Friday 20th May 2022,

Belajar Istikamah: Empat Faktor Kenapa Tidak Bisa Istikamah

Belajar Istikamah: Empat Faktor Kenapa Tidak Bisa Istikamah
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Mewujudkan istikamah memang sangat berat dan sulit. Banyak orang merasa tidak istikamah ketika dia meninggalkan satu waktu saja. Padahal tidak demikian, istikamah itu bukan berarti harus melakukan suatu aktifitas pada satu waktu dan di satu tempat yang telah ditentukan.

Orang yang sudah istikamah melakukan salat duha, dia boleh mengqadha’ dengan salat duha di lain waktu. Ini sebagai bukti bahwa keistikamahan itu bukan berarti harus terus dilakukan pada waktu atau tempat yang telah ditentukan.

Ketika memang kondisinya tidak memungkinkan melakukan aktifitas yang sudah menjadi keistikamahan, silakan saja diganti di waktu yang lain.

Ada beberapa alasan kenapa kita tidak mau/bisa istikamah:

Pertama, bagi kita yang masih tahap belajar istikamah. Mungkin karena masih belum biasa melakukan sesuatu di satu waktu atau tempat yang ditentukan, kita sering lupa, tidak apa-apa dilakukan di lain waktu dengan tetap niat istikamah. Atau, mungkin karena di tahap awal, kita masih digerogoti oleh kemalasan yang kuat sehingga sangat malas untuk melaksanakan aktfitasnya di waktu atau tempat. Tidak masalah ditinggalkan dengan tetap ada semangat untuk melakukan di lain waktu.

Jangan sampai merasa tidak istikamah hanya karena baru satu kali tidak melakukannya. Banyak orang lepas dari istikamah hanya karena tidak melakukan satu kali saja lalu merasa keistikamahannya telah putus. Sehingga, mereka tidak lagi melanjutkan aktivitasnya karena sudah dianggap percuma saja jika tidak melakukan terus menerus di waktu yang tepat.

Kedua, mungkin jika menggunakan istilah istikamah, kita masih merasa bahwa istikamah merupakan tingkatan yang tinggi bagi hamba seperti kita. Ketika mendengar istilah istikamah, kita membayangkan istikamah seolah menjadi sesuatu yang sangat berat karena kita membayangkannya dengan ketidakmampuan fisik yang kadang sakit, hati yang kadang diserang kemalasan, pikiran yang sering dibingungkan oleh banyak masalah, sehingga mengakibatkan kita merasa sangat berat untuk istikamah.

Ketiga, menganggap istikamah itu merupakan maqam yang hanya dimiliki oleh seseorang seperti kiai, ulama atau habaib. Sehingga orang seperti kita yang masih memiliki maqam standart atau awam, merasa tidak pantas atau tidak mampu menyandang gelar ahli istikamah. Semisal ada yang mengatakan, “Kalau orang seperti saya tidak bisa istikamah. Istikamah itu kan maqamnya para kiai, ulama atau habib”. Padahal tidak demikian. Siapa saja pasti bisa istikamah.

Keempat, mungkin alasan lain kenapa kita kadang sangat sulit untuk istikamah, karena apa yang kita istikamahkan banyak dan butuh waktu lama. Nah, dengan demikian, kita perlu mengurangi apa yang kita istikamahkan. Karena inti istikamah itu adalah kesanggupan untuk melakukan sesuatu secara terus menerus. Tidak penting sedikit atau banyak. Terserah mau sebentar atau lama. Yang penting dilakukan dengan rutin. Itu saja. Sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits,

ان رسو ل الله سئل اي العمل احب الى الله؟ قال ادومه وان قل

Rasulullah pernah ditanya, “amal apa yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “amal yang terus menerus, meskipun sedikit” (HR. Muslim)

Oleh: Muhammad Taufiq Maulana

 

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »