Wednesday 04th August 2021,

Puasa dan Hakekat Penciptaan Manusia

Puasa dan Hakekat Penciptaan Manusia
Share it

ASWAJADEWATA.COM | 

Oleh: Muhammad Shofy Zihan, M.H

Puasa yang disyariatkan oleh Allah SWT kepada manusia sudah tentu mengandung maslahat yang tidak tunggal. Kemaslahatan puasa yang sudah berkembang dalam perkembangan technologi di abad modern saat ini tidak hanya berkaitan dengan aktivitas menjalankan agama, akan tetapi juga berkaitan dengan perputaran roda ekonomi, kemaslahatan dari sisi kesehatan, sosial dan lain sebagainya.

Selain itu, melakukan ibadah puasa juga berikatan dengan hakikat proses penciptaan manusia. Manusia diciptakan oleh Allah tercipta dari dua dimensi yang berbeda; Dimensi materi dan dimensi ruhani. Dimensi materi dikaitkan dengan manusia diciptakan dari tanah liat. Sementara dimensi ruhani adalah Allah meniupkan ruh kepada tanah liat itu. Dalam al Quran dijelaskan mengenai proses penciptaan Nabi Adam ini dalam surah al Hijr 26.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”

Selain diciptakan dari unsur materi berupa tanah. Manusia diciptakan juga dari unsur ruh yang ditiupkan secara langsung Allah SWT. Lanjutan surah al Hijr yaitu ayat 29:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِى فَقَعُوا۟ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿٢٩﴾

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”

Dari sini menjadi jelas bahwa manusia diciptakan oleh Allah swt terdiri dari unsur materi dan ruh. Unsur zahir dan unsur batin. Dan unsur jasmani dan unsur ruhani.

Maka, tidak mengherankan dalam diri manusia selanjutnya selalu berkiatan dengan dua hakikat proses penciptaan ini. Disamping manusia memiliki otak, manusia juga memiliki fikiran. Disamping memiliki mata, manusia juga memiliki penghilahatan, disamping memiliki hati dari segumpal darah juga memiliki hati untuk merasa. Disamping juga manusia terdiri dari jasmani yang bisa menua dimakan usia, manusia juga terdiri dari unsur ruhani. Begitu seterusnya.

Manusia dilihat kualitasnya, diukur juga dari dua hakikat penciptaan itu. Jika yang lebih dominan dalam diri manusia adalah unsur materinya atau tanah liatnya maka manusia akan rendah bahkan lebih rendah dari binatang. Allah berfirman dalam al Quran al-Araf, 179:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ ﴿١٧٩﴾

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Namun sebaliknya, jika dalam diri manusia itu lebih dominan unsur ruhani dalam dirinya maka manusia akan menaiki derajat yang lebih tunggi, bisa menyamai derajat malaikat bahkan lebih dari itu. Nabi Muhammad sendiri ketika memasuki ruang sidratul muntaha pada peristiwa isra’ mi’raj tidak mampu dilewati oleh malaikat jibril yang mengantar beliau. Andaikan jibril melewati batas itu maka jibril akan hancur. Sedangkan Nabi Muhammad SAW dapat dan tidak binasa melewati batas itu.

Dalam puasa ramadhan yang kita lakukan pada saat ini salah satu hikmahnya adalah sebuah upaya agar unsur ruhani dalam diri manusia lebih dominan daripada unsur ruhaninya. Kebaikan-kebaikan yang terdapat dalam bulan ramadhan sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW merupakan bukti bahwa puasa ramdhan ini merupakan jalan spiritual yg dilalui oleh manusia agar unsur ruhani dalam diri mereka lebih mendominasi. Sehingga manusia itu akan menjadi pribadi manusia yang berkualitas tidak hanya di hadapan Allah swt akan tetapi berkualitas juga di hadapan manusia.

Dr. Yusuf Qardhawi mengatakan dalam Fiqhu as-Siyam:

وفى الصوم إنتصار للروح على المادة و للعقل على الشهوة

“Puasa itu merupakan cara untuk membantu unsur ruhani dalam diri manusia mengalahkan unsur materi.
Membantu akal untuk mengalahkan keinginan nafsunya.

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »