Saturday 22nd June 2024,

Tentang Suara Azan dan Suara Gonggongan, Menag Tidak Bermaksud Tasybih Tapi Tamtsil

Tentang Suara Azan dan Suara Gonggongan, Menag Tidak Bermaksud Tasybih Tapi Tamtsil
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Jika kita paham tentang konsep tasybih dan tamtsil, pasti kita menyikapi pernyataan Menteri Agama dengan enjoy aja.

Kita semua tahu dan yakin, sebagai muslim yang beriman, siapapun pasti tidak akan menyamakan (tasybih) ajarannya pada sesuatu dengan maksud istihanah (penghinaan) atau istikhfaf (merendahkan).

Justru, jika ada orang yang menganggap pernyataan Menag sebagai penghinaan dan merendahkan, maka dialah yang memiliki anggapan itu yang telah menghina, merendahkan dan menistakan ajaran Islam. Apalagi jika anggapannya sampai dibenarkan oleh banyak orang. Ini bisa masuk kriminal akhirat.

Menag hanya memberi tamtsil (contoh) tentang suara-suara yang mengganggu. Diantara yang disebut Menag suara gonggongan anjing. Suara-suara sepeda motor yang keras mengusik telinga, juga termasuk diantara suara-suara yang mengganggu. Suara musik tetangga yang keras juga mengganggu.

Ada juga yang menganggap Menag telah membandingkan (tanzhir) suara azan dengan suara anjing. Ok, kita harus paham juga tentang konsep tanzhir. Dalam konsep ini sama sekali tidak ada unsur menyamakan. Contoh redaksi azan yang artinya, “Salat itu lebih baik dari pada tidur”. Redaksi ini termasuk (tanzhir) membandingkan salat dengan tidur. Apakah berarti menyamakan? Tentu tidak, dong!

Nah, kenapa Menag memberi contoh suara gongongan anjing? Ini yang perlu kita memberi tafhsil kemungkinan. Mungkin Menag melihat banyak orang atau masyarakat yang terganggu dengan suara gonggogan anjing. Atau, Menag sendiri yang mengalami demikian. Sebab inilah Menag memberi contoh gonggongan anjing.

Jika misal Menang melihat banyak orang yang terganggu dengan suara musik keras atau suara sepeda motor yang bising-mengusik, Menag akan memberi contoh ini. Jadi, dalam hal ini lebih kepada ‘urf (kebiasaan) yang dialami atau dirasakan saja.

Semoga dengan penjelasan ini, kita semua bisa memahami apa yang dimaksud dari pernyataan Menteri Agama. Menyikapi sesuatu itu butuh ilmu. Wallahu A’lam.

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »