Thursday 24th June 2021,

Akhlak dalam Ilmu, Diam Jika Ada yang Lebih Ahli

Akhlak dalam Ilmu, Diam Jika Ada yang Lebih Ahli
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Ketika syaikh Izuddin Abdu Salam, Sulthanul Ulama, masuk ke Mesir, Imam al-Munziri menahan diri dari berbicara tentang fikih dan berfatwa, sebab ada syaikh Izuddin Abdussalam. Bukan karena gak paham fikih, cuma beliau lebih menggunakan etika ilmu. Ketika ada yang lebih menguasai sebuah fan ilmu, yang gak lebih menguasai cukup diam.

Syaikh Fauzi mengatakan ketika kita ditanya di bidang yang selain kita tekuni, dan kita bilang gak tahu, tidaklah aib bagi kita. Menjadi aib ketika kita ditanya bidang ilmu yang kita benar-benar tekuni. Artinya, mengatakan gak tahu itu bukan berarti kelemahan, tapi justru kelebihan, karena berarti kita tahu kadar yang dimiliki. Gak cuma sekedar asal jawab.

Saya pernah bertanya kepada Habib Quraish Shihab. “Buku sastra apa yang Habib sarankan kepada kami untuk kami baca agar tulisan mengalir bagus seperti tulisan habib?” beliau menjawab: “Saya tidak tahu. Saya tidak banyak baca sastra. Tulisan saya mengalir karena banyak membaca.” Jawaban tawaduk sekaligus hati-hati sekali. Tidak segan untuk mengatakan tidak tahu. Semoga saya bisa meniru beliau.

Untuk mengukur kadar diri, sebenarnya kita butuh sekali pengakuan. Pengakuan dari orang yang alim atau pakar bidang tertentu. Bukan pengakuan dari orang-orang awam atau orang yang bukan pakar.

Imam Malik minta pengakuan 70 ulama untuk beliau ketika beliau hendak berfatwa, untuk menunjukkan beliau telah pantas berfatwa. Abu Thayyib Mutanabbi mendapat pengakuan dari Imam Wahidi, ketika membenarkan pujian seseorang yang mengatakan bayt ini

هو في شعره نبي ولكن * ظهرت معجزاته في المعاني

Tentu pengakuan dari seorang mufassir yang juga ahli lughah ini menunjukkan bahwa Diwan Mutanabbi benar-benar agung sekali, sekaligus menepis tuduhan-tuduhan miring terkait Mutanabbi.

Sekali lagi, pengakuan itu penting sekali. Bukan untuk sok-sokan atau sombong. Tapi untuk mengukur diri, seberapa jauh kita kadar kita dalam bidang yang ditekuni. Tapi pengakuan itu dari orang alim, bukan dari orang awam.

Entah sejak kapan, menjawab semua pertanyaan itu jadi tanda cerdasnya dan pakarnya seseorang. Ditanya politik jawab. Ditanya ilmu agama jawab. Ditanya sastra jawab. Tiba-tiba menjadi pakar segala hal. Bukan malah menunjukkan kecerdasannya, malah memamerkan kebegoannya.

Saya suka sekali dengan yang dikatakan Habib MQS

“Ada satu etika dalam ilmu. Jangan menjawab satu pertanyaan walau kamu ketahui jawabannya, kalau ada orang yang lebih pandai darimu.”

وإذا ما أجاب كلَّ سؤالٍ * طالبُ فهْوَ أَجهَلُ الجهلاءِ

“Kalau ada thalib yang menjawab apa saja yang ditanyakan kepadanya, maka dia paling bodohnya orang bodoh.”

Oleh: (الشيباني الإندونيسي)

Darrasah, 23 Mei 2021

 

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »