Friday 03rd April 2020,

Kuliner Indentitas Budaya Indonesia

Kuliner Indentitas Budaya Indonesia
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Apa itu kuliner? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kuliner artinya berhubungan dengan masak-memasak. Kegiatan masak-memasak akan menghasilkan sebuah karya berupa makanan yang memiliki cita rasa tersendiri. Makanan tidak dapat dipisahkan dari manusia karena makan adalah kebutuhan manusia yang wajib. Sedangkan di Indonesia terdapat banyak jenis masakkan yang merupakan kekayaan bangsa. Dengan kekayaan kuliner, bangsa ini memiliki keberagaman budaya dan tradisi nusantara sehingga menjadi salah satu indentitas budaya Indonesia. Hampir seluruh masakkan Indonesia kaya dengan bumbu yang berasal dari rempah-rempah seperti bawang merah, bawang putih, sereh, daun salam, daun jeruk, lengkuas, kunyit, kemiri, jahe, dll. Masakkan Indonesia juga dipengaruhi oleh unsur budaya dan tradisi. Selain itu, jenis masakkan Indonesia juga dipengaruhi oleh teknik memasak dan peralatan memasak, salah satu contohnya yaitu, kuliner serabi yang masih menggunakan peralatan memasak tradisional.

Pertanyaannya, mengapa kuliner dapat dijadikan sebagai indentitas budaya Indonesia? Nah, di sini penulis ingin menulis lebih jauh mengenai keberagaman kuliner yang terdapat di Indonesia, tujuannya agar kita lebih mengenal kuliner tradisional sehingga bangga akan budaya kuliner bangsa sendiri. Sering kali kita mendengar setiap daerah memiliki kuliner khas tersendiri. Contohnya, Bandung yang terkenal peuyemnya, Madura dan Betawi yang terkenal sotonya, Jogja yang terkenal gudengnya, Palembang dan Bangka yang terkenal pempeknya, Padang yang terkenal rendangnya, semua itu dikarenakan kebhinekaan bangsa Indonesia karena setiap daerah memiliki kekhasan kuliner serta cita rasa tersendiri. Contoh lainnya, antara orang Padang yang menyukai masakkan pedas dengan orang Jawa Tengah yang menyukai masakkan manis, perbedaan itu disebabkan oleh kekayaan alam, kondisi alam, dan karakter masyarakat yang berbeda. Pertanyaan lain, mengapa orang Indonesia bagian timur lebih mengenal sagu dari pada nasi?Karena sagu merupakan tanaman pangan lokal yang banyak dijumpai di sana sehingga mereka lebih mengenal makanan yang berbahan dasar sagu sebagai makanan pokok. Namun, berbeda dengan masyarakat di Jawa yang menjadikan nasi sebagai makanan pokok.

Selain kuliner merupakan indentitas budaya Indonesia. Indonesia juga merupakan negara bermayoritas penduduk muslim, dan ini saling berkaitan, di mana kuliner tradisional bangsa ini lebih banyak yang halal jadi tidak perlu khawatir untuk mengkomsumsi dan mengenalkan ke negera tetangga yang mayoritas muslim.  Namun sangat disayangkan, kebiasaan buruk yang telah menjadi kebiasaan generasi muda bahkan sebagian generasi tua adalah makan dan minum sambil berdiri, memakai tangan kiri, membuang sampah sembarangan. Padahal Islam sangat peduli terhadap setiap kegiatan manusia mulai dari yang kecil hingga hal yang besar semua diatur oleh Islam. Begitu indahnya Islam, bukan? Nah, karena mayoritas penduduk Indonesia sebagian besar adalah beragama Islam maka sebagai umat muslim yang baik wajib mengenalkan adab ketika makan dan minum kepada muslim lainnya, seperti :

  1. Makan makanan yang halal. Dalam hal ini kuliner tradisional Indonesia banyak sekali yang halal karena mayoritas penduduk Indonesia adalah umat muslim.
  2. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan.
  3. Berdoa sebelum dan sesudah makan.
  4. Makan dan minum dengan menggunakan tangan kanan.
  5. Makan dan minum dengan posisi duduk.
  6. Makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang.

Ada beberapa kuliner tertentu yang disajikan pada saat hari keagamaan seperti Idul Fitri, Idul Adha, Ramadhan, atau pada saat hari kelahiran, ulang tahun pernikahan, tasyakuran rumah baru, dll. Contoh kulinernya seperti, tumpeng, ketupat, kolak, dodol dan masih banyak lagi.  Selain kuliner Indonesia lebih banyak yang halal, maka tak diragukan lagi jika kuliner yang beragam ini dapat menjadi daya tarik pariwisata dalam negeri dan luar negeri, sehingga menjadi salah satu kekayaan Indonesia yang wajib dijaga jangan sampai hilang digerus oleh perkembangan jaman.

Kuliner merupakan indentitas budaya Indonesia, maka dengan demikian wajib dikenalkan agar generasi muda lebih mencintai kuliner tradisional, dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air dan cinta tanah air sangat dianjurkan dalam Islam.

Namun, disadari ataupun tidak disadari bahwa generasi muda saat ini lebih menyukai dan mengenal kuliner luar negeri sebut saja burger, pizza, kebab, teboki, kentucky, sushi dari pada kuliner tradisional seperti gemblong, wajik, nagasari, kerak telor, klepon, lupis, dll. Dikarenakan kurang pedulinya masyarakat terhadap kuliner tradisional, sehingga banyak generasi muda yang sudah mulai melupakan kuliner tradisional, padahal cita rasa kuliner tradisional tidak kalah lezatnya dengan kuliner asing dan yang tak kalah pentingnya banyak kuliner tradisional yang halal.  Di samping itu, lidah kita sudah tidak asing lagi dengan bahan dasar bumbu yang berasal dari rempah-rempah nusantara. Sangat disayangkan bukan, jika kuliner tradisional tidak diperkenalkan kepada generasi muda?

Bila kita menginginkan kuliner tradisional dapat dikenal dan disukai oleh generasi muda, maka tugas kita saat ini adalah mengenalkannya kepada generasi muda melalui lingkungan terdekat terlebih dahulu. Contoh, lingkungan keluarga dan sekolah. Di lingkungan keluarga, mulailah menghidangkan makanan-makanan tradisional di meja makan, dan di sekolah mulailah mengenalkan jenis-jenis makanan tradisional kepada siswa bahkan mengadakan kegiatan lomba seperti lomba tumpeng, lomba kolak, dll.  Namun, dari kedua lingkungan tersebut, peran pemerintah tidak kalah pentingnya dalam melestarikan kuliner tradisional. Pemerintah dapat mengadakan festival jajan pasar tradisional dan para peserta diberikan pelatihan serta pengetahuan mengenai kuliner tradisional. Dari kegiatan tersebut, diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan dan kepedulian terhadap kuliner tradisional yang hampir punah, dan akhirnya diharapkan para UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) tergerak untuk mempromosikannya ke masyarakat melalui media online ataupun offline.

Oleh : Delda Razilhsu

Leave A Response


Translate »