Friday 27th November 2020,

Gemuruh Tepuk Tangan Penonton Tutup Pagelaran Kresna Duta di Hamburg

Gemuruh Tepuk Tangan Penonton Tutup Pagelaran Kresna Duta di Hamburg
Share it

ASWAJADEWATA.COM | Hamburg,

Kresna yang merupakan inkarnasi Dewa Wisnu, dalam perannya ketika berusaha menengahi dan mencegah konflik besar antara klan Pandawa dan Kurawa dengan sebuah misi diplomasi, ditampilkan dengan judul ‘Kresna Duta’ dalam sebuah pagelaran akbar Wayang Orang di kota Hamburg Jerman (2/9).

Sebuah narasi besar mengenai loyalitas, pengabdian, cinta keadilan dan balas budi. Sementara dibalik itu terbungkus pula kisah keserakahan, kebencian, nafsu kekuasaan dan kekerasan. Seluruh kisah besar ini pada akhirnya menyentuh pertanyaan besar umat manusia sejak dulu hingga kini: apa yang bisa menyebabkan terjadinya perang besar yang memusnahkan dan bagaimana cara mencegahnya serta memelihara perdamaian?

Pertunjukan yang sarat dengan nilai-nilai filsafat kehidupan manusia ini ditampilkan dengan sangat megah oleh 60 pemeran dan pemusik khusus didatangkan dari Indonesia. Tidak kurang 500 penonton yang memadati sebuah gedung Opera terkenal di daerah Holstenstrasse, Hamburg dibuat terpukau oleh pertunjukan ini.

Pagelaran wayang orang kali ini adalah yang pertama kali diadakan lagi sejak penampilan terakhirnya 30 tahun silam di Jerman. Tidak banyak dari masyarakat Jerman mengenal kesenian khas Indonesia satu ini. Oleh karenanya sebelum pertunjukan ini diadakan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaaan RI telah mengawali dengan mengadakan beberapa lokakarya di Jerman untuk mengenalkan kesenian yang kini sangat jarang dapat ditemui bahkan di Indonesia sendiri, dan ternyata mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat di Jerman. Saat ini terhitung hanya ada tiga rumah teater yang menggelar pertunjukan wayang orang secara teratur di Indonesia, yaitu di Jakarta, Solo, dan Semarang.

Melalui pagelaran besar di Jerman ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menjadi penanggung dana terbesar tampaknya berharap, tradisi Wayang Orang juga bisa bangkit lagi di Indonesia, jika publik di Indonesia menyadari bahwa atraksi ini mampu memukau hadirin internasional. Duta Besar RI di Jerman, Arif Havas Oegroseno membuka acara malam itu dengan ajakan kepada penonton dan para tamu undangan dari korps konsulat asing yang hadir untuk menikmati “atraksi besar ini, yang juga sarat dengan pesan-pesan aktual”.

Foto: Bettina David & Hannan Hadi

Pertunjukkan malam itu dibagi dalam lima adegan, setiap adegan dibuka dengan narasi (pemaparan cerita) oleh pemeran panggung Antonia Schwingel dalam bahasa Jerman. Uniknya, peran Antonia bukan sebagai narator di belakang layar, melainkan diintegrasikan ke dalam skenario panggung. Dia belajar gerakan-gerakan tarian Jawa dari tim Kresna Duta dan mengenakan kostum penari, lalu muncul di tengah para penari sambil membawakan pengantar adegan. Maka peran sang narator/dalang melebur ke dalam adegan panggung, seperti yang sering terlihat dalam kisah-kisah opera besar. Dengan cara itu, para penonton Jerman dan penonton Indonesia yang tidak bisa mengerti bahasa Jawa juga bisa mengikuti alur setiap adegan dan menikmati atraksi tari di panggung.

Maka tepuk tangan penonton pun menggemuruh, ketika pertunjukkan yang berlangsung hampir dua jam itu berakhir pada larut malam.

“Tujuan dan harapan kami dengan pagelaran dan workshop-workshop ini adalah untuk  mengangkat kembali popularitas kesenian wayang orang, di kalangan masyarakat indonesia sendiri, sekaligus mempromosikan budaya Indonesia kepada masyarakat Jerman,” kata Konsul RI di Hamburg, Bambang Susanto.

Perhelatan yang diadakan atas prakarsa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI bekerjasama dengan KJRI Hamburg dan KBRI di Berlin beserta Yayasan Paramarta Karya Budaya di Jakarta, Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia (IASI) Jerman, dan Diaspora Indonesia di Bremen ini akan melanjutkan pertunjukan di kota Hannover dan Bremen setelah Hamburg.

sumber: dw.com

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »