Wednesday 25th November 2020,

Tuhan dan Kualitas Feminis

Imriatun Muchlisoh September 4, 2019 Keislaman No Comments on Tuhan dan Kualitas Feminis
Tuhan dan Kualitas Feminis
Share it

ASWAJADEWATA.COM | 

Laki-laki dan perempuan selalu menjadi subjek yang menarik untuk dikaji, khususnya perempuan dengan segala keistimewaanya. Laki-laki yang dinilai memiliki peran, lebih berkuasa, dan mendominasi dari berbagai segi kehidupan. Perempuan yang dinilai tersubordinat dan kurang mendapat perhatian lebih dari dunia, menjadi semakin tersisih apabila disandingkan dengan laki-laki. Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin  tidak membenarkan akan stratifikasi manusia baik laki-laki atau perempuan.

Islam mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama, hanya saja yang membedakan amal yang dikerjakannya. Tidak ada yang mendominasi dan yang ter-subordinas-i, Islam memberikan sesuai dengan takaran dan kemampuan yang dimiliki oleh makhluk-Nya. Keseimbangan yang diciptakan oleh laki-laki dan perempuan dimana mereka dapat berjalan beriringan tanpa ada yang mendahului satu sama lain.

Tuhan tidak terlepas dari konstruk maskulinitas. Konstruk maskulitas yang melekat  pada Allah yaitu seperti Maha Besar (Al-Kabiir), Maha Perkasa (Al-‘Aziiz), Maha Pembalas (Al-Muntaqim), Maha Kuat (Al-Qawiy) dan lain-lain. Hal tersebut membuat wajah Allah lebih ditakuti oleh orang-orang. Mereka beribadah pada Allah hanya karena takut akan kegarangan-Nya, takut akan mendapat hukuman dari-Nya, takut akan masuk neraka. Disamping itu banyak argumen yang menggaungkan “Awas! Nanti dimarahi Allah”, “Kamu kalau tidak sholat, nanti masuk neraka”. Hal tersebut yang membuat Allah ditakuti, bukan disayangi. Sehingga manusia seakan merasa terkekang dalam pengawasan Allah yang menakutkan.

Disamping itu sebenarnya Allah juga memiliki sifat feminis yang jarang disadari oleh manusia. Sifat feminis-Nya seperti Maha Pengasih (Ar-Rahman), Maha Penyayang (Ar-Rahim), Maha Lembut (Al-Latif), Maha Pengampun (Al-Ghafur), Maha Memelihara (Al-Muhaimin), Maha Bijaksana (Al-Hakim). Bahwa sesungguhnya sifat feminis Allah mampu merekatkan hubungan Tuhan dengan hamba-Nya, karena sifat-sifat tersebut mampu membuat orang-orang merasa lebih nyaman dan aman bersama Tuhan.

Kita akan jauh lebih tenang apabila mendengar, “Sholat yuk, supaya disayang Allah”, “Beramal yuk, supaya mendapat ridho dan rizki Allah”. Namun sebagian besar masih banyak kawula yang menerapkan sifat maskulin bukan sifat feminis pada Tuhan. Sehingga masyarakat khususnya ‘anak-anak’ menjadi takut pada Tuhan. Padahal adanya Tuhan tidak untuk ditakuti maupun menakuti, melainkan untuk diimani oleh para hamba-Nya.

(Penulis adalah Mahasiswi tingkat akhir FISIP Universitas Udayana-Bali)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »