Saturday 10th December 2022,

Dzikir Sebagai Penyambung Hati Pada Allah

Dzikir Sebagai Penyambung Hati Pada Allah
Share it

ASWAJADEWATA.COM | GIANYAR

Majelis Dzikir ini bukan mengundang Allah datang. Tapi Allah mengatakan, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu.

Demikianlah yang disampaikan oleh Habib Sayyidi Baraqbah asal Yogyakarta pada Majelis Dzikir & Manaqib Maulidurrasul SAW Selasa (2/8)

Bertempat di Masjid Agung Al-A’la Kabupaten Gianyar, acara ini terselenggara dalam rangka Peringatan Tahun Baru Islam 1444H atas kerjasama PD Al-Khidmah Gianyar, Masjid Agung Al – A’la Kabupaten Gianyar dan Panitia Hari Besar Islam Kabupaten Gianyar.

“Kalian berkumpul ditempat ini untuk bersambung kepada Allah. Seperti HP yang butuh provider untuk menghubungi hp lainnya. Dan lampu yang membutuhkan listrik untuk menyala. Demikian pula hati,” ungkapnya.

Jika tubuh perlu makan, maka hati butuh dzikir kepada Allah. Agar menyalurkan energi ke seluruh tubuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati”

Habib Sayyidi melanjutkan, “Tersambung ini bukan hanya kita yang ada disini. Sambungan yang kuat tak berhenti di Rasulullah SAW saja. Tapi kemudian para sahabat, para pengikutnya, dan sampai pada guru kita K.H. Ahmad Asrori bin Muhammad Utsman Al – Ishaqi.”

“Coba kita liat disana, pada orang – orang yang tidak mengenal dzikir. Mulut diberi nikmat dengan makanan, mata dengan pemandangan, hidung dengan wewangian. Tapi bukan hati mereka tidak. Dan ketika stres, lari ke narkoba, ke maksiat,” jelasnya.

أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”

Umpamanya ketika jari kita terkena sesuatu yang panas maka tubuh pun ikut bergerak, berjingkrak kaget dan menjauh. Dalam menikmati dzikir, mulut menyebut, hati mengingat, maka tubuh tidak akan bisa dikontrol untuk ikut berdzikir. Seperti mulut yang menikmati nikmatnya kopi, sampai kepala pun ikut geleng – geleng.

“Apabila sudah merasakan nikmat dzikir kepada Allah, maka tidak ada batasnya. Tapi puncaknya ialah ketika nyawa meninggalkan tubuh dengan berdzikir. Ini merupakan cita-cita tiap muslim yang ada di dunia,” tutupnya.

Penulis: Agus Surya

Editor: Dadie W. Prasetyoadi

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »