Friday 14th May 2021,

Ternyata untuk Melawan Khilafah HTI, Cukup Emak-Emak Film Tilik ae

Ternyata untuk Melawan Khilafah HTI, Cukup Emak-Emak Film Tilik ae
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Beberapa hari ini, film “Jejak Khilafah di Nusantara (2020)” (selanjutnya disebut JKN) yang digarap oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tengah viral. Penyebaran JKN dilakukan begitu masif oleh kalangan HTI. Uniknya, sebuah film pendek “Tilik (2018)” mengalahkan pamor dari JKN. Tilik lebih banyak ditonton dan ditanggapi daripada JKN.

Sehari sebelum penayangan JKN pada (20/08/2020), seorang teman menyodorkan undangan kepada saya. Saat membacanya, terlihat organisasi Gerakan Mahasiswa Pembebasan Komisariat Ciputat Raya mengundang Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Jakarta untuk nobar (nonton bareng), sekaligus bedah JKN. Teman saya yang kebetulan salah satu pejabat DEMA, diminta menjadi pemateri, bersanding bersama Nicko Pandawa, selaku sutradara film ini. Tapi dia tidak jadi ikut, gara-gara khawatir dituduh sebagai HTI atau pro Khilafah.

Cerita di atas menunjukkan, begitu rapi dan terstrukturnya aktivis HTI dalam menayangkan JKN. Berdasarkan obrolan dengan teman saya itu, selain bergerak di media sosial, beberapa organisasi pro HTI mengadakan acara nobar dan bedah film. Sepertinya acara ini tersebar di berbagai kampus di Indonesia. Namun, bukannya viral, menyadarkan, dan mencerahkan, sejak awal penayangan, JKN sudah mendapat kecaman dan kritikan di mana-mana, terutama kalangan sejarawan.

Peter Carey, sejarawan Indonesia yang namanya dicatut oleh HTI untuk JKN mengatakan, film ini dibuat tanpa punya pijakan kearsipan sejarah, ini semacam khayalan saja. Azyumardi Azra, Guru Besar Ilmu Sejarah UIN Jakarta, mengatakan tidak ada jejak khilafah di Nusantara seperti dinarasikan dalam film ini.

Menariknya, bersamaan dengan viralnya JKN, Tilik menjadi trending dan perbincangan netizen. Film pendek berbahasa Jawa ini diproduksi oleh Ravacana Films dan didanai oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tilik bercerita tentang segerombolan emak-emak yang bergosip di atas kendaraan truk saat perjalanan menjenguk Bu Lurah mereka di Rumah Sakit. Dalam bahasa Jawa, Tilik berarti menjenguk.

Di tengah gencarnya film JKN, kehadiran Tilik telah mengalihkan perhatian masyarakat. Dalam seminggu ini, Tilik sudah ditonton oleh 11 juta rakyat Indonesia di channel youtube Ravacana Films. Sedangkan film JKN yang menyebar di beberapa channel youtube, jika dijumlahkan, tidak sampai sejuta penonton. Tilik lebih viral daripada JKN, dan secara tidak sadar menjadi kontra bagi JKN.

Tilik bisa viral karena sarat dengan budaya rakyat dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Apa yang ditampilkan dalam Tilik, menunjukkan realita sehari-hari rakyat Indonesia. Karakter-karakter yang ada dalam Tilik, seperti Bu Tejo dan kawan-kawannya ada di keseharian kita. Sementara JKN, dengan mencaplok nama sejarawan dan memperkosa sejarah, tidak menyentuh sisi kehidupan kita.

Saat ini bangsa kita rawan perpecahan. Perbedaan politik terus memecah belah bangsa dan seolah sulit menyatukan kita. Kemarahan, caci maki, dan kebencian bertaburan di mana-mana. Berita hoaks dan sampah informasi mudah saja diterima. Tilik mengajarkan bagaimana kita tidak gampang menerima informasi dan tidak mudah termakan gosip. Kondisi bangsa kita saat ini butuh solusi dan pemecahan masalah, bukan menambah masalah. Hal ini sebagaimana kata Bu Tejo dalam Tilik, “Dadi Wong Ki Mbok Sing Solutif” (jadi orang ya harus solutif). Bukan mengacaukan pemahaman masyarakat dan menyebar propaganda politik.

Melalui Tilik, saya yakin, jika setiap paham yang memecah belah dan menyesatkan kita terus diimbangi dengan narasi damai, dengan sendirinya, paham itu akan tenggelam dalam pojok-pojok sejarah, seperti halnya Tilik memudarkan JKN.

Saya merayakan Tilik sebagai kemenangan kebangsaan karena berhasil mengalahkan JKN yang sarat propaganda ideologis. Pada akhirnya, budaya rakyat biasa mengalahkan doktrin-doktrin, provokasi, dan ajaran transnasional yang tidak cocok dengan keberislaman dan kepribadian masyarakat kita. (dakwahnu.id)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »