Saturday 25th September 2021,

Sembako Barokah; Kepedulianmu Bukti Imanmu

Sembako Barokah; Kepedulianmu Bukti Imanmu
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Wabah Corona ini tidak hanya mengancam nyawa orang yang tertular, bahkan kehidupan manusia yang tidak tertular pun juga terancam. Mungkin orang yang tertular bisa mati karena wabah ini, namun bagi mereka yang tidak tertular bisa mati karena kelaparan.

Kok bisa yang tidak tertular bisa mati karena kelaparan? Mungkin pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan penjelasan. Tetapi lebih sangat jelas dengan dirasakannya bagaimana kondisi ekonomi saat ini karena dampak wabah corona.

Tidak sedikit yang mengeluh tentang kondisi ekonomi saat ini. Sejak Covid-19 mewabah di tengah-tengah manusia, kondisi ekonomi benar-benar terasa menurun darastis. Sehingga bagi masyarakat yang tingkat ekonominya di bawah rata-rata dikhawatirkan tidak bisa makan dan kelaparan.

Ketika sebagian orang, entah itu keluarga, teman, tetangga atau orang yang tak dikenal sekalipun mengalami kondisi kelaparan, maka sudah menjadi tanggung jawab kita yang mampu untuk memperhatikan siapa saja yang mengalami kesulitan hidup, yaitu lapar.

Peduli kepada orang yang membutuhkan bantuan merupakan ajaran Islam yang wajib ditunaikan. Karena Islam sendiri sebagai agama memiliki prinsip hifzhun nafs, yaitu menjaga jiwa manusia. Oleh sebab itu Islam melarang menyakiti dan membunuh tanpa alasan syar’i.

Bahkan kepedulian seorang muslim kepada orang lain berkaitan erat dengan keimanannya. Orang yang beriman pasti memiliki kepedulian pada orang lain. Semakin kuat keimanannya maka semakin kuat pula kepekaannya utnuk peduli kepada siapa saja.

Allah berpesan dalam Alquran,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Beribadahlah kepada Allah dan jangan menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim,  orang miskin, tetangga atau kerabat dekat, tetangga atau kerabat jauh, rekan di perjalanan, Ibnu Sabil, dan kepada budak yang kalian miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan apa yang dia miliki.” (QS. An-Nisa: 36).

Syekh M Nawawi Banten mengaitkan suara kemanusiaan (khsususnya kepedulian) yang disampaikan oleh Syekh Zainuddin Al-Malibari dan hadits Rasulullah SAW riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Syekh Nawawi Banten dalam Qami‘ut Thughyan yang menjadi syarah Manzhumah Syu‘abil Iman mengutip hadits yang berisi semangat kemanusiaan sebagai bentuk kesempurnaan iman seorang Muslim.

 أي الشعبة السابعة والسبعون أن تحب للناس ما تحب لنفسك قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه رواه البخاري ومسلم

Artinya, “Cabang keimanan ke-77 adalah kecintaanmu terhadap orang lain sepenuh cintamu kepada dirimu sendiri. Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak (sempurna) iman salah seorang di antara kamu sebelum kamu mencintai saudaranya seperti saudaranya sendiri,’ (HR Bukhari dan Muslim),” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Qami‘ut Thughyan, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 27).

Dalam Hadits yang lain dinyatakan,

  عَنْ أَنَسٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَــــــــارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Demi Allah, belum beriman (dengan sempurna) seorang hamba hingga ia mencintai tetangganya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” [HR Imam Bukhari dan Imam Muslim]

Dalam riwayat Imam Bukhari kata “tetangga” berbunyi “saudara” (akh). Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya memperhatikan hak tetangga atau saudara sesama. Hal itu dibuktikan dengan pilihan redaksi hadits yang digunakan Rasulullah “lâ yu’minu” (tidak beriman) lalu diikuti syarat untuk memenuhi kesempurnaan iman tersebut dengan berbuat kasih sayang kepada sesama semaksimal mungkin. Hadits ini juga menampilkan pesan secara tegas bahwa hal-hal yang bersifat teologis (keyakinan/iman) seseorang tak bisa dilepaskan begitu saja dengan perilaku keseharian, yakni kepedulian.

Kondisi saat ini merupakan momen penting -ini sekaligus salah satu hikmah wabah corona- untuk lebih menguatkan atau memperbaiki keimanan kita dengan melakukan aksi peduli kepada tetangga, teman, atau orang lain yang membutuhkan bantuan berupa kebutuhan pokok.

Nah, “Sembako Barokah” yang merupakan program kedua dari Satgas NU For Bali Covid-19 menjadi kesempatan penting bagi kita semua untuk menyempurnakan keimanan kita. Program ini sebagai upaya kepedulian terhadap saudara kita yang tengah membutuhkan bantuan karena terdampak Covid-19.

Semoga, program “Sembako Barokah” ini menjadi amal kita semua (khususnya yang terlibat di dalamnya) yang bernilai pahala, serta sekaligus menyempurnakan iman kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan semoga wabah ini segera berakhir dan kita dilindungi oleh Allah Swt. Amin…

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »