Friday 23rd April 2021,

Tahun Baru; Refleksi Membangun Jati Diri

Tahun Baru; Refleksi Membangun Jati Diri
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Oleh: Hazin Ma Leo

Tahun baru setidaknya memberi harapan-harapan baru, setelah setahun sebelumnya kita merangkai cerita penuh makna dan sebentar lagi narasi tersebut akan bermetamormosis menjadi  kenangan-kenangan tersendiri yang  hanya bisa di simpan dalam etalase kaca untuk dijadikan pelajaran dan perbandingan demi memulai tahun penuh pengharapan.

Jika di cermati baik-baik sepertinya pergantian tahun dari 2019 menuju 2020 adalah sebuah upaya untuk selalu introspeksi diri bahwa sisa umur kita sudah semakin berkurang. Yang dahulunya kita asik bermanja ria bermain lumpur dengan tawa riang tanpa beban, lalu mengenal beragam arti kehidupan, mencoba hidup bersosial, merangkai masa depan, hingga pada akhirnya berupaya mengambil keputusan dalam mengakhiri sisa kehidupan.

Sudahkah di antara kita mencoba mengeja satu demi satu bahwa revolusi waktu memang berjalan tanpa harus menunggu seberapa jauh kita melangkah?. Menunggu dan sedikit melambaikan tangan agar kita tanggap terhadap adanya perubahan. Atau kita hanya bersikap abai terhadapnya lalu kembali memulai kebisaan-kebiasaan  lama yang terbingkai di sudut-sudut keramaian dan tak ada satu orang yang ingin melihatnya untuk dikenang dalam keabadian.

Memang rentetan cerita tentang kenangan-kenangan entah sikap putus asa sebab jodoh tak pernah menghampiri, selalu gagal dalam berusaha, atau yang berbuah manis berupa dapat rezeki di siang bolong, di sanjung banyak teman, hingga menduduki jabatan-jabatan yang dimanjakan. Semuanya kini sudah menjadi cerita-cerita masa lalu. Akankah kita akan sama dengan tahun sebelumnya, atau berusaha lebih giat lagi demi meningkatkan produktifitas kerja dan prospek masa depan yang mencerahkan. Semua tergantung kita, tersimpul pada satu titik tentang sejauh mana kita mengambil kebijakan-kebijakan baru, memulai mimpi, dan terpenting jangan pernah kesenangan sesaat harus dibayar mahal dengan sikap yang kurang menghargai terhadap kesempatan demi kesempatan.

Maka moment perayaan tahun baru sebaiknya dijadikan sebagai kesempatan untuk menyusun daftar mimpi masa depan, tentang bermacam agenda yang hendak kita capai. Dan bukan meratapi kembali kenangan-kenangan yang telah usai. Meski tak dapat dipungkiri bahwa di setiap moment pergantian tahun baru, antusiasme masyarakat dalam menyembut peralihan masa sudah terdengar di mana-mana.  Segala atribut dan pernak-pernik tahun baru sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Semua menyambut dengan penuh suka cita.

Dalam sejarah yang terangkum dari berbagai literatur yang ada. Tahun baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM.

Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskkitariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari.

Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli.

Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus. Perayaan Tahun Baru Saat ini, tahun baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristen. Namun kenyataannya, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Dunia.

Terlepas dari sejarah yang menegaskan bahwa perayaan tahun baru merupakan tahun yang dimiliki agama Kristen atau yang lainnya, setidaknya kita mampu menyikapi dengan bijak terhadap perayaan yang hanya satu kali sepanjang tahun. Merayakannya dengan agenda ngumpul bersama keluarga di bibir-bibir pantai, menikmati sajian makanan dan minuman dengan beragam menu yang memanjakan selera bersama teman, atau pula menyaksikan gemerlap kembang api di separuh malam bersama kekasih pujaan adalah sesuatu hal yang wajar dan tak perlu diperdebatkan.

Akan tetapi pelajaran terpenting yang harus kita jalani adalah waktu yang lalu tak akan kembali lagi, semua akan pergi dan menyisakan sebuah tanda tanya besar sejauh mana target masa depan yang sudah kita susun? Semua tergantung sikap kita dalam mengambil keputusan. Leluhur mengajarkan; sopo tekun golek teken (siapa saja yang konsisten mencari tongkat [jalan hidup] akan memenangi kehidupan [sampai di tujuan]). Selamat merayakan tahun baru 2020!.

(Penulis adalah: Ketua PC IPNU Kota Denpasar dan pengajar di TPQ Baitul Muslimin Denpasar Selatan)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »