Friday 07th May 2021,

Perjuangan Kemerdekaan dan Karakter Masyarakat Hindu Di Bali

Perjuangan Kemerdekaan dan Karakter Masyarakat Hindu Di Bali
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Sampai pada zaman penjajahan ketika Belanda pertama kali mengusai Bali pada tahun 1846 M, masih banyak kerajaan–kerajaan kecil yang ada di Bali, yang merupakan perwujudan baru akibat runtuhnya kerajaan Gelgel. Bukan hanya delapan kerajaan yang terkenal sebelumnya, yang di dalam sejarah disebut dengan istilah “Asta Negara”. Delapan Kerajaan yaitu Kerajaan Badung, Bangli, Buleleng, Gianyar,  Jembrana, Karangasem, Klungkung dan Tabanan. Akan tetapi masih ada kerajaan-kerajaan kecil lainnya yaitu Kerajaan Mengwi, Sukawati, Taman Bali dan Payangan.

Memang secara teritorial kewilayahan, maka tentu kerajaan Buleleng-lah yang paling luas wilayah kekuasannnya dibandingkan dengan keseluruhan kerajaan-kerajaan lainnya di Bali. Maka wajar saja jika pihak Belanda sendiri memfokuskan sasaran operasi militernya untuk pertama kalinya di pulau Bali untuk menduduki kerajaan Buleleng, dengan estimasi jika Buleleng dapat dikuasai tentu ini menjadi pintu masuk yang sangat strategis dalam menaklukkan Bali secara keseluruhan.

Kemenangan pihak Belanda pada perang Jagaraga di Buleleng adalah langkah awal upaya Belanda menaklukkan Bali secara utuh. Namun dengan perlawanan masyarakat Bali ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ekspektasi pihak Belanda (VOC) untuk menaklukkan Bali seutuhnya ternyata tidak terwujud secara mudah. Untuk menaklukkan Bali secara total membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit dari pihak Belanda. Karena karakter masyarakat Bali yang tidak mau kompromi dengan kehadiran serdadu Belanda yang dipaksakan itu. Banyak perjanjian-perjanjian yang telah dibuat oleh kedua belah pihak, kemudian seringkali dilanggar oleh pihak Masyarakat Bali yang menunjukan bahwa secara fisik mungkin penjajah Belanda bisa menguasainya tapi jiwa dan kata hati mereka tetap menyala-nyala untuk menentang setiap aturan yang dipaksakan oleh pihak Belanda kepada masyarakat Bali.

Kasus penyebab terjadinya perang Puputan Jagaraga di Buleleng dan perang Puputan Badung di Denpasar misalnya, merupakan bukti bahwa masyarakat Bali tetap menjaga harga diri mereka agar tidak mudah diinjak-injak oleh penguasa Belanda yang sewenang-wenang memberlakukan aturan baru sepihak, dengan keinginan menggeser aturan lama masyarakat Bali yang dikenal dengan istilah “Tawan Karang”. Tawan Karang adalah tradisi dan aturan pihak kerajaan di Bali yang harus dihormati oleh pihak Belanda sebagai pendatang. Di mana aturan tersebut menyatakan bahwa “Setiap kapal beserta isinya yang karam dan terdampar di pesisir Bali adalah hak milik Raja setempat”, peraturan yang bedasar konsensus lokal ini tentu tidak disetujui oleh pihak Belanda yang merasa dirugikan akhirnya memicu terjadinya peperangan.

Menurut keyakinan masyarakat Hindu di Bali bahwa ritual “bunuh diri” dalam menghadapi musuh lebih utama dari pada menyerahkan diri kepada keinginan musuh. Karena itulah sejatinya kesatria dalam hidup yang kemudian dikenal dengan istilah “Puputan”. Kata Puput yang punya arti selesai, habis atau mati. Dalam kenyataan perlawanan rakyat Bali terhadap Belanda  benar-benar membuat kewalahan pihak tentara Belanda karena dengan ideologi dan prinsip PUPUTAN itu, maka mereka kemudian menjadi prajurit-prajurit yang berani mati dan tidak akan pernah menyerah jiwa dan raga mereka.

Semangat masyarakat Bali tetap menyala-nyala di medan tempur menghadapi meriam-meriam dan senapan modern yang digunakan oleh pihak musuh. Walaupun pada akhirnya mereka tetap saja gugur sebagai pahlawan karena kekuatan militer yang menggunakan persenjataan modern yang mengakibatkan perlawanan menjadi tidak seimbang. Mereka  memegang teguh prinsip kepada niali-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para leluhur mereka demi kedaulatan dan keutuhan negerinya. Yaitu prinsip yang berbunyi “Nindihin Gumi Lan Swadharmaning Negara” yang berarti membela kebenaran dan keadilan dan “Nindihin Kepatutan” yang berarti berperang sampai ke titik darah terkhir.

Jika kita lihat catatan sejarah perjuangan “PUPUTAN” mereka, yakni mulai dari Perang Puputan Jagaraga di Buleleng pada 19 Apri 1849 M, yang menyebabkan tewasnya Patih Jelantik. Perang Puputan Kusambe di Klungkung pada 25 Mei 1849 M yang menyebabkan tewasnya Jenderal Belanda yang bernama Jenderal Michiels di mana sesuatu yang jarang terjadi di tempat lain. Sampai kepada Perang Puputan Badung pada 20 September 1906 M yang menyebabkan tewasnya Raja Badung I Gusti Ngurah Made Agung dan menandakan jatuhnya wilayah Bali ke tangan Penjajah secara penuh dengan pengorbanan jiwa raga di kedua belah pihak yang tidak sedikit.

Perang yang paling terakhir ialah perang Puputan Margarana yang terjadi pada 20 November 1946 M di Marga Tabanan dalam rangka perjuangan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam peristiwa ini yang menyebabkan tewasnya Pahlawan Nasional Kolonel I Gusti Ngurah Rai selaku Kepala Divisi TKR untuk Sunda Kecil. Bahkan pada saat situasi yang semakin terdesak ketika itu pasukan “Ciung Wanara” dengan instruksi pimpinannya I Gusti Ngurah Rai, agar mereka mengambil langkah “Puputan” yaitu bertempur sampai mati. Sehingga tak satupun dari anggota pasukannya yang ingin menyerah yang mengakibatkan akhirnya pimpinan dan seluruh anggotanya gugur di medan tempur karena dihantam oleh bom dari udara oleh pasukan musuh demi mempertahankan harga diri dan itulah hakikat kesatria dalam hidup.

Maka sesungguhnya serangkaian peristiwa peperangan perlawanan masyarakat Bali yang pernah terjadi di tanah Bali dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan tanah airnya, sebagai peristiwa-peristiwa heroik di atas inilah kemudian menjadi bukti kuat yang menunjukan, bahwa betapa karakter manusia Bali yang sangat gigih tak pernah mau menyerah begitu saja kepada musuh siapapun untuk selamanya meskipun darah tercucur dan nyawa mereka melayang. Wallahua’lam Bis Shawab.

Oleh: Drs. H. Bagenda Ali, M.M/Penulis Buku AWAL MULA MUSLIM DI BALI

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »