Saturday 28th November 2020,

Krisis Menulis di Era Millenial

Dadie W Prasetyoadi April 21, 2019 Reportase No Comments on Krisis Menulis di Era Millenial
Krisis Menulis di Era Millenial
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Denpasar, Sabtu pagi (20/04/19) diadakan seminar dengan tema “Membudayakan Menulis Di Era Milineal” yang bertempat di Aula lt. 2 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Denpasar. Terselenggaranya acara ini disebabkan faktor semangat menulis yang mulai kendor pada kalangan muda atau biasa disebut “Milenial,” sehingga menjadikan keprihatinan tersendiri bagi kalangan mahasiswa khususnya yang tergabung dalam forum penulis mahasiswa (FPM) Sekolah Tinggi Agama Islam Denpasar.

Saat ini, kalangan Milenial lebih suka share atau copas tulisan tak bertuan daripada menulis sendiri tulisan yang layak untuk dipublikasikan. Share dan copas pun terkadang masih serampangan tanpa ada cross check atau meneliti lebih dalam mengenai tulisan tersebut, sehingga tanpa sadar mereka lebih sering menyebarkan tulisan yang sebenarnya tidak layak dikonsumsi masyarakat. Karena alasan itu lah, Mahasiswa STAI yang tergabung dalam FPM terdorong menggelar kegiatan ini dengan mengundang para penulis dan jurnalis ternama di Kota Denpasar. Diantaranya adalah Penulis Buku “Dengan Cintamu Aku Memberi,” yaitu Lailatul Widyati, SH. Jurnalis Senior Tribun Bali, Kambali Zutas, SS serta Wartawan senior I news tv, Natasya Christy Iki, S.S.

Harapan dari kegiatan ini dapat membuka wawasan bagi kaum Milenial khususnya mahasiswa untuk aktif menulis, dengan mengabarkan kebaikan serta menebarkan kemanfaatan bagi masyarakat luas.

Acara dikemas secara sederhana, dengan konsep seminar semi formal yaitu para materi diberikan waktu untuk menyampaikan materi kemudian dilanjutkan dengan dialog, diskusi tanya jawab antara peserta dan narasumber.

Dalam sambutannya, Wakil Ketua III Sekolah Tinggi Agama Islam Denpasar sekaligus Pembina FPM, M. Taufik Maulana, S.Sy, M.HI. menyampaikan beberapa poin diantaranya :

1. Kita harus memulai menulis dalam kondisi apapun terutama kondisi hati galau, paling penting sakit hati. Sakit hati lebih memotivasi untuk menulis. Banyak penulis yang berawal dari sakit hati
2. Menulislah karena uang, tidak sedikit menulis untuk mendapatkan profit.
3. Jika teman-teman sungguh membudayakan menulis jangan sampai membuat makalah hasil copas, karena dari hasil copas berarti bukan menulis

Taufiq juga berharap dengan adanya seminar ini “Mudah-mudahan dapat menghasilkan kader-kader handal dari menulis, sebagai bukti bahwa STAI bisa menghasilkan penulis yang handal.” Ujarnya.

Sementara Ketua STAI Denpasar, Jumari, S.P, M.Pd menghimbau kepada segenap peserta yang hadir untuk benar-benar memanfaatkan seminar ini sebaik mungkin. “Setiap kita meluangkan waktu seperti ini, kita sudah meninggalkan acara lain, maka kita harus bijak mencari kemanfaatan yang sebesar-besarnya.” Paparnya.

Jumari juga menambahkan agar seminar ini bisa dilakukan dengan penuh tanggung jawab serta bisa diikuti sampai akhir dengan seksama dan baik.

“Sebaik-baik manusia ada 2 kunci, berakhlak baik dan berfaedah. Dalam menulis, benar saja belum cukup maka harus dilandasi dengan baik. Maka perlunya disampaikan materi tentang etika menulis dan jurnalis yang baik.” Tandasnya. (MM/DDS)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »