Sunday 19th May 2024,

Riuhnya Pra Kualifikasi Pilpres

Riuhnya Pra Kualifikasi Pilpres
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Oleh: Dadie W. Prasetyoadi

Ajang Pilpres tinggal menghitung bulan. 14 Februari 2024 tahun depan ditetapkan sebagai hari penentuan episode baru perjalanan bangsa ini setelah 25 tahun lahirnya era reformasi.

Selama itu pula demokrasi tumbuh mewarnai proses pendewasaan bangsa Indonesia menjalani kehidupan bernegara yang lebih bermartabat. Pelan namun pasti hingga kini sudah kita rasakan perubahan yang terjadi di segala sisi, entah itu kemajuan maupun kemunduran menurut sudut pandang kita masing-masing. Belajar dari kesalahan adalah langkah jitu yang wajib dilakukan setiap anak bangsa untuk menjadikan pengalaman sebagai guru yang terbaik.

Intensitas konflik etnoreligius yang kerap menghantui dan jadi ancaman utama persatuan, kini berangsur menurun dari waktu ke waktu. Walau berkurang, ancaman tersebut masih mengintai, membayangi setiap issue viral yang kerap muncul di media sosial. Masalah yang mulanya sepele menjadi rumit setelah ditarik kesana kemari. Terlebih lagi jika ditambahi bumbu-bumbu SARA.

Kondisi ini mendekati eskalasi serius ketika para elit politik mulai memainkan kartunya untuk saling mengungguli pesaingnya. Pertunjukan strategi partai politik sebenarnya terbilang lebih menarik untuk selalu disimak mengalahkan sinetron kejar tayang di televisi. Jangankan partai partai besar, partai gurem pun seperti tak mau ketinggalan untuk ikut bermain.

Layaknya cerita kerajaan Majapahit dalam novel laris “Gajahmada” karya Langit Kresna Hariyadi, segala intrik politik menuju kursi kekuasaan mulai ditampakkan. Ada yang jelas terang dan ada juga yang masih malu-malu menunggu sambil melihat perkembangan situasi. Sisi emosi rakyat menjadi penting. Memainkannya lewat persinggungan nilai moral, etika dan budaya bisa jadi penentu keberhasilan.

Seperti arus di lautan, sering kita tertipu oleh permukaan yang terlihat tenang. Padahal tidak selamanya arus bawah itu sama tenangnya. Jadi sangat riskan bagi mereka yang masih awam dan tak begitu mahir berenang untuk ikut-ikutan terjun ke dalamnya. Bahkan mereka yang sudah terbiasa pun masih saja terkaget kaget. Setiap pelaut yang berlayar boleh saja membaca unsur navigasi agar bisa sampai ke tujuan dengan cepat mengungguli lainnya, tapi kadang mereka lupa menghormati kekuatan si laut itu sendiri. Padahal bahkan itu menjadi hal utama yang harus dilakukan.

Adu strategi dan pertempuran opini para elit tak ayal berkecipak hebat dan mengaduk aduk emosi masyarakat. Membuat mereka tanpa sadar pelan dan pasti ikut hanyut terbawa oleh arus persaingan, apalagi jika menyangkut irisan kepentingan yang sama-sama ingin ‘diperjuangkan’. Eforia iklim demokrasi jadi makin terasa riuh dan kadang sedikit tak terkendali, ini ditandai dengan mulai munculnya ujaran-ujaran kebencian antar pendukung di media sosial sebagai indikatornya.

Hal ini pun sudah pernah kita alami di ajang-ajang pilpres sebelumnya yang sampai sekarang masih menyisakan trauma perselisihan yang melekat dan sulit untuk dihilangkan.

Sebagai bangsa dengan pengalaman politik bernuansa suram agaknya kita harus lebih peka dan waspada menyikapi keadaan ini. Tak ada seorangpun dari kita ingin tragedi pahit yang kerap dialami terulang kembali hanya karena terbawa suasana persaingan segelintir tokoh negeri.

Seringkali perubahan hawa perpolitikan yang terjadi begitu cepat membuat kita panas dingin dan kebingungan mencari tempat bernaung. Bergerombol tanpa tahu arah dan tujuan untuk hanya sekedar cari selamat. Padahal tanpa disadari, kitalah sejatinya penentu masa depan negeri ini.

Berdiam, tenang, membaca perkembangan dengan cermat, agaknya jadi jurus paling tepat di saat seperti sekarang. Dimana segala sesuatu masih belum pasti dan bergerak sangat dinamis.

Seperti yang terjadi beberapa hari belakangan di kancah politik Indonesia. Manuver partai kontestan seperti Nasdem dan PKB itu sebenarnya hal yang sah saja dilakukan. Karena memang tujuan utama sebagai pemenang adalah hal yang didahulukan dari setiap peserta lomba. Memecah konsentrasi dan fokus lawan adalah sebagian dari taktik yang berlaku dalam setiap kompetisi. Jika pada akhirnya cara-cara tersebut menimbulkan hiruk pikuk diantara para kontestan itu sendiri juga wajar saja terjadi.

Hanya saja, penonton dan penikmat politik tanah air tidak bisa begitu saja mudah mencernanya. Sekali lagi ini karena sisi emosional mereka terusik oleh hal-hal yang terasa janggal menurut nilai etika dan moral yang berlaku. Aroma pengkhianatan dan penghalalan segala cara yang muncul seperti dianggap biasa. Tidak ada pula ekspresi bersalah yang tampak di wajah para tokoh itu saat mengklarifikasinya. Membuat wajah demokrasi negeri kita perlahan berubah semakin mirip dengan demokrasi ala barat (Amerika). Apakah ini juga termasuk dalam tanda-tanda pergeseran peradaban yang sedang dialami bangsa ini?

Akhirnya dari semua itu, sebagai penikmat dan penonton, kali ini setidaknya kita sudah disuguhi tontonan yang menghibur dan menggelitik. Sekaligus membuka mata kita, bahwa sebagai pemilik hak pilih calon penentu arah masa depan negara tercinta, kita mulai cukup memperoleh gambaran gamblang untuk bisa lebih jernih memilah, menentukan pilihan terbaik pada saatnya nanti tanpa kegaduhan. Bukankah sebuah pesta seharusnya dilakukan dengan suasana gembira dan sukacita?

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »