Friday 14th May 2021,

Sandhy Sondoro; Cinta dan Kasih Sayang Adalah Esensi Kedamaian

Sandhy Sondoro; Cinta dan Kasih Sayang Adalah Esensi Kedamaian
Share it

ASWAJADEWATA.COM | 

Cinta dan kasih sayang, dua hal ini yang selalu jadi inspirasi bagi Sandhy Sondoro, penyanyi solo, penulis lagu, dan musisi yang sempat mengangkat nama Indonesia di berbagai ajang lomba Internasional khususnya di benua Eropa.

Sandhy yang kini lebih banyak berkarir dan tinggal di Jakarta saat masa pandemi ini menceritakan hal itu kepada Pemred aswajadewata.com Dadie W. Prasetyoadi dalam suatu kesempatan di Bali. Mereka berdua sempat menjadi teman sekamar (room mate) ketika menjalani masa pre university di Universitaet Greifswald, sebuah universitas tua di kota Greifswald yang terletak di bekas wilayah Jerman timur selama beberapa bulan. Pertemanan mereka terus berlanjut setelah masing-masing mengambil pendidikan di kota berbeda, namun masih sering saling mengunjungi satu sama lain ketika itu.

Bakat dan ketertarikan Sandhy akan musik sudah lama dirasakan sejak masih di SMA. Bahkan dia sudah sering manggung dengan membawakan lagu-lagu dari band populer tahun 90an bersama bandnya semasa sekolah.

Kemampuan, dan mental Sandhy dalam bermusik semakin terasah ketika melanjutkan kuliahnya di kota Berlin.  Di waktu senggangnya dia kerap ngamen di jalanan kota itu sambil bermain gitar yang membuatnya mulai dikenal oleh komunitas musisi di kota Metro itu. Akhirnya job untuk bermain di caffee dan tawaran bermain bersama para musisi disana pun berdatangan kepadanya.

Selama karirnya sebagai musisi di Club dan Pub kota Berlin inilah Sandhy meluncurkan album pertamanya berjudul Why Dont We, dengan single “Down on the Street“.

Jalan menuju kesuksesan akhirnya terbuka setelah Sandhy mengikuti ajang kompetisi  New Wave edisi ke 8, yang bertajuk “International Contest of Young Pop Singer” di Jūrmala, Latvia pada tahun 2009. Ini setelah Brandon Stone, seorang produser musik yang dikenalnya di Jerman menyarankannya untuk ikut ambil bagian dalam kompetisi tersebut. Sandhy berhasil memenangkan kompetisi ini bersama Jamala, seorang penyanyi wanita asal Ukraina. Dalam kompetisi itu Sandhy sudah menyanyikan lagu-lagu yang ditulis olehnya sendiri seperti “Malam Biru” dan  “End of The Rainbow”. Keberhasilan menjuarai ajang tersebut membawanya ke tangga kesuksesan bagi Sandhy di negaranya sendiri Indonesia.

Kini setelah hampir satu dekade mewarnai musik Indonesia dengan karyanya, Sandhy mengatakan baru saja menyelesaikan proses album ketujuh dengan judul “Beautiful Soul” yang akan dirilis paling cepat tahun 2021.

Dalam pertemuan malam itu Dadie yang juga salah satu penulis Buku “Fikih Muslim Bali” memberi Sandhy buku tersebut sebagai kenang-kenangan. Buku tersebut berisi tentang pandangan fikih terhadap kehidupan masyarakat muslim di Bali dalam berinteraksi dengan lingkungannya sebagai umat minoritas. Buku ini ditulis bersama oleh M. Taufiq Maulana, Dadie W. Prasetyoadi, dan Muhammad Muhlisin sebagai pegiat literasi NU yang tergabung di Lajnah Ta’lif wan Nasyir (LTN) PWNU Bali.

Ketika ditanya pandangannya tentang kondisi masyarakat Indonesia sekarang, Sandhy mengatakan Indonesia harus lebih banyak lagi belajar tentang cinta dan kasih sayang, agar peristiwa yang akhir-akhir ini banyak terjadi terkait aksi intoleransi bisa dikurangi atau bahkan hilang samasekali.

“Agama harus hadir sebagai pesan cinta dan kasih sayang yang selalu digaungkan serta disampaikan dengan ramah. Para pemuka agama harus juga memberi contoh baik kepada umatnya sehingga mampu mendatangkan kedamaian di masyarakat luas,” ujar bapak seorang putra itu.

Discographie Sandhy Sondoro:

1. Why Don’t We
2. Self Titled
3. Find The Way
4. Vulnerability
5. Berlin Berlin ick lieb dir so sehr
6. Love Songs
7. Beautiful Soul

 

Penulis: Ikhsan Nur
Editor: Abdul Karim Abraham

 

 

 

Like this Article? Share it!

1 Comment

  1. Om aming December 12, 2020 at 4:26 pm

    Mas billie Muanteb tenan iso ketemuan sandhy. Salam yo.

Leave A Response

Translate »