Saturday 28th November 2020,

Sebutan Kakak, Adik dan Kachong, Peninggalan Akulturasi Budaya Negeri Champa

Sebutan Kakak, Adik dan Kachong, Peninggalan Akulturasi Budaya Negeri Champa
Share it

ASWAJADEWATA.COM – Bangsa Champa tinggal di kawasan pesisir Vietnam mulai dari daerah Bien Hoe di utara Saigon sampai ke Porte d’Annam di selatan Hanoi serta sebagian lagi tersebar di Kampuchea. Sebagian sejarawan mengatakan bahwa pengaruh Islam di Champa tidak begitu besar sebelum tahun keruntuhannya pada tahun 1471 Masehi akibat serangan Le Nanh-Ton dari Vietnam. Tetapi persinggungan antara orang-orang Islam dengan orang Champa terbukti sudah terjadi pada abad ke-10 Masehi.

Hubungan yang sudah terjalin lama antara kerajaan-kerajaan di Champa dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara, yang salah satunya terbukti dengan perkawinan Raja Jayasingawarman III dengan Ratu Tapasi, saudari Sri Kertanegara dari Singasari, berlanjut sampai masa Majapahit dengan pernikahan Sri Kertawijaya dengan puteri Champa bernama Darawati yang beragama Islam. Sejak penaklukan ibukota Champa di Vijaya oleh raja Vietnam bernama Le Nanh-ton dan Tanh-ton pada 1446 m, sebagian penduduk Champa mengungsi ke Nusantara.

Kedatangan penduduk Champa beragama Islam ke Nusantara pada pertengahan abad ke-15, setelah jatuhnya Champa akibat serbuan Vietnam dicatat dalam berbagai historiografi. Kehadiaran orang-orang Champa muslim ke Nusantara, selalu dihubungkan dengan proses dakwah Islam yang menurut catatan sejarah serta dipercaya  oleh penduduk, terkait dengan tokoh-tokoh wali keramat asal Champa seperti Syekh Kuro di Karawang, Sunan Ampel di Surabaya, Syech Ibrahim as-Asmaraqandy di Tuban, beserta keturunan mereka yang masyhur dikenal dengan sebutan Wali Songo.

Pada abad ke-15 dan ke-16, para pedagang dari wilayah Cina Selatan dan pesisir Vietnam sekarang (Champa) semakin banyak di jawa dan tempat-tempat lain di Nusantara. Hal itu bermakna, penyebaran Islam di Jawa sedikitnya membawa pengaruh adat kebiasaan dan tradisi keagamaan masyarakat Champa kepada masyarakat di Jawa dan tempat-tempat lain di Nusantara saat itu. Terdapat sejumlah adat kebiasaan yang dianut oleh orang-orang Champa yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, seperti orang-orang Champa memanggil ibunya dengan sebutan “mak“,memanggil saudara yang lebih tua dengan sebutan “kakak“, memanggil saudara lebih muda dengan sebutan “adik“, memanggil anak kecil laki-laki dengan sebutan “kachoa” atau “kachong“, yang rupanya hal tersebut terserap ke dalam kebiasaan masyarakat muslim di pesisir Jawa dan tempat-tempat lain di Nusantara.

Hal tersebut bisa kita bandingkan dengan kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang hidup pada masa majapahit. Mereka memanggil ibunya dengan sebutan “ina“, “rena“, “ibu“, memanggil sadara yang lebih tua dengan sebutan “raka“, memanggil saudara yang lebih muda dengan sebutan “rayi“, dan memanggil anak kecil laki-laki dengan sebutan “rare“. Tradisi keagamaan yang dijalankan muslim Champa, seperti peringatan hari kematian ke-3, ke-7, ke-10, ke-30, ke-40, ke-100, ke-1000 setelah kematian seseorang, kenduri, peringatan khaul, takhayul, tabu, terbekti mempengaruhi muslim Nusantara yang sampai saat ini masih menjalankan tradisi keagamaan tersebut.

(Asyhari)

Sumber : Buku Atlas Walisongo, hal 26-31.

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »