Saturday 28th November 2020,

Gus Fayyadl Tanggapi Fatwa MUI Larang Ucap Salam Agama Lain

Gus Fayyadl Tanggapi Fatwa MUI Larang Ucap Salam Agama Lain
Share it

ASWAJADEWATA.COM | Baru-baru ini, umat muslim Indonesia kembali diramaikan dengan adanya fatwa MUI Jatim agar pejabat muslim tak mengucapakan salam agama lain. Karena hal itu bagi MUI Jatim perkara baru yang berarti bid’ah. Bahkan, fatwa MUI Jatim ini disetujui oleh MUI Pusat.

Menanggapi hal tersebut, Gus Mohammad Al-Fayadl salah satu cendikiyawan NU berpendapat, bahwa mengucapkan salam agama lain tidak masalah.

Dalam hal ini, yang perlu dipahami terlebih dahulu adalah kedudukan hukum salam itu sendiri. Apakah masuk pada tataran yang prinsip/aqidah, atau muamalah yang masih bisa diperdebatkan? Apakah mengandung unsur aqidah atau netral dari unsur aqidah?

Menurut Gus Fayyadl, yang sempat mengenyam pendidikan di Universitas Paris (Sorbonne) Perancis, ucapan salam lintas agama tidak masuk pada tataran aqidah, dengan catatan, salam tersebut tidak mengandung unsur aqidah tertentu dan si pengucap salam agama lain meyakini aqidahnya. Selama tidak mengandung unsur aqidah tertentu dan pengucapnya tidak sampai meyakini aqidah itu, salam berarti urusan muamalah.

“Sedang muamalah itu sendiri mubah (diperbolehkan). Pada dasarnya, segala sesuatu dalam muamalah hukumnya mubah, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya,” katanya saat menjawab pertanyaan peserta pada acara Ngaji Kebangsaan di Masjid Nurul Yatim, Badung, Bali, Senin, 11 November 2019.

Beliau mencontohkan kata “shalom” (salam umat Yahudi) yang berarti “salam damai” atau “salam sejahtera” (salam umat Kristen), yang murni merupakan salam, dan tidak mengandung aqidah yang bertentangan dengan Islam. Maka boleh diucapkan oleh seorang Muslim.

Berbeda dengan “salam Kristus” yang meyakini penyaliban Yesus, bertentangan dengan aqidah umat Islam. Maka tidak boleh diucapkan oleh seorang Muslim.

Tapi kalau ditanya salam mana yang lebih utama? “Ialah salam yang terdapat nama Allah dan redaksinya diajarkan Rasulullah,” tambah cucu Alm. KH. Hasan Abdul Wafi dari Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton tersebut.

Reporter: Sagafi
Foto: Jawani
Editor: Dadie W. Prasetyoadi

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »