Thursday 22nd April 2021,

Surat Wasiat Pelaku Penyerangan Mabes Polri Cerminkan Pandangan Rigid Tentang Islam

Surat Wasiat Pelaku Penyerangan Mabes Polri Cerminkan Pandangan Rigid Tentang Islam
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Belakangan terungkap bahwa ZA, wanita 26 tahun pelaku penyerangan Mabes Polri pada Selasa sore (31/3) meninggalkan surat wasiat untuk keluarganya di rumah.

Wasiat yang ditulis sebanyak dua halaman itu berisi pesan-pesan untuk orang tua dan saudaranya. Diantaranya ZA berpesan agar mereka meninggalkan segala urusan dengan pemerintah, bank, atau sejenisnya. Seperti tertulis disitu agar ibunya meninggalkan pekerjaan yang menurutnya sebagai Dawis dan membantu pemerintah thogut. Serta tak lagi terlibat dengan Bank atau kartu kredit karena itu adalah urusan riba yang diharamkan oleh agama.

“Pesan ZA untuk Mama dan keluarga, berhenti berhubungan dengan bank (kartu kredit) karena itu riba dan tidak diberkahi Allah. Pesan berikutnya agar Mama berhenti bekerja menjadi Dawis yang membantu kepentingan pemerintah thogut,” demikian tulis ZA seperti dilansir dari news.detik.com .

Selain itu ZA juga berpesan agar segenap keluarga tidak usah lagi mengikuti pemilu karena ia menganggap bahwa sistem pemerintahan demokrasi yang dijalankan pemerintah adalah bertentangan dengan hukum-hukum Allah.

“Demokrasi, Pancasila, UUD, pemilu, berasal dari ajaran kafir yang jelas musyrik. ZA nasehatkan kepada mama dan keluarga agar semuanya selamat dari fitnah dunia yaitu demokrasi, pemilu dan tidak murtad tanpa sadar,” tulisnya lagi.

Entah darimana dan bagaiman ZA  memperoleh pemahaman tentang Islamnya itu, namun harus diakui bahwa itu sepertinya sudah cukup baginya atau sebagian orang lain untuk menjustifikasi kebenaran tindakan kekerasan atau teror yang beberapa hari ini kembali marak di Indonesia, seperti yang telah dilakukannya sendiri sore itu.

Beginilah pemahaman tekstual yang tanpa dibarengi kemampuan mencernanya sudah barang tentu akan memunculkan pandangan rigid terhadap agama. Penguasaan bahasa Arab, termasuk sastra dan ilmu-ilmu pendukung lain serta sejarah-sejarah yang mendasari turunnya ayat atau asbabul nuzul menjadi suatu hal yang penting dan mutlak dimiliki untuk menafsirinya, agar tidak mudah terjerumus kepada jebakan nafsu duniawi dalam memahaminya.

Memang, sering dikatakan bahwa Islam adalah agama yang mudah dan tidak mempersulit umatnya dalam hal ibadah maupun berkehidupan sebagai makhluk sosial, namun demikian lantas tak serta merta kita bisa menjalankannya secara serampangan sesuai kehendak dan nalar kita semata.

Meskipun sudah banyak terjemahan literatur keislaman ditulis dalam bahasa Indonesia, apakah itu berupa buku-buku maupun tulisan-tulisan dalam bentuk digital yang mudah didapatkan di zaman internet ini, tetap saja diperlukan keberadaan seorang pembimbing atau guru yang memiliki kapasitas dan kompetensi jelas yang dapat dipertanggungjawabkan. Baik secara sanad keilmuan yang akademis maupun non akademis.

Sepertinya permasalahan ini merupakan hal yang sudah lumrah terjadi sebagai fenomena perkembangan zaman. Teknologi informasi yang sedemikian canggih saat ini memudahkan setiap orang mengakses segala informasi yang diinginkan, terkadang tak peduli darimana sumbernya, selama sesuai dengan kehendak hatinya, maka dianggap itu sebagai kebenaran.

Disinilah pentingnya membumikan pemahaman Islam Moderat ala kaum nahdliyyin saat ini, yang bagi sebagian kalangan mungkin dipahami bahwa Islam Moderat adalah akal-akalan kelompok ulama yang mengusung kepentingan tertentu, dalam hal ini NU.

Namun hendaknya kembali kita menilik sejarah bagaimana Islam dapat berkembang pesat di Nusantara ini. Sekumpulan ulama di masa awal perkembangan Islam di Nusantara yang kita kenal dengan sebutan Walisongo telah membuktikan bahwa moderasi Islam yang mereka lakukan saat itu membawa dampak positif di setiap aspek kehidupan masyarakat. Simpati dan ketertarikan masyarakat terhadap Islam waktu itu perlahan terbangun dan semakin lama semakin menguat.

Mengapa bisa demikian? kuncinya adalah pendekatan budaya. Walisongo secara bijak dan arif, dengan berbekal kematangan ilmu agama Islam yang bersanad hingga Rasulullah Saw menancapkan ke-tauhid-an lewat pendekatan budaya. Ini dimungkinkan karena mereka memiliki pemahaman Islam moderat yang lengkap dan tuntas, lalu mengimplementasikannya dengan kaidah-kaidah jelas. Baik dalam hal Ibadah, amaliyah maupun muamalah. Persis seperti apa yang telah dilakukan Rasulullah Saw saat berinteraksi dengan penduduk Madinah di awal masa hijriyyah.

Maka karenanya, peran aktif ulama-ulama dengan kematangan pemahaman Islam Moderat warisan Walisongo itu sekarang ini sangat mendesak diperlukan oleh bangsa Indonesia, khususnya bagi umat muslim. Ruang gerak mereka harus dibuka lebar untuk memudahkan umat mengakses ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari tujuan agung diturunkannya agama ini di muka bumi, sebagai Rahmat bagi sekalian Alam.

Penulis: Dadie W. Prasetyoadi

 

 

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »