Friday 24th May 2024,

Tradisi Ngeruwah Massal; NU merawat Jagad di Tengah Masyarakat Multikulktural Bali

Tradisi Ngeruwah Massal; NU merawat Jagad di Tengah Masyarakat Multikulktural Bali
Share it

ASWAJADEWATA.COM | 

Oleh: Dr. Rohil Zilfa, M.Pd

NU sebagai organisasi terbesar yang saat ini sedang merayakan 1 Abad kedigdayaannya menjadi bukti nyata bahwa NU memiliki kontribusi besar terhadap kemajuan bangsa dan pemersatu umat, baik intra maupun antar umat beragama. Hal ini dapat dilihat dari keberadaannya di pulau dewata yang sudah ada sejak 1934.

Sebagaimana pernah ditulis oleh Rifqil Halim Muhammad di www.nu.or.id , bahwa Pendiri NU pertama di Bali KH. Ahmad Al-Hadi bin Dahlan yang dalam praktik keagamaan berpegang teguh pada madzhab Syafi’i. Salah satu bukti nyatanya adalah menyuruh santri-santrinya menggunakan “awik” (penutup kepala hingga muka yang menjadi bagian dari sejarah masyarakat muslim Loloan, ramai digunakan saat event “Loloan Jaman Lame”).

Begitu pula tradisi ngeruwah massal (‘atiqatul kubra), yang kini menjadi salah satu tradisi yang pelaksanannya dilakukan secara bersamaan di beberapa pondok pesantren di Jembrana di bulan Sya’ban.

Berdasarkan hasil penelitian penulis, tradisi ngeruwah masal mulanya dilakukan secara mandiri dari masing-masing rumah masyarakat loloan dengan tujuan mengirimkan do’a kepada orang tua/kerabat yang telah meninggal dunia. Tradisi amaliyah warga yang dilakukan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan ini kemudian dimassalkan oleh KH. Ahmad al-Hadi bin Dahlan untuk meringankan masyarakat setempat.

Ngeruwah atau juga dikenal dengan istilah Ruwahan di masyarakat Jawa ini lalu dalam perkembangannya menjadi salah satu praktik dari pengamalan nilai tawassuth di tengah masyarakat multikultural di Bali.

Penjagaan terhadap tradisi masyarakat Loloan Jembrana Bali ini selaras dengan teori fungsional Talcot Parson Adaptation; yang mulanya dilakukan di rumah, kemudian dilakukan secara massal.

Tradisi ini terus dilakukan sampai saat ini di kabupaten Jembrana Bali. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa masyarakat tetap teguh menjalankan tradisi leluhur mereka di tengah arus modernitas dan teknologi.

Dengan demikian, di 1 Abad usia NU ini dapat menjadi titik balik khususnya bagi masyarakat muslim di Bali, untuk terus menebarkan Islam damai rahmatan lil ‘alamin yang tetap teguh pada aliran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyah.

(Penulis adalah Pengurus PC ISNU Jembrana)

 

 

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »