Sunday 01st August 2021,

Sekelumit Curhatan Santri; Kiai As’ad Syamsul Arifin & Wajah NU di Media Sosial

Sekelumit Curhatan Santri; Kiai As’ad Syamsul Arifin & Wajah NU di Media Sosial
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Suatu waktu ke Jakarta untuk sebuah acara. Berangkat dari Surabaya melalui perjalanan darat, kereta. sampai di Stasiun Senen Jakarta Pusat dinihari. kemudian menuju Kramat Raya, tepatnya kantor PBNU lantai 5 kantor NU Online untuk istirahat setelah sebelumnya minta izin ke Mas Zunus, laki-laki baik asal Kudus Jawa Tengah.

dari stasiun Senen ke Kramat Raya itu saya mendapati hal yang tak nyaman; hampir separuh perjalanan sopir ojek online ngoceh ndak jelas soal NU. dia bilang, NU sekarang berubah, sudah dibeli, membela penista agama, bahkan agak nyerempet ke PKI pula. setelah dikonfirmasi kenapa dia punya kesimpulan begitu?” iya saya baca di medsos, mas”. oke! ketika tahu saya berhenti di Kantor NU dia agak kaget dan gelisah. saya berusaha menenangkan dan memberi uang lebih. “Ini mas sudah tak usah dikembalikan, buat anak sampean saja. owh ya, NU tak seperti yang sampean gambarkan tadi. insyaAllah NU baik-baik saja.”, ujar saya nyindir.

Ketika ada skandal penceramah yang menyebut masa kecil Nabi dengan bahasa-bahasa provokatif, seorang Kiai muda yang kebetulan satu kabupaten dengan saya menulis surat terbuka. Dia bilang NU sudah berubah, NU sudah tidak seperti dulu, makanya perlu “diluruskan” (narasi khas mereka), NU fanatik bukan membela nabi tetapi malah membela si penceramah. Karena merasa geli, kemudian saya ikut nimbrung di lapaknya, saya tanya, “darimana kesimpulan NU membela si penceramah?”, kiai itu kemudian menyebut, “ini ada akun NU bilang bahwa penceramah itu tidak salah, malah menyebut yg mengkritik sebagai wahabi!” saya mau ketawa, padahal pada waktu itu tidak ada suara resmi NU yang membela, malah banyak kiai yg juga mengkiritik termasuk Kiai Said Aqil Siraj.

Yang terbaru, baru saja. seorang kawan yg punya keilmuan agama sangat memadai, seorang alumni pesantren terkenal mengunggah video Abu Janda di story WA-nya. video lama Abu Janda yg bilang bahwa teroris ada kaitannya dengan agama dan itu Islam, dia unggah dengan caption, “Bukannya Abu Janda ini orang Islam? bukannya dia pengurus PBNU? kenapa bilang begitu?”

membaca story itu, buru-buru saya bertanya, “Mas sejak kapan dia menjadi pengurus NU?” dia menjawab, “Loh, bukannya dia dianggap tokoh di NU mas?”, saya jawab lagi, “Bukan mas, sekali lagi dia bukan pengurus NU” “tapi bukannya dia sering pakai jaket banser? “Ya Allah mas, cuma pakai baju saja sudah diasumsikan pengurus begitu?” setelah diskusi agak lama dia kemudian minta maaf pada saya. selesai [nb: lagian kenapa juga Abu Janda ini dulu kemana-mana pakai atribut NU, bikin jengkel juga sih. di Twitter beberapa kali kawan-kawan NU nyemprot dia]

…………….

curhatan di atas sudah pernah saya sampaikan ke beberapa orang salah satunya adalah Kiai Afifuddin Muhajir, Gus Rumail Abbas. dan beliau berdua juga merasakan apa yang saya rasakan.

pengaruh media sosial bukanlah hal yang sederhana, terutama di era kebebasan media sosial ini. semua orang menimba segala informasi termasuk tentang NU dari media sosial. dan sedikit banyak, citra NU di media sosial digambarkan dari beberapa akun dan oknum yang biasanya membawa nama besar NU.

sialnya, citra yang ditampilkan kadang adalah citra yang buruk. dan orang-orang memberi penilaian dari itu semua. terlebih mereka yang memang punya DNA ketidaksukaan pada NU berada dimana-mana. maka sekali melakukan blunder, mereka akan mendapatkan bahan bakar yang melimpah.

pertanyannya; siapa sekiranya yang bisa menertibkan akun-akun dan oknum-oknum itu? “Saya kira sulit mas”, ujar seorang yang saya mintai pendapat tadi siang melalui percakapan telepon.

jika tidak bisa ditertibkan atau sulit ditertibkan maka ada satu cara yang bisa ditempuh, yaitu kritik internal. membawa nama NU harusnya menjadi beban moral bahwa ia memikul nama besar sebuah organisasi yang didirikan oleh para wali, kekasih Allah yang tulus. apa yang akan ia tulis adalah dianggap suara NU, maka perlu hati². tidak senggol kanan kiri dengan konten yang bisa menyudutkan NU. ia harus memiliki mas’uliyyah!

karena semua yg kita lakukan, apalagi atas orang lain seperti nama besar NU kelak akan dimintai pertanggung jawaban:

وَلَا تَقۡفُ مَا لَیۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولࣰا

jangan malah keinginan sendiri lalu dengan bangga diatasnamakan NU. alih-alih mewakili organisasi justru yang diwakili adalah hawa nafsunya sendiri.

فَوَیۡلࣱ لِّلَّذِینَ یَكۡتُبُونَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِأَیۡدِیهِمۡ ثُمَّ یَقُولُونَ هَـٰذَا مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ لِیَشۡتَرُوا۟ بِهِۦ ثَمَنࣰا قَلِیلࣰاۖ فَوَیۡلࣱ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتۡ أَیۡدِیهِمۡ وَوَیۡلࣱ لَّهُم مِّمَّا یَكۡسِبُونَ

Dalam sebuah kesempatan, Kiai As’ad Syamsul Arifin, seorang mediator berdirinya NU pernah dawuh, “NU mencetak ulama warasah anbiya (pewaris para nabi) karena itu jangan dibuat main-main. jangan dibuat dagang apalagi mencari kedudukan”.

Dalam sebuah video, Gus Baha’ juga pernah dawuh bahwa salah satu alasan beliau meminta naskah kitab karangan para kiai jika berkunjung ke sebuah pesantren adalah untuk menyampaikan ke publik bahwa kiai NU juga bisa menulis kitab. Gus Baha’, punya keinginan jika yg disebut NU maka yang akan terbayang di benak masyarakat adalah kehebatan, tokoh dan banyak karya bukan yang lainnya.

saya kira seandainya semua orang punya cita-cita dan cara seperti Gus Baha, betapa nama NU akan tetap disegani siapapun. tidak akan ada lagi kemudian yang menganggap bahwa NU membela penista agama, disusupi PKI dan isu-isu lainnya.

Yuk, cintai NU. tidak usah memberi kemanfaatan, tidak memberi kemudaratan saja sudah cukup.

Ahmad Husain Fahasbu, bukan pengurus NU, bukan kiai, bukan anak kiai, bukan siapa-siapa. hanya seorang santri dari seorang Kiai yang sangat mencintai NU zahir-batin, bahkan kiai tersebut pernah bilang bahwa darah, tulang dan sumsumnya adalah NU. kiai itu adalah kiai As’ad Syamsul Arifin, kiai yang diminta untuk mengantarkan tongkat dan tasbih dari Bangkalan ke Jombang sebagai restu berdirinya NU, alfatihah.

Penulis: Ahmad Husain Fahasbu (Alumni Ma’had Aly PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »