Tuhan dan Kualitas Feminis

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Email

ASWAJADEWATA.COM |ย 

Laki-laki dan perempuan selalu menjadi subjek yang menarik untuk dikaji, khususnya perempuan dengan segala keistimewaanya. Laki-laki yang dinilai memiliki peran, lebih berkuasa, dan mendominasi dari berbagai segi kehidupan. Perempuan yang dinilai tersubordinat dan kurang mendapat perhatian lebih dari dunia, menjadi semakin tersisih apabila disandingkan dengan laki-laki. Islam sebagai agama yang rahmatan lil โ€˜alamin ย tidak membenarkan akan stratifikasi manusia baik laki-laki atau perempuan.

Islam mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama, hanya saja yang membedakan amal yang dikerjakannya. Tidak ada yang mendominasi dan yang ter-subordinas-i, Islam memberikan sesuai dengan takaran dan kemampuan yang dimiliki oleh makhluk-Nya. Keseimbangan yang diciptakan oleh laki-laki dan perempuan dimana mereka dapat berjalan beriringan tanpa ada yang mendahului satu sama lain.

Tuhan tidak terlepas dari konstruk maskulinitas. Konstruk maskulitas yang melekat ย pada Allah yaitu seperti Maha Besar (Al-Kabiir), Maha Perkasa (Al-โ€˜Aziiz), Maha Pembalas (Al-Muntaqim), Maha Kuat (Al-Qawiy) dan lain-lain. Hal tersebut membuat wajah Allah lebih ditakuti oleh orang-orang. Mereka beribadah pada Allah hanya karena takut akan kegarangan-Nya, takut akan mendapat hukuman dari-Nya, takut akan masuk neraka. Disamping itu banyak argumen yang menggaungkan โ€œAwas! Nanti dimarahi Allahโ€, โ€œKamu kalau tidak sholat, nanti masuk nerakaโ€. Hal tersebut yang membuat Allah ditakuti, bukan disayangi. Sehingga manusia seakan merasa terkekang dalam pengawasan Allah yang menakutkan.

Disamping itu sebenarnya Allah juga memiliki sifat feminis yang jarang disadari oleh manusia. Sifat feminis-Nya seperti Maha Pengasih (Ar-Rahman), Maha Penyayang (Ar-Rahim), Maha Lembut (Al-Latif), Maha Pengampun (Al-Ghafur), Maha Memelihara (Al-Muhaimin), Maha Bijaksana (Al-Hakim). Bahwa sesungguhnya sifat feminis Allah mampu merekatkan hubungan Tuhan dengan hamba-Nya, karena sifat-sifat tersebut mampu membuat orang-orang merasa lebih nyaman dan aman bersama Tuhan.

Kita akan jauh lebih tenang apabila mendengar, โ€œSholat yuk, supaya disayang Allahโ€, โ€œBeramal yuk, supaya mendapat ridho dan rizki Allahโ€. Namun sebagian besar masih banyak kawula yang menerapkan sifat maskulin bukan sifat feminis pada Tuhan. Sehingga masyarakat khususnya โ€˜anak-anakโ€™ menjadi takut pada Tuhan. Padahal adanya Tuhan tidak untuk ditakuti maupun menakuti, melainkan untuk diimani oleh para hamba-Nya.

(Penulis adalah Mahasiswi tingkat akhir FISIP Universitas Udayana-Bali)

diunggah oleh:

Picture of Dadie W Prasetyoadi

Dadie W Prasetyoadi

ADMIN ASWAJA DEWATA

artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »