Friday 06th August 2021,

Kisah Sufi Yang Belajar dari Seekor Anjing

Kisah Sufi Yang Belajar dari Seekor Anjing
Share it

“Semakin berisi, semakin merunduk”, salah satu pepatah yang seringkali kita dengar sebagai nasehat. Pepatah diatas diadopsi dari proses tumbuh kembang tumbuhan padi. Makna dari pepatah tersebut adalah seseorang yang memiliki kelebihan dari orang lain harusnya bersyukur dan rendah hati bukan lantas congkak dan menyombongkan diri.

Salah satu bentuk rendah hati yang paling mudah adalah belajar dari orang lain, bahkan pada hewan sekalipun. Karena tak jarang, orang menjadi sombong hanya karena tak mau menerima Ibrah (pelajaran) dari sosok yang lebih muda atau hina dari dirinya. Padahal banyak pelajaran yang akan kita dapatkan hanya dengan mengamati sebuah fenomena dan menjadikannya sebuah hikmah.Dahulu ada cerita menarik tentang seorang ulama yang belajar dari seekor anjing, yang tak lain adalah sosok Abu Yazid al-Bushtomi.

Suatu malam, Abu Yazid al-Busthomi sedang berjalan sendirian. Tak lama kemudian, ia melihat seekor anjing berjalan ke arahnya. Seolah tak melihat apapun, Anjing itu abai saja sambil lalu berjalan, tidak menghiraukannya. Namun ketika jarak anjing itu makin dekat dan nyaris berpapasan dengannya, Al-Busthomi lantas merespon dengan mengangkat gamisnya, khawatir  akan tersentuh anjing yang najis itu.

Spontan anjing tersebut menghentikan langkahnya dan mulai memandangnya. Entah bagaimana Abu Yazid seperti mendengar anjing berucap pelan padanya namun terdengar, “Tubuhku kering dan tidak akan menyebabkan najis padamu. kalaupun engkau merasa terkena najis, engkau hanya butuh membasuhnya sebanyak 7x dengan air dan tanah, maka najis di tubuhmu itu akan hilang. Namun jika engkau mengangkat gamismu hanya karena menganggap dirimu yang berbaju dan berbadan manusia lebih mulia, dan menganggap diriku yg berbadan anjing ini najis dan hina, maka najis yang menempel di hatimu itu tidak akan pernah bersih walau kau basuh dengan 7 samudera”.

Abu Yazid tersentak diam dan minta maaf. Lalu sebagai bentuk permohonan maaf atas perlakuanya, dia mengajak anjing itu untuk bersahabat dan berjalan bersama. Tapi si anjing itu menolaknya.

“Engkau tidak pantas bersanding dan berjalan denganku. Mereka yg memuliakanmu akan seketika mencemoohmu dan melempariku dengan batu. Aku tidak tahu mengapa orang-orang menganggapku begitu hina, padahal aku sudah berserah diri pada Sang Pencipta dengan wujud ini. Lihatlah, aku juga tidak menyimpan dan membawa sepotong tulang pun, sedangkan engkau masih menyimpan sekarung gandum sebagai bekal milikmu.”

Tak lama kemudian, anjing itu pun berjalan meninggalkan Abu Yazid. Abu Yazid masih tertunduk dan terdiam, “wahai tuhanku, untuk berjalan bersanding dengan seekor anjing ciptaan-MU saja aku tak pantas. Bagaimana aku bisa merasa pantas berjalan dengan-MU, ampuni aku dan sucikan hatiku dari segala hal najis, Ya Allah.”

Ada pepatah arab yang yang artinya : “ambillah hikmah dari manapun asalnya, hal itu tidak merugikanmu meskipun keluar dari mulut seekor anjing”. Makna dari pepatah di atas adalah jangan selalu memandang sesuatu yang dianggap buruk adalah hal yang buruk, karena bisa jadi dari hal yang dianggap buruk itulah muncul sebuah kebaikan.

Allah swt, jelas menegaskan dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 216 :

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ البقرة: 216

Artinya : “Bisa saja kamu membenci sesuatu, padahal hal itu adalah amat baik bagimu dan bisa saja kamu menyukai sesuatu, padahal hal itu adalah amat buruk bagimu”(Q.S. al-Baqarah 216).

Meski anjing dikategorikan sebagai najis, ternyata dipandang  dari pola hidupnya, anjing memiliki nilai-nilai kesalehan. Imam Nawawi dalam kitabnya Kasyifat al-Saja menjelaskan bahwa anjing setidaknya memiliki 10 nilai kesalehan yang patut dicontoh, diantaranya:

  1. Gemar mengosongkan perut. Termasuk sifat orang yang shaleh.
  2. Tidak tidur malam hari kecuali sedikit saja. Termasuk sifat ahli Qiyamul Lail.
  3. Kalaupun sehari ia diusir seribu kali, ia tak akan hengkang dari pintu rumah tuannya. Termasuk sifat orang jujur.
  4. Bila ia mati pantang meninggalkan warisan yang berlebihan. Termasuk sifat zuhud.
  5. Bersedia ditempatkan di daerah paling hina sekalipun. Termasuk sifat ikhlas atas ketentuan Allah.
  6. Memandangi setiap orang yang memandanginya sampai dilemparkan kepadanya sesuap makanan. Termasuk sifat orang yang sabar.
  7. Kalaupun diusir dan dipukul, ia tak akan marah dan dendam pada tuannya. Inilah sifat kesetiakawanan.
  8. Jika tempatnya ditempati oleh orang lain, ia rela berpindah tempat.
  9. Apabila diberi makanan apapun itu, ia rela menerimanya. Termasuk sifat qona’ah.
  10. Apabila bepergian, ia tidak pernah membawa bekal, melainkan seturut kemampuannya. Inilah ciri-ciri orang yang tawakkal kepada Allah.

Alhasil, Dari kisah Abu Yazid dan seekor anjing diatas dapat dipetik beberapa hikmah yaitu Jangan pernah merasa lebih mulia daripada seluruh ciptaan Allah dan Jangan pula merasa lebih baik, lebih terhomat daripada orang lain, karena Allah melihat kalbumu bukan penampilan fisik dan lahirmu. Wallahu A’lam bi al-Shawab

*disarikan dari kitab Tadzkirot Al-Auliya’

Oleh: Muhammad Hakim Mahdhum, S.Ag

Sumber: tanwirulafkar.id

 

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »