Wednesday 25th November 2020,

Khauf dan Raja’, Memadukan Antara Pesimis dan Optimis

Khauf dan Raja’, Memadukan Antara Pesimis dan Optimis
Share it

ASWAJADEWATA.COM- Jangan tertipu dengan amal kebaikan yang kita lakukan! Seseorang yang melaksanakan banyak amal kebaikan lalu dalam hatinya senantiasa merasa dekat dengan Allah dan merasa aman dari siksa Allah, orang tersebut akan celaka. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mentaati perintah-Nya bukan untuk menuntut balasan dari-Nya. Allah menciptakan manusia untuk beribadah tanpa mengharapkan ombal balik.

Bagaimana dengan pahala yang menjadi balasan bagi seorang hamba yang melaksnakan amal-amal saleh? Ingat! Itu hanya sekedar balasan yang tidak bisa menuntut atau memaksa Allah agar memberikan keputusan sesuai selera kita. Kita sebagai hamba hanya menurut perintah-Nya bukan menuntut keputusan-Nya.

Kemudian bagaimana dengan keharusan seorang hamba merasa dekat dengan Allah? memang harus begitu, dengan kata lain agar kita selalu ingat dan bergantung hanya kepada Allah, bukan untuk merasa aman dari siksa-Nya, apalagi dalam rangka menuntut kehendak Allah dengan seenaknya.

Tentang Dosa-dosa

Jangan merasa terpuruk dengan dosa-dosa yang telah kita perbuat, baik dengan sengaja ataupun tidak sengaja. Seseorang yang sengaja atau tidak sengaja telah melakukan keburukan atau dosa-dosa lalu dia merasa putus asa dari rahmat Allah, orang tersebut telah menjebak dirinya dalam kegelapan. Padahal dosa-dosa seorang hamba sangat kecil bila dibandingkan dengan keluasan ampunan dan rahmat Allah.

Kenapa Allah mengharamkan bunuh diri, atau memasukkan bunuh diri pada kategori dos-dosa yang besar (kabair)? Karena Allah selalu memberi kesempatan pada seorang hamba untuk selalu memperbaiki diri dari kesalahan, membenahi diri dari kekeliruan, dan bertaubat dari dosa-dosa. Jadi, ketika seseorang melakukan dosa bsar, semisal berzina, membunuh orang, merampok, korupsi, (na’udzubillah), dia tetap akan mendapatkan peluang ampunan dan rahmat Allah, selama dia berniat dan bertekad kuat meninggalkan dosa-dosa itu dan mendekat pada Allah dengan cara mentaati perintah-Nya.

Orang yang saleh atau orang yang diterima di sisi Allah bukan orang yang tidak pernah melakukan dosa, melainkan dia yang selalu bertaubat dan bertekad meninggalkan larangan-Nya dan melaksanakan perintah-Nya. Karena pada hakikatnya, tidak ada seorang manusia yang lepas dari dosa-dosa. Sekecil apapun pasti pernah melakukan, entah dengan sengaja ataupun tidak.

Dalam al-Qur’an, Allah menyebut salah satu sifat-Nya adalah menyukai orang-orang yang bertaubat. Kenapa demikian? Karena Allah mengetahui bahwa hamba-hamba-Nya pasti tidak akan terhindar dari dosa. Yang dimaksud dosa tidak hanya dosa-dosa yang tampak kita lihat, tapi ada dosa yang tidak terlihat dan tidak kita sadari. Salah satu yang rawan terjadi, ketika kita merasa saleh sendiri dan menganggap orang lain pendosa, meskipun anggapan kita berdasarkan fakta.

Antara Khauf dan Raja’

Khauf adalah rasa takut atau cemas yang harus ada pada hati seorang hamba. Atau, khauf adalah suatu sifat yang membuat seorang hamba senantiasa takut atau cemas dengan rahmat Allah. Raja’ adalah rasa harap yang juga harus ada pada hati seorang hamba. Atau, raja’ adalah suatu sifat yang membuat seorang hamba senantiasa berharap pada rahmat Allah.

Kedua sifat di atas jika dinisbatkan pada seorang hamba, maka ada hamba yang memiliki sifat raja’ tanpa kahuf, ada hamba yang memiliki sifat khauf tanpa raja’, ada hamba yang memiliki sifat keduanya.

Seorang hamba yang hanya memiliki sifat khauf, dalam menjalani kehidupannya, dia selalu merasa takut dan cemas tidak akan mendapatkan rahmat Allah. jika dia termasuk hamba yang ahli ibadah, bisa saja ibadahnya pupus karena sifat khauf yang menggerogoti hatinya. Sehingga dia enggan untuk menjaga keistiqamahan ibadahnya.

Jika dia termasuk hamba yang tidak istiqamah ibadah atau bahkan meninggalkan semua perintah Allah dan melanggar semua larangan-Nya, dia sangat sulit bertaubat atau sangat sulit untuk kembali ke jalan Allah. karena dia sudah dihantui oleh rasa cemas atau takut tidak akan mendapatkan rahmat Allah. Ketika dia hendak bertaubat, dalam hatinya cemas tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah. Akhirnya dia berkata dengan nada putus asa “ngapain juga aku bertaubat, aku kan sudah durhaka pada Allah. Allah pasti tidak akan menerima taubatku”

Seorang hamba yang hanya memiliki sifat raja’, dalam langkah-langkah kehidupannya senantiasa optimis menjalani ibadahnya. Namun meski demikian, hamba yang hanya memiliki satu sifat ini bisa mengakibatkan dirinya lalai dan sombong. Semisal, jika dia termasuk orang yang ahli ibadah, dia akan selalu merasa aman dari siksa Allah dan merasa dirinyalah yang akan diterima di sisi Allah sebab ibadahnya yang membuat dia selalu memiliki harapan, sementara orang lain dianggap tidak akan diterima di sisi Allah, apalagi orang lain tersebut menurut pandangannya telah durhaka pada Allah.

Jika dia termasuk hamba yang tidak istiqamah ibadah atau bahkan meninggalkan semua perintah Allah dan melanggar semua larangan-Nya, dia akan mengentengkan perintah Allah. sebab dia merasa ada harapan jika dia durhaka pada Allah. Akibatnya, dia gampang melakukan maksiat dan meninggalkan perintah Allah seperti solat. Hamba yang seperti ini berdalih “kalo aku melakukan maksiat, Allah kan pasti mengampuni”.

Lalu bagaimana bisa menjadi hamba yang senantiasa istiqamah di jalan Allah? Jelasnya, meskipun ahli ibadah tidak membuat dirinya sombong dan lalai, meskipun melakukan maksiat tetap memiliki impian untuk kembali pada Allah. Hal itu hanya bisa dilakukan dengan cara sama-sama memiliki sifat khauf dan raja’ secara seimbang.

Ketika melakukan ibadah tetaplah dalam hati merasa takut. Ketika terlanjur melakukan maksiat tetaplah merasa bahwa ada harapan untuk mendapatkan ampunan dan rahmat Allah. karena sesungguhnya, dalam limpahan pahala tetap ada ketakutan dan dalam lumuran dosa tetap ada harapan.

Seorang hamba yang sampai pada keharibaan Allah, dialah yang mampu menyeimbangkan khauf dan raja’ dalam hatinya. Meskipun dia ahli ibadah, dia tetap merasa takut, sehingga membuat dirinya lebih berhati-hati menjaga keistiqamahan ibadahnya. Meskipun dia telanjur melakukan maksiat, dia tetap merasa memiliki harapan untuk mendapatkan ampunan dan rahmat Allah, sehingga dia tidak pernah putus asa untuk selalu membenahi diri, mensucikan hati, dan bertaubat.

Keseimbangan Khauf dan raja’ yang dapat mengantarkan ke tingkat tertinggi di sisi Allah adalah sebagaimana keseimbangan kedua sayap burung ketika terbang mengarungi luasnya langit. Burung-burng itu tidak akan bisa terbang tinggi dan bebas di angkasa, jika ia tidak seimbang ketika mengepakkan kedua sayapnya. Ia bisa terbang bebas dan tinggi karena ia mampu mengepakkan sayapnya dengan seimbang. Jika ia tidak mampu mengepakkan sayapnya dengan seimbang, ia mengepakkannya hanya salah satu dari kedua sayapnya, maka ia tidak bisa terbang tinggi dan bebas, bahkan ia akan terjatuh dan tersungkur ke bumi.

Begitu juga, seorang hamba, ketika dia mampu menyeimbangkan khauf dan raja’nya dalam setiap langkah kehidupan, dia akan sampai pada derajat tertinggi di sisi Allah.

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »