Tuesday 01st December 2020,

Majelis Dzikir Al Khidmah Badung Doa Bersama Peringati Hari Santri 2019

Majelis Dzikir Al Khidmah Badung Doa Bersama Peringati Hari Santri 2019
Share it

ASWAJADEWATA.COM | Bertempat di Masjid Baitul Mustaqim Jimbaran Badung, Sabtu malam digelar rangkaian dzikir dan do’a bersama oleh Majelis Dzikir Al Hikmah.

Kegiatan dzikir dan do’a ini dimaksudkan untuk memperingtati Hari Santri Nasional 2019 yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2019.

Menurut Ustadz Arif salah seorang pengurus Masjid Baitul Mustaqim bahwa rangkaian do’a rutin Majelis Al Khidmah ini baru pertama kali diadakan di masjid tersebut.

Tidak kurang dari 400 jamaah dari berbagai kalangan dan usia hadir pada acara yang dimulai tepat setelah sholat Maghrib itu. Diawali dengan pembacaan Tahlil dan surat Yasiin hingga tiba waktu sholat Isya’. Acara dilanjutkan setelah sholat dengan pembacaan Manaqib dan Maulid.

Terlihat dalam acara ini Rais Syuriah PWNU Bali KH. Noor Hadi Al Hafidz beserta Ketua PWNU Bali KH. Abdul Azis hadir ditengah-tengah undangan. Mereka mengikuti jalannya acara dengan khusyuk hingga akhir.

Setelah rangkaian doa dan sambutan pengurus Al Khidmah Badung serta pengurus Masjid Jami’ Baitul Mustaqim, kemudian dilanjutkan dengan Mauidhotul  Hasanah olek KH. Mohammad Wahdi Alawi, pengasuh Pondok Pesantren Al Fitroh Surabaya.

Dalam ceramahnya, Kiai Wahdi menyampaikan tentang siapakah yang disebut ‘Santri’.

“Santri itu orang pengikut ulama, santri itu orang-orang yang cinta ulama. santri itu orang yang belajar kepada ulama,” kata beliau.

Kiai Wahdi juga bercerita bahwa pada zaman Rasulullah sudah ada orang-orang yang seperti itu. mereka dijuluki Ashabussufah. “Mereka adalah orang-orang yang selalu ingin berada dekat dengan Rasulullah,” tuturnya.

“Mereka adalah orang-orang miskin yang selalu nempel kepada Rasulullah, makan dan bahkan kadang tidur pun ingin selalu dekat dengan Rasulullah. Keinginan mereka adalah untuk belajar lebih banyak tentang Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad pada waktu itu,” jelas Kiai Wahdi lagi.

Menurut Kiai Wahdi tidak ada yang disebut mantan santri, karena seorang santri akan selalu mendekat dan taat kepada para ulama. Ini didasarkan pada firman Allah bahwa para ulama adalah pewaris para Nabi. (dad)

 

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »