Sunday 01st August 2021,

The 60 Taloans, Ksatria Dirgantara Indonesia yang Nyaris Terlupakan

The 60 Taloans, Ksatria Dirgantara Indonesia yang Nyaris Terlupakan
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Langit Nusantara pada awal masa proklamasi kemerdekaan belum seperti sekarang. Pesawat-pesawat warisan Belanda hanya teronggok di pangkalan-pangkalan udara militer dan kurang perhatian.

Pemerintah saat itu bukannya tidak melirik pesawat-pesawat tersebut, namun minimnya pengetahuan tentang pesawat dan sangat terbatasnya penerbang yang dimiliki Angkatan Udara menjadi sebabnya.

Sebelumnya telah ada dua generasi penerbang awal di tubuh Angkatan Udara, dikenal sebagai Angkatan 45, dan Angkatan India. Mereka ini adalah pilot-pilot didikan AU waktu itu untuk memenuhi kebutuhan perang, namun jumlahnya sangatlah terbatas, sekitar 30 orang dan mereka tersebar hanya di Jawa dan Sumatra.

Maka di tahun 1950 Kementrian Pertahanan RI membuka pendaftaran bagi pemuda Indonesia yang bersedia dididik sebagai penerbang tangguh dan profesional untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pendaftaran untuk calon pilot itu dibuka lewat pengumuman tertanggal 25 Juli 1950. Antusiasme publik ternyata amat tinggi, dan ratusan pemuda mendaftar. Setelah diseleksi lewat ujian tertulis ilmu pasti, ilmu alam, bahasa Inggris, tes kesehatan, dan wawancara, terpilihlah 60 orang kadet (calon penerbang) yang selanjutnya dikirim ke AS untuk menjalani pelatihan. Merekalah yang dikenal dengan sebutan “The 60 TALOANS”, para calon penerbang eksklusif pertama Indonesia.

Para Kadet Penerbang Indonesia (60 Taloans) tahun 1950 di AS

Diambil dari nama sekolah tempat mereka berlatih, TALOA Academy of Aeronautics yang berlokasi di Bakersfield, California. TALOA sendiri merupakan singkatan dari Transocean Air Lines Oakland Airport.

Enampuluh pemuda Indonesia dari berbagai daerah ini digembleng kurang lebih 1 tahun disana untuk menjadi pilot-pilot handal sesuai standar internasional dan disiapkan untuk menguasai pesawat-pesawat berteknologi modern pada saat itu, baik pesawat tempur maupun komersial.

Cerita menarik dibalik keberadaan mereka di tanah Amerika itu berkisar kehidupan sehari-hari yang sangat berbeda dengan di Indonesia. Disinilah peran Bill Rea sebagai Social Director program pelatihan itu dan istrinya Lilian Rea yang mengenalkan kehidupan masyarakat amerika kepada para kadet ini. Saking dekatnya hubungan keduanya dengan mereka, akhirnya dianggap sebagai orang tua asuh selama menempuh pendidikan. Bill dan istrinya merancang kegiatan mereka dalam bersosialisasi dengan penduduk lokal disaat waktu senggang, sehingga mereka betah dan cepat beradaptasi. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan yang tercipta membangun ikatan sangat kuat diantara mereka, dan terjalin hingga berpuluh tahun setelahnya mereka kembali ke tanah air. Bahkan diteruskan ke anak-anak mereka hingga kini.

Setelah menyelesaikan pendidikan selama kurang lebih setahun, 40 kadet akhirnya dipulangkan ke Indonesia, sementara 20 yang lain melanjutkan selama 6 bulan untuk dilatih menjadi instruktur penerbangan. Kepulangan mereka dibagi ke dalam beberapa rombongan secara bertahap. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kecelakaan pesawat, sehingga kecil kemungkinan ke-60 kadet itu meninggal di saat yang bersamaan.

Kepulangan semua pilot itu tuntas pada bulan Juli 1952. Tidak semua dari mereka akhirnya berkarir di militer, sebagian menempuh jalur di penerbangan sipil baik pemerintah maupun swasta.

Namun dimanapun mereka bertugas, keberadaan mereka diakui membawa perubahan. Kemampuan mereka yang berstandar dunia membawa marwah Indonesia setara di kancah penerbangan internasional.

Tiga di antara mereka berhasil menduduki jabatan Kepala Staf di militer, yaitu Omar Dhani, Sri Mulyono Herlambang, dan Saleh Basarah. Beberapa lainnya menjadi duta besar. Apapun jalur karir yang mereka ambil sesudahnya, ke-60 orang itu merupakan cikal bakal pilot yang berjasa mengembangkan dunia kedirgantaraan Indonesia.

Kini hanya tersisa dua orang dari mereka yang masih hidup, yaitu Steve Kristedja yang bermukim di California dan Hapid Prawira Adiningrat yang tinggal di Tangerang. Sedangkan sisanya diwakili oleh anak-anak mereka dalam meneruskan komunikasi satu dengan yang lain. Atas inisiatif Jeanny Niawati Sugandi putri Alm. Marsma (Pur) Sugandi yang juga alumni TALOA, pada tahun 2012 terbentuklah Paguyuban Putra Putri TALOA. Jeanny berupaya mengumpulkan seluruh anak dari 60 eks Kadet TALOA tersebut.

“Sampai sekarang kami masih kehilangan jejak dari 25 keluarga, belum tau keberadaannya. Saya masih cari terus,” ungkap Jeanny seperti dikutip dari Angkasa News.

Kisah para kadet penerbang Indonesia ini mungkin sedikit mirip dengan film terkenal TOP GUN yang dibintangi Tom Cruise. Dan untuk mengenangnya, Paguyuban Putra Putri Taloan menerbitkan sebuah buku tentang kisah menarik mereka itu.

Buku dengan judul “Kepak Sayap The 60 Taloans Sebuah Kilas Balik” diluncurkan pada tahun 2015. Potongan kisah menarik mereka yang banyak ditulis dalam buku ini tak lepas dari peran Lilian Rea yang kini berusia 94 tahun. Tulisan pengantarnya dalam buku itu cukup menyentuh.

“Ketika saya menulis ini, saya sadar bahwa hanya segelintir dari 60 orang itu yang masih hidup. Sekarang generasi baru yang merupakan anak-anak mereka mencatat sejarah Angkatan Udara untuk cucu-cucu mereka yang tak pernah mereka jumpai.  Saya berdoa untuk anak-anak mereka, dan saya mengingat mereka dengan cinta abadi,” tulis Lillian.

(Disusun dari berbagai sumber)

Penulis: Dadie W. Prasetyoadi
Sumber Foto: Copyright milik Putra-Putri 60 Taloans

 

 

 

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »