Friday 07th May 2021,

Pengaruh Politik Penjajah Belanda dalam Mempertahankan Keaslian Bali

Pengaruh Politik Penjajah Belanda dalam Mempertahankan Keaslian Bali
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Dengan keindahan dan keunikan pulau Bali di masa dahulu maka kemudian menjadi latar belakang adanya ketertarikan pihak penjajah Belanda dari sejak abad XVIII terhadap ke unikan Pulau Bali terutama ketika Belanda mulai menguasai Bali pada tahun 1846 khususnya pada level tingkat para tokoh elit politik pemerintah Belanda untuk mempertahankan keunikan dan keaslian Bali itu, khususnya dari pengaruh luar terutama dari Pulau Jawa dan lainnya.

Para pelaku politik pemerintahan Belanda justeru belakangan terjadi perdebatan serius di antara mereka tentang upaya mempertahankan keaslian pulau Bali yang termasuk di dalamnya upaya survival budaya, tradisi dan sistem kepercayaan penduduknya. Pada hal intinya adalah bagaimana Para Tokoh Belanda berupaya dapat meredam resistensi rakyat Bali yang sedikit lemah dibandingkan dengan penduduk bumi putra di Pulau Jawa.

Dari perdebatan itu ada yang kemudian mengusulkan karena melihat dari aspek politik kewilayahan agar diadakan penggabungan antara Bali, Lombok dan Timor menjadi satu gouvernement besar dalam rangka memperkuat pertahanannya khususnya pengaruh dari Islam di Jawa. Ada juga di antara tokoh-tokoh elit politik pemerintah Belanda yang mengusulkan agar ibu kota Resident Bali dan Lombok dipindahkan ke Makassar oleh karena pengaruh Islam bumi putra Makassar tidak terlalu tajam adanya dibandingkan dengan pengaruh Islam dari Jawa seperti pendapat Julis Couvreur Kepala Kresidenan Timor.

Pendapat lain sebaliknya yaitu dari H.T. Damste kepala Kresidenan Bali dan Lombok mengatakan bahwa justru cara mempertahankan kemurnian Bali adalah dengan cara Bali harus di-kristen-kan oleh para missionaris Belanda melalui jalan memberi ruang kepada mereka dalam rangka pertahanan Bali dari pengaruh Islam secara politis dari pulau Jawa yang dianggap radikal dalam rangka mereka berupaya mengusir keberadaan penjajah.

Memang pada dasarnya tokoh-tokoh penjajah pun sangat besar perhatiannya untuk mempertahankan Bali dengan agama Hindunya sebagai kekuatan yang sarat dengan kebudayaan dan seninya yang cukup langka dan unik di dunia agar terbebas dari pengaruh-pengaruh yang datang dari luar Bali, baik dari Islam maupun dari Kristen sendiri yang umumnya justeru dianut oleh Penjajah Belanda.

Suatu dilema politik bagi mereka karena adanya ketakutan para tokoh-tokoh penjajah terhadap kehadiran radikalisme dan nasionalisme Islam dalam rangka perjuangan mereka yang menentang kehadiran penjajah di tanah airnya. Sementara sebagian tokoh tokoh elit Bali ada juga yang terpengaruh dengan propaganda Belanda untuk menentang pengaruh dari luar yang sebenarnya tidak terlalu berdasar hanya karena langkah apriori Belanda semata.

Dukungan sebagian tokoh pemerintah penjajah Belanda tersebut untuk suatu alasan pertahanan dari pengaruh luar di jaman penjajahan menyebabkan program kristenisasi di Bali lebih berhasil dibandingkan dengan Dakwah Islam, bahkan ada tokoh-tokoh penting di Bali terpaksa masuk agama Kristen misalnya Raja Buleleng Anak Agung Panji Tisna keturunan ke-11 dari Anglurah Panji Sakti, padahal waktu itu dia sudah menjadi ketua Dewan Raja-raja di Bali (Paruman Agung). Demikian menurut Ni Kadek Surpi Aryadharma dalam bukunya Membedah Kasus Konversi Agama di Bali.

Itulah sebabmya maka Kristenisasi jauh lebih terpola dan berhasil di Bali dibandingkan dengan Dakwah Islam di jaman itu yang bahkan oleh pemerintah Belanda sejak tahun 1870 M telah menugaskan missionaris yang bernama Van Deer Tuuk ke Bali untuk mengadakan Kristenisasi kepada penduduk Bali yang sebelumnya menjadi Pastor di Surabaya dan telah berhasil menterjemahkan kitab Injil ke dalam bahasa Bali sejak waktu itu.

Di sisi lain sejak dahulu muballig Islam Bali ( bukan pendatang ) ketika itu sama sekali tidak terlihat dalam kehidupan sosial masyarakat Bali. Jarang kita temukan para muballigh yang aktif mengajak komunitas tertentu dari warga Hindu Bali agar mereka ikut melaksanakan acara tertentu. Kemudian para da’inya mempengaruhi mereka agar masuk Islam seperti halnya yang dilakukakan oleh para Missionaris Kristen di Bali pada jaman penjajahan dahulu.

Memang di antara elit politik penjajah Belanda terjadi saling silang pendapat mengenai penanganan dan penerapan kebijakan sosial politik penjajah terhadap masyarakat Bali yang penuh dengan nuansa keunikan dan langka, baik dari aspek kebudayaannya, tradisi, struktur sosial dan kepercayaannya. Para tokoh penjajah Belanda menginginkan agar Bali terbebas dari pengaruh Islam dari Pulau Jawa yang mereka anggap radikal dalam menentang kehadiran Penjajah di tanah airnya. Mereka sangat khawatir pengaruh Islam masuk dalam masyarakat Bali yang membawa ajaran patriotisme dan nasionalisme yang radikal sehingga nantinya dapat memompa masyarakat Bali untuk senatiasa menentang kehadiran penjajah di tanah Bali. Wallahua’lam bis Shawab.

Oleh: Drs. H. Bagenda Ali, M.M/Penulis Buku AWAL MULA MUSLIM DI BALI

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »