Wednesday 16th June 2021,

Enam Paradigma Gelar Haji yang Wajib Dihindari

Enam Paradigma Gelar Haji yang Wajib Dihindari
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Oleh: Muhammad Taufiq Maulana

Melakukan sesuatu lillahita’ala (karena Allah semata) merupakan hal yang sangat sulit. Dalam ibadah pun kadang lebih banyak karena terpaksa, semisal ketika menunaikan sholat dan puasa. Bahkan, kadang enggan untuk menunaikannya, ini dalam hal menunaikan zakat.

Namun, ada suatu ibadah yang tidak karena terpaksa justru itu menjadi cita-cita, yaitu pelaksanaan haji. Tidak sedikit orang bercita-cita ingin pergi melaksanaan haji. Ini terbukti dengan fakta antrian pelaksanaan haji. Saking antrinya, di sebagian daerah untuk melaksanakan haji harus menunggu beberapa tahun.

Ironisnya, haji yang seharusnya dilaksanakan dengan niat tulus karena Allah, namun ada sebagian besar orang melaksanakan haji tidak karena Allah, bahkan jauh lebih buruk dari itu. Akibat dari itu, banyak pemahaman masyarakat yang keliru dan itu menjadi paradigma konyol.

1. Gelar haji bagi sebagian orang dianggap sakral
Orang yang seperti ini biasanya merasa dirinya telah mendapatkan gelar mulia dari Allah. Akibatnya, dia sombong dan memamerkannya.

2. Gelar haji dijadikan sebagai pengangkat derajat sosial. Orang yang seperti ini biasanya menganggap bahwa gelar haji dapat menaikkan dirinya ke derajat yang tinggi di tengah-tengah masyarakat. Gampangnya untuk gengsi-gengsian.

3. Gelar haji dijadikan tolak ukur kekayaan seseorang. Orang yang seperti ini melaksanakan haji untuk menunjukkan bahwa dirinya termasuk orang yang kaya. Rasanya tidak kaya jika belum melaksanakan haji.

4. Orang yang bergelar haji akan mendapat perlakuan cukup istimewa. Orang yang seperti ini melaksanakan haji hanya ingin mendapatkan perlakuan yang berbeda dari orang yang tidak bergelar haji. Paradigma ini kerap didukung oleh masyarakat, semuanya merasa harus memperlakukan orang yang sudah melaksanakan haji dengan perlakuan yang cukup istimewa.

5. Orang yang bergelar haji merasa ‘wah’ ketika gelar hajinya dicantumkan. Paradigma ini dibuktikan oleh suatu kasus. Suatu ketika ada orang yang sudah melaksanakan haji diundang untuk menghadiri suatu acara, ternyata dia tidak hadir hanya karena gelar hajinya tidak dicantumkan pada surat undangan acara itu. Berarti, gelar haji baginya merupakan sesuatu yang membanggakan atau “wah”. Atau yang seperti kita ketahui di masyaraat, ada orang yang telah melaksanakan haji ketika dia tidak dipanggil dengan gelar hajinya, dia merasa sakit hati, seolah hajinya tidak dihargai.

6. Orang yang melaksanakan haji untuk menepis kemunafikannya. Sepertinya tidak sedikit orang melaksanakan haji hanya untuk menepis kemunafikannya. Hal ini biasanya dilakukan oleh para koruptor untuk menepis anggapan orang-orang, sekiranya ada ungkapan begini: “gak mungkinlah dia koruptor, dia kan mau naik haji”. Ada juga orang ingin menepis kejelekannya di masyarakat, sehingga ada ungkapan: “masa’ sih dia punya ilmu hitam, dia kan udah haji”.

Beribadah tidak karena Allah itu menyebabkan dua hal. Pertama, melaksanakannya menjadi karena terpaksa. Kedua, melaksanakannya karena ada tujuan lain.

Dan, melaksanakan karena ada tujuan lain itu ada dua hal juga. Pertama, meskipun melaksanakannya bukan karena Allah, ada tujuan lain tapi baik. Kedua, selain tidak karena Allah, juga ada tujuan lain yang jelek.

Paling tidak, ketika kita melaksnakan ibadah haji, kita tidak sampai termasuk pada yang terakhir tersebut. Semoga… Amin…

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »