Friday 07th October 2022,

Milad Sidogiri 285, Kiai Azaim; Peran dan Kontribusi Sidogiri kepada NKRI dan NU

Milad Sidogiri 285, Kiai Azaim; Peran dan Kontribusi Sidogiri kepada NKRI dan NU
Share it

ASWAJADEWATA.COM | PASURUAN

Pada Milad Sidogiri ke-285, KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy dihadirkan sebagai penceramah. Dalam ceramahnya, sebagaimana yang diposting pada channel you tube Pondok Pesantren Sidogiri, Kiai Azaim menyampaikan tentang peran dan kontribusi Sidogiri kepada kemerdekaan NKRI dan berdirinya jam’iyah Nahdlatul Ulama.

Kiai Azaim mengisahkan, Abah beliau, KH. Dhofir Munawar menjadi saksi sejarah, bahwa di sungai Sidogiri pernah ada satu catatan sejarah penting, yaitu aroma semerbak wangi dari darah syuhada’ masyaikh Sidogiri.

Menurutnya, hal ini merupakan bukti bahwa masyaikh Sidogiri adalah pejuang, pahlawan di negeri ini, di republik yang kita cintai ini, negeri yang sajadah kita beribadah di tempat ini.

Dengan demikian, kiai Azaim melanjutkan, masyaikh Sidogiri telah memberikan keteladanan bahwa membela negeri ini, membela agama, menegakkan kalimat Allah, tidak hanya dengan tinta dan kertas kitab kuning, tetapi jika perlu nyawa sekalipun taruhannya. Maka jangan tanyakan komitmen Sidogiri kepada NKRI.

Lalu, Kiai Azaim juga menceritakan, ketika Kiai Azaim sowan KH. Mas Hasani, tidak banyak yang beliau dawuhkan, beliau mengulang-ngulang tentang Pancasila.

“Disebutkan, bahwa sila pertama ini bernafaskan spiritual qul huwallahu… Ini yang beliau tanamkan kepada kami,” jelasnya.

Selanjutnya, Kiai Azaim bercerita tentang berdirinya NU. Setelah KH. Hasyim Asy’ari mendapatkan izin mendirikan jam’iyah Nahdlatul Ulama dari gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan, untuk mendapatkan konsep dan bentuk organisasinya, Kiai Hasyim Asy’ari mengajak musyawarah para kiai hampir seluruh di negeri ini.

“Termasuk adalah masyaikh Sidogiri yang insyaallah jika tidak salah ingat, di zaman KH. Mas Nawawi Nur Hasan,” paparnya.

Dari sidogiri inilah, Kiai Azaim melanjutkan ceritanya, Sidogiri melengkapi simbol lambang dari jam’iyah terbesar, jam’iyah Nahdlatul Ulama. Sidogiri sekaligus membidani lahirnya jamiyah Nahdlatul Ulama, dan mengusulkan dari lambang jagat bintang songo kemudian tulisan jamiyah nahdlatul ulama. Dari Sidogiri diusulkan ditambahkan tali jagat yang berjumlah 99 sesuai dengan jumlah asmaul husna. Kemudian dawuh masyaikh sidogiri ketika itu, jangan terlalu erat ikatannya.

Kemudian Kiai Azaim menjelaskan, tali jagat yang diikat tidak terlalu erat, seakan ini isyarah bahwa jam’iyah yang beliau (masyaikh Sidogiri) bidani kelahirannya harus memiliki sikap wasathiyyah, moderat. Kemudian, lanjut cerita Kiai Azaim, masyaikh Sidogiri mengutip satu firman Allah swt,
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا

Dari kisah tersebut, kiai Azaim mengajak para santri Sidogiri, “Maka saudara-saudaraku, santri Sidogiri, kita adalah dari masyaikh yang telah memberikan sumbangsih simbol tali jagat dengan pesan moral firman Allah wa’ tashimu… Jadilah kita tali simpul umat, tali simpul Negara Kesatuan RepubliK Indonesoia ini, tali jagat yang memiliki kekuatan spiritual asmaul husna, sebarkanlah semangat wa’tashimu…. Kuatkanlah! jadilah perekat keutuhan negeri yang kita cintai ini di saat sebagain orang, sebagain oknum ingin menghancurkan negeri ini. Semoga senantiasa kita dijaga oleh Allah swt.”

Transkip ceramah oleh: Gus Tama | Editor: Dadie W. Prasetyoadi.

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »