Saturday 28th November 2020,

Rais Syuriyah NU Kota Denpasar, Negeri Yang Kita Cintai Tidak Menganut Khilafah

Rais Syuriyah NU Kota Denpasar, Negeri Yang Kita Cintai Tidak Menganut Khilafah
Share it

ASWAJADEWATA.COM – Rais Syuriyah PCNU Kota Denpasar KH. Mustafa Al Amin mengawali ceramahnya menyampaikan bahwa silaturrahim ini walaupun sudah pertengahan dzul qa’dah dan tradisi yang kita selenggarakan malam ini tidak ada di Arab. Saat memberikan pengajian Halal Bi Halal dan Pengajian Umum yang bertemakan “Penguatan Karakter Bangsa Melalui Pembinaan Akhlak dan Penanaman Empat Konsesus Kebangsaan” di halaman TPQ Al Hikmah, Sempidi, Badung. (14/7)

Kemudian beliau mengatakan kalau ngajinya terbuka seperti ini tidak ada yang aneh-aneh, seperti rejeban, sya’banan yang ada ngaji seperti ini adalah cinta kepada Negeri ini.

“Diantara kita itu yang harus dikembangkan adalah karakter masyarakat Indonesia adalah masyarakat religius, yang tekun beribadah bagi muslim terlihat pakai songkok, pakai sarung. Umat Hindu yang kita lihat dengan banyaknya upacara, Begitu juga dengan yang Kristen”. Terang Alumni Pon Pes At Tamimi, Lombok Tengah itu

“Untuk itu, umat agama manapun yang melaksanakan ibadat, mereka jangan diganggu. Jadi ga usah grundel. Kita harus berpegang kepada prinsip dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung,” tutur beliau

“Islam yang kita anut di Indonesia adalah Islam moderat bukan Islam radikal. Negeri yang kita cintai ini tidak menganut sistem khilafah, yang kita anut adalah sistem republik Indonesia. Kedua kita kudu guyub rukun, walaupun ada upaya memecah belah diantara sesama, kita tidak mudah goyah. Karena ada istilah makan tidak makan asal kumpul atau dalam istilah Balinya menyama braya,” tegasnya lagi.

Lalu beliau menerangkan bahwa pribadi seorang mu’min itu bicaranya lemah lembut, santun dan kalau tidak tau lebih baik diam. Jangan sampai ujaran kebencian disebar melalui media sosial.

“Dalam kita bermasyarakat dengan saudara kita yang berbeda agama dalam hal ketuhanan tidak boleh kompromi, tapi dalam urusan muamalah kita boleh saling membantu. Mesuka duka ketika acara pernikahan di bali, duka ketika melayat orang yang meninggal itu diperbolehkan,” pungkasnya. (Syah)

 

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »