Tuesday 26th October 2021,

Akibat Rendahnya Pemahaman Agama

Akibat Rendahnya Pemahaman Agama
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Kalau berpolitik bukan soal beragama, berbisnis atau berdagang bukan soal beragama, bergaul bukan soal beragama, lalu yang disebut beragama itu yang mana? Sholat, puasa, zakat, haji saja?

Lalu, mengapa pejabat dilantik dan pelantikannya menggunakan kitab suci. Dan sumpahnya pun atas nama Tuhan.

Lalu mengapa masih ada orang yang nyinyir terhadap ustad atau kiyai atau ulama yang bicara koreksi terhadap kekuasaan, pejabat dan politisi.

Jika politisi mengkritik sesamanya dan kekuasaan, boleh lah curiga karena bisa jadi ada kepentingan. Setidaknya begitulah yang diyakini di dunia politik bahwa tidak ada yang abadi kecuali kepentingan. Sehingga motifnya bisa saja lebih kuat pada kepentingan diri atau kelompok daripada sekadar perbaikan.

Namun memisahkan kehidupan dari agama, termasuk politik, itu adalah kemunduran. Meletakkan agama dan politik sebagai hal yang head to head adalah kebodohan. Agama bukan hanya soal aqidah. Agama juga bukan cuma soal ibadah. Yang dipertanggung-jawabkan kelak di hadapan Ilahi bukan hanya soal aqidah dan ibadah seperti sholat dan puasa. Setiap kata dan tindakan setiap orang, baik di kehidupan sosialnya, termasuk ketika mereka berkuasa dan beroposisi di kehidupan politiknya, tidak akan luput dari pertanggung-jawaban kelak.

Justru seharusnya tokoh-tokoh agama, ruhaniawan, cendikiawan, dosen, guru–dan tidak menutup dari semua kelompok itu–punya tanggung jawab untuk memberi koreksi sebagai tanggung jawab keilmuan dan profesi untuk perbaikan bersama dan semua. Perintah amar ma’ruf yang menjadi bagian penting dari agama harus diemban oleh semua orang, apalagi ulama. Pada bagian terdahulu, GNH sudah menceritakan bagaimana ulama menghadapi tantangan dari penguasa dzalim karena tanggung-jawab amar ma’ruf nahi munkar tersebut.

Lah ini masih ada yang aneh jika ada ulama bicara koreksi terhadap kekuasaan.

Kecuali, koreksi itu tanpa informasi dan pengentahuan tentang kekuasaan itu sendiri. Sehingga yang ada bukan koreksi tetapi kebencian. Masih banyak yang didorong oleh perasaan itu.

Dan koreksi terhadap koreksi pun menjadi hal yang wajar selama yang dikedepankan adalah islah dan amar mar’ruf nahi munkar. Dan koreksi orang berilmu terhadap orang berilmu justru menjadi kebaikan. Jadi, lupakan untuk melihat agama hanya soal ibadah. Islam mengenal yang disebut fiqh siyasah, dan itu merupakan bagian tema agama tentang politik dan kekuasaan.

Tapi memang, tidak bisa dipungkiri banyak kelompok tertentu karena rendahnya pemahaman agama justru menyalah-gunakan agama; mengatas-namakan agama agar bisa sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Oleh: Gus Nadirsyah Hosen

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »