Wednesday 04th August 2021,

KH. Afifuddin Muhajir, Sosok Kiai Alim yang Tawaduk: Sebuah Kesaksian Personal

KH. Afifuddin Muhajir, Sosok Kiai Alim yang Tawaduk: Sebuah Kesaksian Personal
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Oleh: HM. Misbahus Salam

Pada saat kami masih belajar di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, (1985 – 1997) nama KH. Afifuddin Muhajir sudah Masyhur di kalangan para santri. beliau, pada waktu itu sudah dikenal sebagai “kamus berjalan”, sebuah kata kiasan atas luasnya cakrawala keilmuannya. benar saja, kealiman beliau dalam bidang Ilmu Agama diakui oleh kalangan asatidz dan beberapa kiai pada waktu itu.

Setelah kami pulang ke Jember dan mengabdi di kepengurusan PCNU Jember (1999-2004), nama KH. Afifuddin Muhajir semakin dikenal di kalangan PBNU. Dan pada tahun 2003 KH. Afifuddin Muhajir dapat amanah dari PBNU ke Inggris bersama 12 Kiai yang secara kebetulan kami ikut mendampinginya.

Kami sangat merasakan kealiman beliau saat acara dialog yang diikuti oleh lintas Agama di Masjid Muswque Leicester Inggris dengan tema dialog Mistic and God. Setelah para tokoh tokoh lintas Agama mempresentasikan pemikirannya, kemudian sampai pada gilirannya, Kiai Afif menyampaikan banyak hal seputar Tuhan, dan mistik dalam pandangan agama. spontan para tokoh tokoh lintas Agama itu tepuk tangan dan menerima dengan penuh apresiasi pada pemikiran beliau. sejak itu, kekaguman saya pada beliau makin kuat.

Kami pernah secara bersama dengan beliau masuk struktur pengurus harian PWNU Jawa Timur, Kiai Afifuddin di jajaran Syuriyah dan kami di Tanfdziyah. Beliau aktif hadir ke acara acara rapat dan kegiatan PWNU, sekalipun di Pondok Pesantren Sukorejo banyak amanah, karena kecintaannya pada NU beliau aktif di PWNU.

Ketika KH. Hasyim Muzadi mendirikan ICIS (Internasional Conference of Islamic Scholars) di beberapa forum – forum internasional, Kiai Afifuddin selalu diminta untuk menjadi narasumber.

Sejak beliau sering menjadi pembicara, Kyai Hasyim berpesan secara khusus pada kami agar kondisi kesehatan Kiai Afifuddin di jaga, karena keilmuan yang beliau miliki sangat dibutuhkan oleh NU dan Negara Indonesia. kira-kira begitu komentar Kiai Hasyim Muzadi.

Kami amat sering mendapingi beliau ketika perjalanan ke Jakarta maupun ke berbagai Provensi di Indonesia dalam acara NU maupun Halaqah atau Serasehan Ulama dan Cendikiawan.

Kiai Afifuddin selalu berpenampilan sederhana dengan berkopiah putih dan bersarung. Saat presentasi pun beliau tetap berpakaian ala biasanya, sikapnya tawadu, banyak diam. Tapi ketika pesertanya banyak dari kalangan Ulama dan Cendikiawan ilmu yang beliau miliki sangat nampak mengalir deras lewat argumen-argumen yang disampaikan dengan renyah. dari alasan itu pula kiranya, suatu waktu Emha Ainun Najib menduga bahwa Kiai Afif adalah lulusan al-Azhar Mesir. padahal sejak dulu sampai sekarang Kiai Afif hanya belajar di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

Kiai Afifuddin bila salat selalu mengajak salat berjamaah dan bila malam hari beliau harus sudah istirahat tidak boleh lebih dari jam 21.00 WIB. Kalau sudah lebih dari Jam itu biasanya beliau sulit tidur. Menurut kami itu cara Allah agar beliau selalu bangun tengah malam untuk shalat Tahajjud yang sudah menjadi kebiasaan beliau.

Bila terkait dengan ilmu, Kiai Afifuddin sungguh amat telaten mengajar tanpa harus di tempat khusus. Ini misalnya terjadi bila beliau ke Jakarta. Ada Alumni Sukorejo namanya Achmad Herry Suhairi keturun Cina. Nama Aslinya KHO KIM FUY. nama ayahnya : Kho Nyam Lin Nama Ibunya Bong Nyuk Moy, diambil anak oleh KH. Achmad Khotib Isma’il dan Ibu Hajjah Ruqoyyah, dan di mondokkan di Pondok Pesantren Sukorejo.

Suhairi ini tinggal di Jakarta, mengajar anak-anak santri kampung dan amat sering jemput dan ngantar Kiai Afifuddin di Bandara. Suhairi pasti bawa kitab, yang sering Kitab Jurmiyah. Di atas Mobil, Penginapan, dan di tempat santai Suhairi tashih baca kitab Jurmiyah dan bertanya beberapa hukum Islam. Kiai Afifuddin dengan senang hati melayani, mengajar dan menjawab pertanyaan Suhairi. Perasaan saya sangat jarang dilakukan oleh Ustaz atau Kyai yang sudah kelasnya PBNU.

Setelah Almarhum KHR. Achmad Fawaid As’ad wafat, Kiai Afifuddin yang tidak pernah terlibat dalam politik praktis dan ikut dukung mendukung Capres, Cagub, dan Cabub, kemudian Kiai Afifuddin ikut turun langsung ke Medan kampanye. Bahkan pernah turun kampanye ke Malaysia.

Dukungan yang beliau lakukan banyak melalui tulisan , membuat syair, argumentasi dari Nash Al Qur’an, al-Hadist dan kaidah kaidah Fikih. Misalnya Kyai Afifuddin Muhajir mendukung Jokowi – KH. Ma’ruf Amien (Capres – Cawapres), Ibu Khofifah Indar parawansa – Emil Elistianto Dardak (Cagub – Cawagub Jawa Timur), KH. Salwa Arifin-Irwan Bactiar Rahmat (Cabub-Cawabub Bondowoso) dan dr. Faida, MMR – KH. Abdul Mukit Arif (Cabub dan Cawabub Jember tahun 2015). Alhamdulillah semua yang didukung Kiai Afifuddin berhasil menang.

Dan kami bersaksi dan tahu persis dalam proses dukungan beliau kepada para calon pemimpin tidak ada sama sekali transaksi uang. Bahkan beliau selalu mengingatkan jangan sampai mendukung tokoh untuk menjadi pemimpin karena faktor uang.

Kiai Afifuddin juga tidak seperti umumnya para politisi yang terkadang suka melakukan Black campaign (Kampanye Hitam) pada para pesaingnya. Menjelekkan orang selalu beliau hindari, bahkan bila ada teman bicara beliau yang sudah mengarah pada ghibah beliau sudah tidak banyak merespon.

Beliau sering menyampaikan pada kami, bahwa KHR. As’ad Syamsul Arifin guru utama beliau yang sangat memperhatikan pada perjalanan pendidikan dan keilmuan beliau sejak kecil selalu berjuang dengan cara yg benar. Jadi sangat wajar bila beliau memiliki mutiara ilmu yang banyak mengalir pada santri dan umat.

Sungguh merupakan penghormatan dan penghargaan yang sangat tepat bila Universitas Islam Negeri Wali Songo Semarang memberi gelar Doktor Honoris Causa pada beliau karena murni keilmuan bukan tendensi politik atau lainnya.

ala kulli hal, selamat, Kiai.

(Penulis adalah Pengasuh Yayasan Raudlah Darus Salam Sukorejo Bangsalsari Jember)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »