ASWAJADEWATA.COM |
KIAI NAWAWI
K//
Kabar ketika matahari terbenam
Begitu ramai diperbincangkan
Ruangan dan halam merasakan duka mendalam
Dalam ingatan masih terakam
I//
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun
Kita telah kehilangan penuntun
A//
Alangkah tergesa-gesanya waktu menentukan perpisahan
Padahal kami belum puas merasakan damainya guyuran, beningnya aliran
Tentramnya pancaran, suburnya tanaman dan teduhnya kerindangan
I//
Ingin rasanya mencari jawaban
Mendengarkan petunjuk dan arahan
Memandang wajah yang mampu melepas keraguan dan kebuntuan
Semisal para santri yang duduk menyambut dengan ketakdiman
N//
Namun, takdir sudah datang begitu cepat
Mempertemukan kekasih dengan kekasihnya di saat yang tepat
Menyambut cukup hangat
Mempersilahkan istirahat dengan sejumlah kenikmatan setiap saat
Sementara kesibukan melalaikan
mengabaikan masa-masa indah kebersamaan
Menunda kesempatan hingga tertutup pertemuan
A//
Alangkah malang melihat diri senantiasa kalah dalam peperangan
Karena gelap dibiarkan bertumpuk tanpa penyelesaian
Cahaya redup jarang lagi dihidupkan
W//
Wahai siapapun yang mengaku pecinta
Sudahkan pembuktian menerjemahkan setitik cita-cita
Ikatan ruhani dengan kekasih
Semakin suci, wangi dan jernih
Menjadi alasan dipertemukan dan dikumpulkan
Kelak, dihari keabadian
A//
Adakah tergugah kesadaran
Setiap kali kematian memberikan pelajaran
Atau hanya menjadi angin lewat
Tanpa terserap serangkai nasihat
W//
Wahai pemilik jiwa tenang yang senantiasa berseri-seri
selamat jalan, KHA. Nawawi Abdul Jalil Sidogiri
I//
Indah sungguh indah, membaca rekam jejakmu memahat hari demi hari
Menyelamatkan sejumlah diri sepanjang hari
Oleh: MN Taufiq (Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo)









