Tuesday 25th February 2020,

Kecerdasan Nalar Ushuli dan Wara’i Gus Baha’

Kecerdasan Nalar Ushuli dan Wara’i Gus Baha’
Share it

ASWAJADEWATA.COM- Ushuli merupakan sifat bagi seseorang yang kompeten ilmu ushul fikih. Wara’i adalah sesorang yang berhati-hati dalam menjalani syari’at. Seseorang yang ahli dalam ushul fikih akan memiliki nalar atau logika yang setiap memahami problematika bedasarkan istinbath dan memperhatikan mashlahah. Seseorang yang wara’ setiap melakukan sesuatu selalu didasarkan kepada halal-haram saja.

Seseorang yang bernalar ushuli memiliki pemikiran yang terbuka, luas dan solutif. Sementara seorang wara’ pemikirannya terkesan kaku, sempit dan sulit menjawab problematika. Pemikiran seorang ushuli bersifat dinamis sementara seorang wara’i stagnan.

Selain itu, orang yang bernalar ushuli bawaannya santai dan asyik. Sementara orang yang wara’ bawaannya tampak kaku dan kurang asyik. Seorang ushuli ketika melihat problematika dan memberi jawabannya memudahkan. Sedangkan orang wara’ saat mendapatkan problematika dan menjawabnya hanya berdasarkan halal-haram, sehingga terkesan mempersulit.

Demikian jika ushuli dan wara’i dimiliki oleh masing-masing pribadi seseorang. Namun, jika ushuli dan wara’i menjadi satu kesatuan pada diri seseorang maka akan menjadi sempurna. Yakni, seseorang yang ahli ushul fikih dan memilki karakter wara’. Pribadi yang seperti ini, selain mempermudah dalam memberi fatwa juga berhati-hati. Tidak sempit dan kaku. Pemikiran dan pemahamannya memudahkan orang dalam menunaikan syari’at.

Pribadi yang demikian ada pada diri Gus Baha’. Selain ‘alim ‘allamah, sosok yang santai ini memiliki karakter wara’. Meski menyampaikan pemahman yang benalar ushuli, Gus Baha’ tidak pernah menyimpang dari Alquran, sunah dan ulama, justru beliau setiap menyampaikan selalu berdasarkan Alquran, sunah Nabi dan mengutip dari kitab-kitab ulama.

Hafal Alquran lengkap dengan tafsirnya, hafal hadits beserta riwayat dan asbabul wurudnya, dan hafal kitab-kitab para ulama menjadikan Gus Baha’ ‘alim ‘allamah dan wara’. Menjadi penyebar dan penegak agama dengan penyampaian yang mudah dan asyik, inilah pribadi seorang yang layak disebut sebagai wartsatul ambiya’. Misi seorang penyebar Islam harus mampu menjadikan Islam sebagai agama yang mudah dan menyenangkan.

Beberapa penyampaian Gus Baha’ yang menceminkan pribadinya yang bernalar ushuli dan wara’i, diantaranya:

  1. Seorang ulama yang kaya jika hanya dipandang dengan nalar wara’ pasti dianggap sebagai ulama yang cinta dunia. Namun, jika dinalar dengan ushuli maka akan memiliki pandangan bahwa ulama yang kaya akan menjadikan hartanya untuk amal kebaikan atau demi kemaslahatan. Jika orang kaya tersebut adalah seorang yang ‘alim dan wara’ pasti kekayaannya dipergunakan di jalan Allah.
  2. Seseorang yang menjadi pejabat pemerintah jika hanya dilihat dengan kaca mata wara’ akan dianggap sebagai orang yang cinta jabatan. Atau jika ada seorang ulama dekat dengan pejabat akan dianggap sebagai ulama yang berharap –bahkan ada yang menganngap menjilat- seorang pejabat pemerintah. Namun, jika menggunakan nalar ushuli, maka, dari pada yang menjadi pejabat orang yang fasiq, maka wajib hukumnya seorang ulama menjadi pejabat demi kemaslahatan. Atau ulama yang dekat dengan pejabat tujuannya membimbing atau mengarahkan pejabat tersebut.
  3. Seorang ulama membawa proposal kepada pemerintah, jika yang menilai seorang wara’ yang dalam pikirannya hanya ada halal-haram maka akan dianggap ulama yang membawa proposal mendapatkan uang tidak jelas (syubhat) karena mengemis kepada pemerintah. Namun, jika dinilai dengan nalar ushuli, ulama yang membawa proposal kepapa pemerintah, uang yang didapatkan untuk kebaikan seperti membangun lembaga pendidikan atau pesantren. Dari pada uang Negara digunakan oleh pejabat koruptor. Secara ushuli, boleh bahkan wajib mengambil uang Negara alias hak rakyat untuk dipergunakan pengembangan ilmu yang manfaatnya kembali kepada masyarakat.

Tiga contoh di atas merupakan penyamapaian Gus Baha’ (ceramah ngaji bareng Gus Baha’) yang mencerminkan kecerdasan nalar ushuli dan wara’i ulama muda dan asyik ini. Pemikiran Gus Baha’ yang berdasarkan nalar ushuli dan karakter wara’i sangat menarik untuk terus dikaji. Terlebih di zaman sekarang yang membutuhkan rujukan beragama yang tepat sesuai ajaran Nabi.

Ini merupakan oretan sederhana yang berupaya mengkaji pemikiran beliau. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

 

Muhammad Taufiq Maulana

Ketua PW LTNNU Bali

Leave A Response


Translate »