Tuesday 26th January 2021,

Habib Ja’far, dan Arti Jadzb Pada Dirinya

Habib Ja’far, dan Arti Jadzb Pada Dirinya
Share it

ASWAJADEWATA.COM | 

Kabar wafatnya Habib Ja’far bin Muhammad Al kaff Kudus di Samarinda tepat di awal tahun pada hari Jum’at, (1/1/2021) membuat banyak khalayak terkejut. Terutama para pecintanya yang memang sangat banyak dan terdiri dari berbagai kalangan baik masyarakat biasa maupun tokoh-tokoh ulama dan pejabat dari seluruh pelosok Indonesia.

Begitu banyak kesaksian yang menyebutkan bahwa Habib Ja’far diakui sebagai salah satu Waliyullah yang tersisa di tanah Jawa. Bahkan mendiang Gus Dur yang berkawan akrab dengannya dikisahkan pernah mendapat isyarat olehnya bakal menjadi Presiden RI jauh sebelumnya. Ketika itu dalam sebuah pertemuan tak sengaja di sebuah Mall di Jakarta, Habib Ja’far memborong kaset album Obbie Mesakh lalu diberikan kepada Gus Dur sambil menyanyikannya dengan lirik yang diplesetkan.

“Sungguh aneh tapi nyata, orang buta jadi presiden,” begitu senandung Habib Ja’far menirukan lagu berjudul “Kisah Kasih di Sekolah” yang populer sekitar tahun 1987 itu.

Jangankan membayangkan, hubungan Gus Dur dan PBNU waktu itu diketahui tidak harmonis dengan penguasa Orba. Perkataan Habib Ja’far saat itu hanya dianggap sebagai candaan saja, Gus Dur kala itu hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada sahabatnya. Namun peristiwa tersebut tetap tersimpan dalam ingatan Gus Dur hingga beliau naik ke kursi Presiden.

Istilah Majdzub atau jadzb untuk orang yang belum mengetahui dunia tasawuf atau belum belajar tasawuf sama sekali (yang seterusnya disebut orang awam), pasti sangatlah asing dengan istilah ini.

Sebenarnya kita sering melihat fenomena ataupun bersinggungan langsung dengan istilah atau pelaku jadzb, sering orang awam mengatakan, ”kyai koyok wong edan (bahasa jawa yang artinya kiai seperti orang gila)”, atau “wah, wong kae kakean ilmu (agama), trus durung wayahe ngamalke malah diamalke, dadine edan (bahasa jawa yang artinya wah, orang itu terlalu banyak ilmu (agama), belum saatnya diamalkan, justru diamalkan, jadinya gila)”.

Fenomena inilah yang disebut dengan jadzb. Orang yang jadzb disebut majdzub. Pada umumnya majdzub adalah para sufi atau para praktisi tasawuf, atau di dalam dunia tasawuf disebut dengan orang salik dalam menempuh thariqah.

Menurut al-Qusyairi (w. 456 H atau 1072 M) kata wali memiliki dua pengertian. Pertama, berbentuk fa’il dan bermakna fa’ai (pelaku pekerjaan), wali adalah orang yang selalu menjalankan perintah Allah dengan sungguh-sungguh tanpa disertai perilaku maksiat. Kedua, dapat berbentuk fa’il dengan arti maf’ul, dimana wali memiliki arti orang yang selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT.

Sedangkan menurut Cyril Glase, jadzb adalah istilah ketertarikan jiwa-jiwa tertentu kepada Tuhan. Keadaan orang yang mengalami jadzb, berperilaku tidak wajar, seperti orang “gila”, akan tetapi dia memperoleh pengetahuan tentang realitas superior yang datangnya secara tiba-tiba, terkadang keadaan tersebut bisa sementara bisa juga bersifat selamanya.

Majdzub dipakai sebagai istilah bagi orang yang kesadarannya ditarik dari kesadaran manusiawi ke kesadaran Ilahi. Karena memang jadzb arti dasarnya tertarik, sehingga gaya hidup dan pandangan hidupnya sering kali berbeda dengan masyarakat umum. Kehidupan dan cara memandang sesuatu terlihat anti mainstream, khawariq al-‘adat.

Seperti dalam Hadist Rasulullah pun pernah disebutkan orang seperti itu: “Barangkali orang yg berpakaian rombeng dan kumal yg diusir di pintu-pintu rumah itu, bila bersumpah dan berdoa kepada Allah, Dia segera mengabulkannya”, (HR Muslim).

Wali yang dikenal Jadzb memiliki penampilan tidak seperti umumnya ulama, ini oleh sebagian orang diartikan bahwa sang wali tersebut berusaha menyembunyikan statusnya dihadapan orang. Mereka tidak butuh pengakuan manusia dan dunia, hatinya hanya dipenuhi kerinduan dan kecintaan kepada Allah Swt.

Demikian pula Habib Ja’far Al Kaff dengan rambut gondrongnya serta kuku jari tangan yang dibiarkan panjang terlihat jauh dari kesan ulama. Hanya peci hitam yang tak pernah lepas dipakainya lah yang mengesankan dirinya sebagai ulama. Prilaku nyeleneh seperti bagaimana dia sering membuang uang hingga ratusan juta rupiah, sebagai simbol ketidak tertarikannya kepada dunia seringkali membuat orang yang menyaksikannya geleng-geleng kepala. Pemahaman substansi spiritual yang dinamis dan dahsyat dalam dirinya sulit dijangkau akal manusia.

Dan kini Habib Ja’far telah pergi menemui Sang maha Kasih yang selalu dirindukannya, menyisakan kesedihan bagi yang ditinggalkan. Selamat jalan ya Maulana…

Diambil dari berbagai sumber

Penulis: Dadie W. Prasetyoadi

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »