Pemilu 1999 ; Catatan Dibalik Kisah Amuk Massa Rakyat Bali atas Kemenangan Gus Dur

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Email

ASWAJADEWATA.COM |

Oleh: Abdul Karim Abraham

Kalahnya Megawati Soekarno Putri dalam pemilihan presiden pada siding umum MPR di tahun 1999, menimbulkan amuk massa di seluruh Bali. Kekecewaan dan amarah ini memuncak lantaran PDIP yang merupakan pemenang Pemilu secara nasional, terkhusus mendapatkan 79 persen suara di Bali, dikalahkan oleh KH. Abdurrahman Wahid dari PKB, yang merupakan tokoh agama terkemuka, yang berbeda dengan mayoritas pemeluk agama di Bali.

Pelantikan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tahun 1999.

Amuk massa tersebut, menurut catatan Ngurah Suryawan (2010) dimulai di utara pulau Bali, yakni di Kabupaten Buleleng pada tanggal 20 Oktober 1999. Masyarakat yang kecewa dengan kekalahan Megawati membakar kantor DPRD dan Kantor Bupati Buleleng. Keesokan harinya, aksi kembali dilanjutkan dengan membakar kantor instansi pemerintah seperti Kantor Bappeda, Dispenda, Dinas PU, LLAJ.

Di Kota Denpasar, aksi penebangan pohon hampir terjadi di semua ruas jalan, diikuti dengan pembakaran ban-ban bekas dan penjarahan pada toko-toko dan swalayan. Di kompleks perkantoran di kawasan renon, pembakaran berlangsung di Kantor Gubernur yang menyebabkan puluhan mobil pemerintah hangus terbakar. Ribuan massa juga merangsek masuk untuk melakukan penjarahan dengan mengambil komputer, kursi, bangku, mesin ketik, kipas angis, brangkas uang, dan barang lain yang mudah dibawa.

Menurut laporan Balipost tanggal 21 dan 22 Oktober 1999, amuk massa di Kota Denpasar bukan hanya membakar semua fasilitas umum dan kantor instasi pemerintah, tapi juga melempar toko-toko di sepanjang jalan utama Kota Denpasar, diantaranya Jalan Gajah mada, Thamrin, Diponogoro. Sebuah Bank di Jalan Gajah Mada bahkan barangnya dikeluarkan dan dibakar di tengah jalan. Kantor DPD Partai Golkar tak luput dari pelampiasan amuk massa saat itu.

Di Kabupaten Badung, massa mengamuk dan menjebol tembok selatan komplek perkantoran Bupati dan DPRD Badung. Hampir disetiap gedung pemerintah terlihat api dan asap yang terus mengepul. Rumah jabatan Bupati juga menjadi sasaran dari amuk massa ini.

Suasana yang sama terjadi di ujung barat pulau Bali, Kabupaten Jembrana, massa mengamuk dan membakar kantor Bupati Jembrana. Massa juga bergerak membakar rumah dinas Bupati Jembrana, beberapa fasilitas umum dibakar, dan pohon pohon besar dirobohkan terlentang ditengah jalan. Akibatnya, jalur padat Gilimanuk – Denpasar lumpuh total.

Kerugian secara materiil pun sangat mencengangkan. Pemkab Badung saja melaporkan kerugian sebesar 108,9 Milyar, terdiri dari gedung 48,5 Milyar dan isi ruangan 42 Milyar, sisanya fasilitas umum dan kendaraan. Kabupaten Buleleng melaporkan kerugian sebesar 52 milyar yang antara lain berupa gedung 29 Milyar dan kerugian isi ruangan 22 milyar. Adapun Pemerintah Daerah Jembrana mengalami kerugian sedikitnya 8,79 milyar, akibat hancurnya perkantoran milik pemda 21 buah, gedung milik swasta enam buah, dan berbagai fasilitas lainnya.

Amuk massa tersebut akhirnya menyisakan penyesalan. Bali kemudian berangsur pulih dari kekecewaan yang berlebih atas kalahnya Megawati. Banyak pengamat mengatakan amuk massa tersebut karena akumulasi dari berbagai persoalan, terutama pasca reformasi 1998. Namun yang tak kalah pentingnya karena minimnya informasi dan kesadaran berpolitik, dimana pada saat itu fanatisme kepada tokoh individu dan partai begitu menonjol, sehingga kekecewaan meledak menjadi amarah dan kekerasan.

Dan dalam perjalanan waktu, Gusdur yang sebelumnya dibenci oleh sebagian besar rakyat bali karena telah mengalahkan Megawati dalam percaturan politik tahun 1999, kini sosoknya menjadi panutan. Kenapa? Karena Gusdur konsisten menyebarkan nilai nilai kemanusiaan dan melakukan pembelaan kepada kelompok lemah dan minoritas.

(Penulis adalah Ketua PC GP Ansor Kabupaten Buleleng)

 

diunggah oleh:

Picture of Dadie W Prasetyoadi

Dadie W Prasetyoadi

ADMIN ASWAJA DEWATA

artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »