Friday 04th December 2020,

Beda Alur Politik NU dengan NUGL di Mata Gadis SMA

Beda Alur Politik NU dengan NUGL di Mata Gadis SMA
Share it

ASWAJADEWATA.COM – Ada banyak orang yang masih sering salah kaprah dengan keberadaan NUGL. Mereka beropini bahwa NUGL merupakan ‘NU nya mbah Hasyim’ atau meminjam istilah Prabowo yang ‘lebih TNI dari TNI’, maka bisa disebutkan bahwa opini mereka terhadap NUGL adalah ‘Lebih NU dari NU’.

Hal ini tentu salah kaprah. NUGL merupakan gerakan pemutus tali rantai. Dimana mereka diinisiasi oleh barisan sakit hati yang mendukung fitnah busuk kepada pimpinan PBNU yakni KH. Said Aqil Siradj. Seringkali mereka melontarkan fitnah kepada kyai-kyai yang mendukung kyai Said sebagai ‘orang liberal’. Selain itu, NUGL juga sering berstatment yang bertentangan dengan pimpinan PBNU, dan berlagak paling benar seraya hendak menjatuhkan PBNU. Disini bisa dikatakan NUGL adalah NU yang keluar dari kepemimpinan kyai Said Aqil, dan selalu menyerang NU dengan menggunakan dalih seolah ‘Kami lebih NU dari NU’.

NUGL diciptakan sebagai upaya penggembosan dan proxy untuk menghancurkan NU dengan segala macam caranya.

Selain stigmatisai dan pelabelan tokoh-tokoh NU yang dilabeli syiah dan liberal juga meng-stigma bahwa NU dalam konteks organisasasi (PBNU) telah keluar dari khittah.

Soal Pilpres, kemana arah dukungan NU dan NUGL?

Kalau NU, sebenarnya secara organisasi tidak boleh terlibat dalam dukung mendukung baik pasangan capres-cawapres maupun caleg. Sebab sudah ada perjanjian Khittah yang mana disebutkan bahwa NU (secara organisasi) tidak berpolitik praktis, namun berpolitik kebangsaan. Yang boleh berpolitik adalag warga NU (Nahdliyyin), bukan NU.

Namun belakangan, terjadi banyak cemoohan dan ancaman-ancaman baik kepada bangsa, negara maupun NU itu sendiri. Sehingga beberapa kyai menilai, jika NU tidak ‘turun gunung’ ikut mendukung salah satu paslon, NU akan runyam. Maka diputuskanlah NU –tidak bisa dikatakan secara organisasi– di 2019 mendukung paslon Capres-cawapres nomor urut 01 dengan penuh pertimbangan matang. Namun tetap, NU mengambil posisi menjadi pendukung yang santun dan mengutamkan adab dalam perbedaan.

Meski NU –tidak bisa dibilang secara organisasi– mendukung 01 di pilpres 2019 ini, namun para kyai NU sudah memberikan isyarat untuk dukungan kepada paslon 01. Tidak pula semua Nahdliyyin turut mendukung 01, ada beberapa yang berseberangan. Namun, itu tak jadi masalah selama mereka tidak ikut memusuhi dan mengolok-olok NU. NU tetap terbuka bagi simpatisan dan pendukung paslon atau caleg manapun.

Kalau NUGL?

Sejauh ini, pendapat dan keputusan NUGL selalu bertentangan dengan PBNU. Belakangan di media sosial beredar gambar yang di dalamnya bertuliskan bahwa NUGL mendukung Paslon 02. Ya, itu urusan mereka. Jangan dianggap itu sebagai NU. Sebab sekali lagi, NUGL adalah barisan yang memutuskan dirinya dari rantai perjuangan di NU karena tak sepakat dengan ketua umum PBNU. Jadi semua pendapat serta keputusannya tidak ada kaitannya dengan NU.

Kalau soal mereka mengaku ‘Paling NU dari NU’, atau ‘NU-nya Mbah Hasyim’, perlu dipahami bahwa kepemimpinan NU adalah mata rantai yang terus bersambung. NU nya Mbah Hasyim (KH. Hasyim Asyarie) dahulu, adalah sama dengan kepemimpinan KH. Said Aqil Siradj sekarang. Atau begini, pahami saja bahwa NU dengan NUGL sudah ‘beda rumah’.

Nah, bagi yang masih belum bisa membedakan antara NU dengan NUGL, sila bisa sowan ke kyai NU terdekat untuk meminta pencerahan yang lebih. Sebab tulisan ini tidak mewakili semua pihak dan tidak detil. Tulisan ini hanya menjabarkan sedikit dari sekian banyak beda alur NU dengan NUGL. Meski beda alur, baiknya kita tetap harus hidup damai dan rukun dalam Kebhinneka Tunggal Ika-an.

Oleh: Vinanda Febriani

Siswi SMA di Magelang

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »