Friday 07th May 2021,

Eko Mujianto Tokoh Egaliter NU Badung Wafat: Begini Kisah Pilu Ketua IKA PMII Bali

Eko Mujianto Tokoh Egaliter NU Badung Wafat: Begini Kisah Pilu Ketua IKA PMII Bali
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Kabar meninggalnya Ir. H. Eko Mujianto Wakil ketua Tanfidziah PCNU Badung sosok tokoh yang sangat egaliter, dan motivator terbaik kali ini menyisakan duka mendalam bagi sejumlah kalangan muda NU di Badung banyak dari mereka yang mengungkapkan bela sungkawa salah satunya sahabat Ispandi ketua IKA PMII Bali yang mencurahkan kisahnya menjelang wafatnya H. Eko Mujianto.

Sebelum beliau wafat saya sempat menanyakan kabar ke pak Eko lewat saluran telpon seluler, Pak Eko menjawab “saya masih sakit pak, nanti kalau sudah sehat kita ngopi-ngopi lagi, saya pengin ketemu sama pak Ispandi” tutur beliau.

Beberapa hari kemudian saya mendapat kabar pak Eko masuk rumah sakit. Saya langsung nelfon Nanda menanyakan keadaannya. saya memutuskan untuk menjenguknya walaupun kemudian batal karena obrolan serius tentang banyak hal harus saya ikuti biar tidak ketinggalan dan perkembangan informasi, hal ini harus saya lakukan karena kalau ketemu dengan pak Eko pasti akan ditanya tentang banyak hal tentang NU dan perkembangannya.

Beberapa hari selanjutnya tepat pada hari minggu pagi saya mencari informasi tentang perkembangan pak Eko. Dan Alhamdulillah saya mendapat kabar bahwa kondisinya mulai membaik.

Informasi itu membuat saya senang karena harapan untuk bisa cepat  bercengkrama dan diskusi akan segera terwujud.

Namun kala itu saya diskusi dengan beberapa kalangan muda NU, tiba-tiba salah satu peserta diskusi mendapat informasi wafatnya pak Eko. Semua panik, semua tertunduk lesu, diam dan seakan tidak ada yang bisa berbicara sepatah katapun. Kami terlarut dalam suasana duka dan harapan informasi itu tidak benar.

Saya mencoba nelfon pak Markaban salah satu orang yang selalu ada di dekat pak Eko yang menemani beliau di masa-masa sakitnya.

Pak Markaban menegaskan bahwa pak Eko telah wafat dan hasil swabnya juga sudah keluar. Diskusi menjadi hampa dan hampir semuanya diam dengan tatapan kosong. Hujan yang turun begitu deras seakan ikut larut dalam suasana duka dan sedih yang kami rasakan.

Begitu hujan reda, saya meninggalkan tempat diskusi menuju ke warung kopi lainnya untuk kembali diskusi dengan peserta yang berbeda dengan tema yang berbeda walaupun masih dalam ranah ke NU-an. Sambil terus berdo’a untuk almarhum pak Eko.

Diskusi terus mengalir sambil menunggu kepastian dari RS. Surya Husada, sampai akhirnya diskusi pun kami akhiri dan memutuskan untuk ta’ziah dan ikut melepas keberangkatan jenazah beliau ke Banyuwangi.

Saya telah kehilangan sahabat ngopi yang baik, saya telah kehilangan teman diskusi yang baik, saya telah kehilangan mentor terbaik bagi generasi muda NU. saya telah kehilangan teman yang setiap waktu bersedia untuk berjuang untuk NU. saya telah kehilangan sosok pengayom, penyemangat dan motivator. Saya telah kehilangan sosok seorang ayah dalam meniti perjuangan di Nahdlatul Ulama.

Selamat jalan sahabat. Engkau orang baik yang layak bersama santri-santrinya hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari. Tolong sampaikan salam saya buat hadratussyekh. Semua hasil diskusi kita akan selalu saya simpan dengan rapi untuk disampaikan kepada generasi-generasi NU berikutnya. Semoga ampunan Allah akan engkau dapatkan dan kebaikan-kebaikanmu menjadi perantaramu menjadi ahli surga.

Di akhir catatan curhatnya sahabat Ispandi menuliskan bahwa dia dan para sahabatnya akan selalu menjadikan pemikiran Ir. H. Eko Mujianto yang juga tokoh budayawan sebagai rujukan dan refrensi untuk berpijak di ruh perjuangan.

Oleh: Rusli, LTNNU Badung

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »