengan tepat. Begitu pula dalam kehidupan interaksi sosial kita dengan sesama masyarakat,” jelasnya lagi.

Dirinya selaku Ketua Harian BEKRAF juga menceritakan bahwa setiap tahun badan tersebut membuat ratusan video-video terkait budaya yang ada di Bali seperti, dokumenter, cerita pendek, dan lainnya. Oleh karenanya, dia sangat senang dan siap mendukung jika Aswaja Dewata berencana untuk membuat video dengan tema-tema sejenis lagi.

Putu Sinta dan Elga, dua pemeran karakter dalam film “PUTU”

Selain paparan kedua nara sumber tadi, diskusi juga diisi dengan sharing pengalaman pribadi para hadirin yang semuanya adalah wanita terkait masalah-masalah intoleransi, serta bagaimana solusi dan sikap yang perlu diambil untuk menyelesaikannya. Sebagai pembelajaran bagi generasi nanti dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Penulis: Dadie W. Prasetyoadi

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »