Monday 16th May 2022,

Puisi “Manaqib Tongkat Syaikhona Kholil” D. Zawawi Imron

Puisi “Manaqib Tongkat Syaikhona Kholil” D. Zawawi Imron
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Sastrawan KH. D. Zawawi Imron membacakan manaqib tongkat Syaikhona Kholil di acara puncak Harlah ke-99 Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Syaikhona Moh. Kholil Bangkalan, Madura (17/02/22). Berikut ini adalah teks lengkap puisi manaqibnya.

Manaqib Tongkat Syaikhona Kholil

Bismillah tentang sebuah tongkat yang dikirimkan Syaikhona Kholil lewat Kiai As’ad Syamsul Arifin kepada Hadratussyakh Kiai Hasyim Asy’ari.

Tongkat yang bukan hanya sebuah tongkat tapi tongkat yang menyimpan amanah dan makna serta ijazah. Tongkat yang akan menjadi tanda dan tonggak pada zaman. Bahwa kegelapan yang gulita di bumi Nusantara membutuhkan iradah, gerak dan kebangkitan.

bahwa umat dan rakyat membutuhkan cahaya yang disuluhkan para ulama: suluh keadilan, suluh peradaban, suluh keberanian, dan suluh kemerdekaan. Lalu, tongkat Syaikhona kholil menandai kebangkitan para ulama.

maka pada tahun 1926, berdirilah Jamiyah Nahdlatul Ulama. Maka memancarlah cahaya ahlussunah wal jamaah di bumi Nusantara, Indonesia.
Kenapa bintang jumlahnya banyak tapi yang sembilan terang sekali. kenapa kita ikut ulama karena ulama ahli waris nabi.

orang madurapun ikut menyanyi, “anapah bintang mak benyak se sangak terak kakabbi, anapah kaule mak norok ulama, marghe ulama ahli waris nabi.”
Kegelapan di alam penjajahan disingkirkan dengan doa dan ketaqwaan maka catatlah dengan tinta madu sari bunga cempaka.

Setelah Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, Belanda datang lagi untuk menjajah dan mengkocar-kacirkan perjuangan kemerdekaan. Tongkat Syaikhona Kholil tegak kembali menjelma fatwa Resolusi Jihad yang dicanangkan Hadratussyakh Hasyim Asy’ari

bahwa angkat senjata mengusir penjajah adalah wajib hukumnya dan siapa yang gugur dalam perang kemerdekaan melawan Belanda adalah kusuma bangsa yang syahid di jalan Allah.

maka ketika Belanda menyerang Surabaya, kaum santri, tentara keamanan rakyat, para buruh, tukang becak, penjual sate, petani dan semua menyerbu ke medan perang untuk mengusir penjajah Belanda, si angkara murka. Surabaya banjir darah, Surabaya menjadi lautan api.

Dengan fatwa Resolusi Jihad, peluru musuh menjadi kecil, mitraliur menjadi kecil, tank-tank dan bom musuh menjadi kecil, bahkan mautpun dianggap kecil. Allahu Akbar, hanya allah yang Maha Besar, hanya Allah yang Maha Besar. Itulah hari sakti 10 November. Hari Pahlawan dan Surabaya menjadi kota pahlawan.

Malam ini kita menyongsong 100 tahun Nahdlatul Ulama. Kita sujudkan dahi ke bumi, kitab sujudkan hati kepada ilahi, kita kenang jasa Syaikhona Kholil, kita kenang jasa Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, kita kenang jasa Kiai Abdul Wahab Hasbullah, kita kenang jasa Kiai Bisri Syansuri, dan semua pahlawan yang namanya harum karena berjasa kepada bangsa dan tanah air. Hubbul wathon minal iman, cinta tanah air adalah sebagian dari iman.

Menutup pembacaan puisi manaqib tongkat Syaikhona Kholil tersebut, KH. D zawawi Imron sejenak mengajak hadirin untuk mengingat kembali akan diri kita sebagai bangsa Indonesia.

“Kanapa kita harus cinta kepada bangsa dan tanah air? Kita semua minum air Indonesia menjadi darah kita, kita makan beras, buah-buahan dan ikan Indonesia menjadi daging kita, kita meghirup udara Indonesia menajdi nafas kita, kita bersujud di atas bumi Indonesia berarti bumi Indonesia adalah sajadah kita.

dan bila tiba saatnya kita mati, kita semua akan tidur dalam pelukan bumi Indonesia. Daging kita yang hancur membusuk akan bersatu kembali dengan harumnya bumi Indonesia. Maka tidak alasan untuk tidak cinta kepada bangsa dan tanah air, tidak ada alasan untuk tidak cinta kepada Indonesia.

Tanah air Indonesia adalah ibunda kita. Siapa mencintainya jangan mengisinya dengan maksiat dan dosa, jangan mengisinya dengan fitnah dan permusuhan, jangan mengisinya dengan adu domba dan ucapan kebencian.

Tanah air Indonesia adalah sajadah kita. Siapa mencintainya harus menanaminya dengan benih-benih keimanan, benih-benih ketakwaan, kreativitas, kerja keras, dan kemajuan.Tanah air Indonesia adalah sajadah kita, tempat kita bersujud kepada Allah.

Alahamdulillah Indonesia, Subhanallah Indonesia, Masyaallah Indonesaia, Astaghfirullah Indonesia” tutup KH. D. Zawawi Imron dalam alunan nada yang lembut. (tebuireng.co)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »