Friday 27th November 2020,

Tiga Prinsip Dasar Hubungan dalam Berbangsa

Tiga Prinsip Dasar Hubungan dalam Berbangsa
Share it

ASWAJADEWATA.COM – Terdapat sebagian kelompok yang mencoba ingin merusak kebhinekaan di Indonesia. Mencoba mempertentangkan antara keislaman dan kebangsaan. Yang menurut Gus Ulil Abshar, kelompok ini disebabkan kurang pengetahuan. Dan anehnya, kelompok tersebut berlatar orang terdidik dan perkotaan.

“Kelompok yang memusuhi kebhinekaan muncul dari perkotaan dan terdidik,” katanya saat mengisi acara pengajian di Badung, Bali, (7/9).

Padahal menurutnya, ajaran kebhinekaan telah diajarkan oleh ulama-ulama terdahulu, seperti Kiyai Ahmad Shiddiq, Rais Am Syuriah PBNU tahun 1984-1991. Konsep yang dicetuskan olehnya berupa tiga dasar dalam menjalin hubungan.

“Pertama, hubungan sesama muslim. Kedua, hubungan sesama warga Indonesia. Ketiga, hubungan sesama manusia,” jelasnya.

Bagi Gus Ulil, ajaran Kiyai Ahmad Shiddiq dapat ditemukan dari kisah Saidina Ali ketika mengirim surat kepada Gubernurnya di Mesir yang isinya mengingatkan kepada sang Gubernur bahwa hubungan manusia ada yang hubungan sesama agama dan hubungan sesama manusia.

“Pesan Ali padanya, hubungan manusia terbagi dua: hubungan manusia yang seagama dengan kamu, dan hubungan tidak seagama tapi sama-sama manusia,” kisahnya.

Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengamalkannya. Salah satunya seperti yang dicontohkan Gusdur. Ketika ke Bali, yang didatangi oleh Gusdur bukan tokoh-tokoh NU yang ada di Bali, melainkan para tokoh-tokoh Hindu. Alasannya, karena di Bali mayoritas Umat Hindu, dan yang paling penting pertemua Gusdur dengan Tokoh Hindu adalah menitipkan warga Muslim yang ada di Bali.

“Gusdur ketika ke Bali yang disowani bukan tokoh Islam, tapi tokoh-tokoh Hindu. Karena Bali mayoritas Hindu, dan Gusdur menitip umat Muslim,” kisahnya.

Reporter: Rusli

Editor: Dadie W. Prasetyoadi

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »