ASWAJADEWATA.COM |
Mendengar kata budaya tentu sudah tidak asing kita mendengarnya, budaya menjadi suatu nilai dalam berkehidupan. Terlebih lagi mengingat kondisi globalisasi saat ini yang perlahan menggeser nilai-nilai budaya yang ada pada lingkungan sekitar. Jika ditelaah lebih lanjut faktor budaya menjadi tolak ukur cara hidup dan tatanan hidup secara bersama, jika demikian tentu sangat bisa dibentuk suatu budaya baru sebagai cara hidup dan tatanan hidup yang menunjang perubahan dan perkembangan lingkungan sekitar kita.
Mungkin saat ini penulis akan memberikan perspektif berbeda mengenai budaya. Budaya sendiri adalah bentuk olah cipta, rasa dan karsa manusia yang dilakukan untuk bertahan hidup dan berkembang secara bersama, kemudian membentuk suatu kebudayaan yang lekat dengan lingkungan kehidupan yang ada. Dengan kata lain kebudayaan setiap lingkungan akan menghasilkan kebiasaan, nilai, benda dan pikiran yang ada pada suatu lingkungan untuk bertahan dan berkembang.
Menilik sejarah penyebaran Islam oleh Ulama Sufi di Indonesia adalah dengan cara menghiasi kebudayaan yang ada pada masyarakat zaman dahulu dengan ajaran Islam melalui syari’at, tarikat, hakikat hingga ke ma’rifat an nya. Oleh karena itu corak Islam di Indonesia sangat berbeda dengan corak Islam yang ada pada negara lain, karena visi Islam di Indonesia yang disebarkan oleh Ulama Sufi berada pada substansi nilai-nilai ajaran Islam hingga ke’arifannya.
Visi Islam di Indonesia adalah menjadi Insan Yang Kamil dengan ajaran kemanusiaan. Islam adalah agama yang fithrah begitupun manusia, manusia adalah makhluk yang fithrah selalu memiliki dorongan untuk menginginkan hal yang baik, benar dan indah, akan tetapi manusia juga selalu memiliki dorongan lain Bernama Nafsu.
Oleh karena itulah visi Ulama Sufi yang menyebarkan Islam dahulu adalah mengajarkan untuk mencapai insan yang kamil yang ‘arif terhadap Islam sehingga manusaia dapat memenangkan fithrah nya dari nafsu nya.
Kemudian ada sedikit cerita tentang jilbab atau kerudung sebelum menjadi trend fashion dan kebudayaan seperti sekarang. Saat ini kita lihat jilbab menjadi sebuah kebudayaan setiap muslimah yang bahkan memunculkan banyak putri-putri hijab tiap tahunnya, dibalik itu semua ada banyak perjuangan untuk menjadikan jilbab sebagai suatu kebudayaan. Menurut cerita Dr. H. Ahmad Subakir wakil rektor 1 IAIN Kediri yang penulis temui ketika tanggal 8 September 2023 kemarin. Beliau menceritakan ketika Tahun 80 an jilbab dianggap suatu hal yang aneh bahkan ketika Sekolah menggunakan jilbab maka akan dikeluarkan dari Sekolah. Menyikapi hal tersebut tokoh-tokoh islam pada saat itu membangun sebuah perubahan agar jilbab menjadi suatu kebudayaan.
Nah sekarang kita akan mulai membahas bagaimana jilbab bisa menjadi suatu kebudayaan seperti saat ini. Ada tujuh faktor yang membuat jilbab bisa menjadi suatu kebudayaan, tujuh faktor tersebut adalah: Ekonomi, Religius, Akademis, Sosial, Kesenian, Geografis dan Teknologi. Tujuh faktor tersebut diolah sedemikian rupa oleh tokoh Islam pada saat itu hingga merubah gaya, cara dan tujuan hidup yang membuat jilbab dapat diterima dan menjadi suatu kebudayaan seperti sekarang.
Sekarang kita coba melihat dalam lingkup luas, tujuh faktor tersebut dapat menjadi penyebab dari perubahan sosial yang ada. Tujuh faktor tersebut dapat merubah cara, gaya dan tujuan hidup dari suatu lingkungan. Lantas jika kita ingin merubah atau menjadikan suatu hal menjadi sebuah kebudayaan yang akan di laksanakan secara bersama oleh lingkungan sekitar kita, patut kita pertimbangkan tujuh faktor diatas.
Sebagai contoh penulis ambil dari kondisi generasi muda NU jika kita menginginkan generasi muda NU menjadi generasi yang intelektual dan berakhlak, setidaknya intelektual dan berakhlak tersebut perlu kita akulturasikan dengan tujuh faktor diatas. Seperti sebuah quotes “Jika kamu menginginkan agar orang pergi berlayar jangan ajari mereka tentang cara berlayar, ajarilah mereka tentang luas dan indahnya lautan”.
Perlunya memahamkan tentang bagaimana intelektual dan akhlak ini dapat memengaruhi tujuh faktor diatas sehingga membuka mindset dari para generasi muda NU untuk merubah cara, gaya dan tujuan hidup dari para generasi muda NU yang diharapkan nanti menghasilkan kebiasaan generasi muda NU yang intelektual dan berakhlak.
Oleh : Moh Fariz Wahyu Abadi | Waka II PW IPNU Provinsi Bali









