Monday 18th October 2021,

Revolusi Peradaban Manusia Sedang Berlangsung

Revolusi Peradaban Manusia Sedang Berlangsung
Share it

ASWAJADEWATA.COM | 

Menjalani kebiaaan baru bukanlah hal yang mudah dilakukan bagi siapapun, terlebih jika kebiasaan lama dirasakan telah mendatangkan kenyamanan bagi dirinya.

Zona nyaman memang tidak serta merta didapat seseorang secara instan. Membangunnya dibutuhkan waktu dan usaha yang terkadang tidak mudah. Karenanya, ketika zona nyaman itu terancam untuk terenggut darinya, apakah itu dengan sengaja maupun didesak oleh kondisi keadaan, maka naluri mempertahankannya akan tumbuh kuat.

Begitu pula saat pandemi melanda negeri ini, masyarakat tidak bisa dengan mudah menerima tuntutan perubahan yang datang secara tiba-tiba. Penanganan pandemi yang telah diberlakukan negara-negara lain sebelumnya menjadi acuan pemerintah dalam membuat kebijakan publik demi melindungi warga masyarakat dari penyebaran virus ini. Termasuk diantaranya adalah pembiasaan pola hidup baru dan pembatasan interaksi terhadap satu dengan yang lain.

Budaya masyarakat Indonesia yang dibungkus erat oleh tradisi sangat menjunjung nilai-nilai kebersamaan dalam setiap aktifitas keseharian, baik dalam lingkungan terkecil sebagai keluarga hingga hubungan sosial antar kelompok masyarakat. Karena pola kebersamaan itulah yang menjadi kekuatan dalam merekatkan berbagai perbedaan yang menjadi unsur dasar bangsa ini.

Dalam situasi ini  pemerintah dituntut memiliki kemampuan komunikasi yang baik untuk dapat menyampaikan kebijakan yang sangat tidak populer, yaitu himbauan untuk membatasi interaksi sosial setiap individu, dimana itu harus dilakukan segera dengan resiko mudah terpapar virus jika tidak menaatinya. Karena seperti telah dilaporkan oleh para ahli bahwa karakter Covid-19 ini sangat unik. Dia sangat cepat menyebar dan tidak mudah terdeteksi, walaupun tidak tergolong sangat berbahaya, namun bisa berakibat fatal jika orang yang terinfeksi memiliki penyakit kronis dan dalam kondisi lemah, khususnya pada kalangan Lansia.

Awalnya keadaan itu pasti akan terasa menyiksa bagi kebanyakan orang disini, mereka harus menyesuaikan beberapa hal menjadi kebiasaan baru dan menghilangkan sementara kebiasaan lamanya, seperti bersalaman jika saling jumpa, cipika-cipiki, saling berpelukan antar keluarga, atau kegiatan-kegiatan bersama yang melibatkan banyak orang, misalnya kegiatan ibadah, atau sekedar rutinitas berkumpul dalam sebuah komunitas. Tidak hanya harus dikurangi, namun sebisanya dihindari sama sekali. Terlebih pada pasien yang dalam keadaan positif terinfeksi.

Sekilas cara pencegahan yang dilakukan terlihat sederhana, namun dampaknya sungguh luar biasa. Tidak saja mempengaruhi mental setiap orang, bahkan bagaimana cara pandang kita terhadap penderita COVID-19 terkadang juga salah. Menjadi pasien positif masih dipandang seperti aib yang harus dihindari dan dijauhi…sebuah kesalahan yang memunculkan rasa takut berlebihan dan mudah sekali melemahkan sistem antibodi alami manusia yang bertugas melawan virus dari dalam. Pertahanan alami yang dibuat oleh tubuh manusia itu selain tergantung dari asupan vitamin yang diterima tubuh, juga sangat ditentukan oleh kondisi psikologi seseorang.

Selain itu dampak sosial lain adalah ekonomi. Banyaknya kegiatan usaha yang terhenti akibat pandemi menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan. Akhirnya beban moneter negara meningkat dengan jangka waktu yang tidak pasti. Jelasnya, ini adalah ujian berat bagi semua dan harus diusahakan bersama-sama untuk dapat melewatinya.

Mungkin ada baiknya sembari bertahan dan berjuang untuk membuat kondisi kembali seperti semula, semua pihak berkaca diri dan melakukan introspeksi. Menyimak dan memperbaiki sesuatu yang berjalan tidak benar. Tidak perlu lagi mencari pelampiasan kesalahan atas apa yang sedang terjadi kepada pihak lain, walaupun tidak mustahil bahwa itu ada.

Memanfaatkan sisa energi yang ada untuk berikhtiar lahiriah sesuai anjuran para ahli menjadi opsi terbaik saat ini, tentunya disertai menundukkan hati dan kepala kita untuk selalu berserah diri atas segala kehendak Ilahi.

Walaupun manusia dapat berhasil melewatinya, semua ini tidak akan dapat kembali persis seperti semula. Pasti ada residu yang ditinggalkan dan mewarnai kehidupan baru yang tumbuh setelahnya.

Revolusi peradaban manusia itu saat ini sedang berlangsung.

Penulis: Dadie W. Prasetyoadi.

 

 

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »