Sunday 19th May 2024,

Pendekar Fiqih Lirboyo Itu Berpulang

Pendekar Fiqih Lirboyo Itu Berpulang
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Oleh : Mukti Ali Qusyairi 

Tiada rasa kehilangan teramat dalam selain berpulangnya guru kita, kiyai kita, seorang yang berjasa tiada tara mengajar dan mendidik kita dengan ilmu, doa dan keberkahannya. Hari ini Minggu, 21 Mei 2023, guru kita Romo KH. Azizi Hasbullah, seorang pendekar fikih Lirboyo Kediri dan pengurus PBNU wafat di RS Hasan Sadikin Bandung. Duka teramat dalam.

Kami bersaksi beliau adalah orang baik, baik sekali, tergolong mukhlishin, totalitas hidupnya untuk mengaji dan mengajar kitab kuning, membimbing santri dalam berbahtsul masail dengan elegan, memberi rumusan keagamaan yang bernas baik dalam level bahtsul masail pesantren Lirboyo, antar pesantren, NU di berbagai level dari ranting, wilayah sampai PBNU.

Semoga amal ibadah, amal baik, dedikasi, khidmah, dan segala kebajikannya diterima oleh Allah dan diberi ampunan atas kehilafannya. Amin. Lahu al-fatihah…

Sebagai murid, saya ingin menulis seklias tentang beliau sependek yang saya tahu. Karena bagi saya, beliau adalah tokoh penting.

Dalem
Sejak semula saya nyari di Lirboyo, nama Romo KH. Azizi Hasbullah–selanjutnya disebut Kiyai Azizi–sudah menjadi buah bibir dan tema tersendiri dalam obrolan-obrolan warung kopi para santri. Pasalnya, di dalam diri Kiyai Azizi ada anomali atau ketidaknormalan yang mengejutkan bagi publik santri.

Syahdan, Kiyai Azizi dari keluarga yang kurang berada, sehingga agar bisa nyantri di Lirboyo dengan memilih menjadi dalem Kiyai pengasuh Lirboyo. Lantaran dengan memilih menjadi dalem, ia bisa geratis sekolah dan mesantren serta mendapatkan kebutuhan makan-minum serta kebutuhan sehari-hari.

Dalem merupakan tradisi pesantren. Yaitu kerja-kerja khidmah, pengabdian, dan membantu berbagai hal yang dibutuhkan sang kiyai. Misalkan menjaga toko kitab, warung/kantin, memasak, mengurus sawah, atau mengurus binatang ternak, dll. Akan tetapi kerja-kerja itu dilakukan di luar jam wajib sekolah dan ngaji wajib.

Kiyai Azizi konon mendapatkan pengabdian di bidang mengurus sapi-sapi milik keluarga almaghfurlah Romo KH. Ahmad Idris Marzuqi, pengasuh Pesantren Lirboyo generasi ketiga. Semasa menjadi santri, Kiyai Azizi sibuk mencari rumput, memberi makan-minum, dan membersihkan kandang sapi serta memandikan sapi-sapi. Kadang-kandang sapi berada di samping pesantren. Kiyai Azizi pun semasa menjadi santri sampai menjadi guru kami, kiyai kami, hidup dan mukim di sebuah gubuk terbuat dari bambu dan jerami yang berada tidak jauh dari kandang sapi.

Meski sibuk dalem mengurus sapi-sapi yang cukup menyita waktu dan menguras tenaga, tetapi Kiyai Azizi menjadi siswa yang paling menonjol kemampuan hapalan, pemahaman, mental, dan artikulasinya. Beliau selalu menjadi Rais Am, ketua musyawarah kitab, dan aktivis serta satri bahtsul masail pilih tanding.

Itulah yang dikagumi oleh publik santri. Sembari bertanya-tanya, mana mungkin dalam waktu bersamaan sibuk luar biasa dalem ngurus sapi dan menjadi siswa yang paling menonjol?! Ada yang bergumam, “ini anomali, gak normal!”. Ada yang bilang, “jenius!”. Ada yang bilang dengan bahasa agak intelek, “out of the box!” Semua mengagumi. Di Lirboyo, Kiyai Azizi menjadi tokoh fenomenal sejak menjadi santri hingga detik ini. Banyak yang menjuluki “Macan Lirboyo!”

Saya pun mengaguminya. Fans berat. Meski selain beliau, ada tokoh-tokoh di dalam Lirboyo yang saya kagumi seperti di antaranya yaitu Gus KH Ishomuddin Adziq, Pak Kiyai Rosichun Zaka, Pak Kiyai Ali Musthofa, Pak KH Saiful Islam.

Bahtsul Masail
Ketika saya masih ibtidaiyah, suka menonton dan mendengarkan Kiyai Azizi sedang menjelaskan rumusan dalam perhelatan bahtsul masail yang di adakan di Serambu Masjid.

Ketika tsanawiyah baru bisa ikut belajar bahtsul masail dan musyawarah kitab Fathul Qarib lintas kelas tsanawiyah dan aliyah. Dewan perumusnya di antaranya Kiyai Azizi, Pak KH. Ali Musthofa, dll. Ketika beliau menjelaskan, saya pasang kuping dengan lebar. Rasanya senang sekali bisa dibimbing sang maestro bahtsul masail.

Semula saya terkaget-kaget, kok bisa Kiyai Azizi dalam merumuskan jawaban persoalan dengan memasukan pada bab kitab fikih yang sepertinya kurang nyambung tapi memang itu jawabannya. Pelan-pelan saya amati, dan setelah kelas tiga tsanawiyah dan sudah lumayan banyak baca kitab-kitab kuning seperti Bujayrami ‘ala al-Khathim Syarah Iqna”, di sekolah juga belajar Fathul Mu’in dengan Syarah I’anat al-Thalibib dan Tarsyikhul Mustafidin, Hasyiyah Syarwani Sayah Tuhfatul Muhtaj pemberian kakak saya Qurratul ‘Ain beli ketika haji, dll. Serta rajin mencatat ‘ibarat-‘ibarat/penjelasan kitab yang penting. Saya baru memahami, ya memang ada banyak persoalan yang di bahas di bab kitab fikih yang terlihat tidak nyambuh tetapi sebetulnya terkait.

Karena kitab fikih dalam pengebaban sudah baku. Itu-itu saja babnya. Misalkan ubudiyah, munakahat, mu’amalat, dan jinayat. Bagi yang biasa membaca buku modern pasti akan bingung mencari jawaban dari kitab kuning. Sebab buku modern ditulis secara spesifik dan tematis serta kasuistik/masalah permasalah. Sedangkan kitab kuning tidak ditulis secara tematis dan spesifik.

Kita tidak akan menemukan tema tahlilan atau sedekah yang pahalanya untuk mayat, tapi kita akan menemukannya di bab janazah. Dll.

Akan tetapi terkadang ketika tidak ditemukan jawaban secara literalis dalam kitab kuning, Kiyai Azizi memberi rumusan dengan teori ilhaq, menganalogikan persoalan kontemporer kepada persoalan yang ada dalam narasi kitab kuning yang berbeda tapi mengandung titik persamaan yang dapat menyatukan dan mengerucut pada hukum yang sama.

Kursus
Ketika tiba saatnya di sekolah MHM (Madrasah Hidayatul Mubtadiin) Lirboyo saya mendapati materi kitab ushul fikih Waraqat, disusul Tashil al-Thuruqat, dan Lubbul Ushul. Kakak kelasku, Kang H Said Salim–yang saat ini menjadi kakak ipar–menitipkan saya ke Kiyai Azizi untuk ikut kursus kitab ushul fikih. Karena Kang H Said saat itu mau boyong tamatan. Kami sowan dengan membawa gula batu dan teh upet khas Cirebon.

Sejak saat itu saya aktif kursus ushul fikih kitab Lubul Ushul bersama Kiyai Azizi di biliknya yang terbuat dari bambu dan jerami itu. Biasa kita menyebutnya “gedeg”.

Saya masih ternginang cara beliau menjelaskan. Menjelaskan pengertian dari kata perkata yang ada di dalam kitab. Sejujurnya saya baru bisa memahami ushul fikih berkat kursus dengan Kiyai Azizi.

Sehingga ketika beranjak naik kelas Aliyah menjumpai kitab Jam’u al-Jawami 2 jilid, saya merasa agak ringan karena ada modal kurus kitab Lubul Ushul bersama Kiyai Azizi.

Buku
Ketika Aliyah, tahun 1998-2000. Di saat saya sedang gandrung membaca buku-buku pemikir muslim Indonesia maupun Timur Tengah bahkan Barat, sembari saya terkadang nulis di Majalah dingding Lirboyo dan menjadi Sekjen Bahtsul Masail Kelas Aliyah. Saya sowan ke Kiyai Azizi dengan tujuan mencopi makalah-makalah beliau. Beliau memberikannya.

Lalu makalah-makalah itu saya ketik ulang di tempat rental komputer di Kota Kediri dan saya simpan di disket. Saat itu belum ada flashdisk. Saya edit dan kasih pengantar kajian atas tulisan-tulisan beliau. Jadilah buku yang diberi judul “Kontekstualisasi Doktrin Fikih Islam”.

Buku itu diterbitkan dan dicetak oleh kami bersama teman sekelas, Fajar Mukhlasin Nur ketua kelas yang juga orang Malang, Bustomi, dll. Dananya iuran.

Buku itu kita jual habis ketika dilaunching dan dibedah oleh penulisnya langsung Kiyai Azizi Hasbullah. Karena Kiyai Azizi adalah magnet dan idola para santri Lirboyo, sehingga tak butuh waktu lama menghabiskan buku itu.

Setelah uang hasil penjualan buku terkumpul, labanya kami berikan kepada Kiyai Azizi sebagai penulis dan modal dikembalikan ke teman-teman sambil mayoran terong. Mensyukuri kesuksesan buku.

Pemikiran
Tahun 1998-2000, Lirboyo sedang dekat sekali dengan Gus Dur. Saya ingat betul Gus Dur sering sekali berkunjung ke Lirboyo. Kadang datang bersama pengurus PKB seperti KH. Prof Dr. Alwi Shihab dll.

Pemikiran Kiyai Azizi dalam merumuskan jawaban bahtsul masail atau dalam tulisan-tulisan dalam buku “Kontekstualisasi Doktrin Fikih Islam” adalah moderat, toleran, kebangsaan, NKRI, dan wathaniyah (nasionalis).

Pada saat itu saya sempat terbersit di benak sebuah pertanyaan, “Apakah pemikiran Kiyai Azizi itu terpengaruh oleh pemikiran Gus Dur atau outentik?” Pertanyaan itu terjawab dengan tiga hal.

Pertama, Kiyai Azizi dalam membangun argumentasi dengan basis narasi fikih kitab kuning.

Kedua, Kiyai Azizi ahli fikih dan saban harinya berjibaku dengan kitab kuning dan bahtsul masail.

Ketiga, santri original dan tanpa sekolah atau kuliyah di kampus.

Karena itu, saya berkesimpulan bahwa pemikiran Kiyai Azizi adalah outentik dan memiliki keunikan tersendiri. Belakangan Lirboyo terdapat Ma’had Aly yang spesialisasinya adalah Fikih Kebangsaan, di mana Kiyai Azizi adalah salahsatu tokoh sentralnya.

Sebagai murid. Pada tahun 2021, kami pernah mengundang beliau bersama Kiyai Zahro Wardi untuk menjadi perumus LBM PWNU DKI Jakarta. Dan bersedia datang. Betul-betul datang ke Jakarta. Kami senang sekali. Terasa mendapatkan keberkahan dan wawasan yang luar biasa.

(Penulis adalah alumni Pesantren Lirboyo Kediri dan Ketua LBM PWNU DKI Jakarta)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »